By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Tradisi Perang Air Siat Yeh, Sarana Penyucian Diri di Pulau Dewata
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Tradisi > Tradisi Perang Air Siat Yeh, Sarana Penyucian Diri di Pulau Dewata
Tradisi

Tradisi Perang Air Siat Yeh, Sarana Penyucian Diri di Pulau Dewata

Anisa Kurniawati
Last updated: 29/12/2024 05:59
Anisa Kurniawati
Share
Foto: Wikimedia commons/ Ebi Triastika
SHARE

Tradisi Siat Yeh mungkin tidak sepopuler upacara adat lainnya di Bali. Tradisi ini dilakukan Masyarakat Desa Adat Suwat di Kabupaten Gianyar, Bali untuk menyambut pergantian tahun Masehi, sekitar 30-31 Desember.

Masyarakat Desa Suwat selalu menggelar Festival Air Suwat dengan puncak acara berupa perang air sebagai simbol mensucikan diri. Festival ini sudah diadakan sejak tahun 2014.

Festival Air Suwat sendiri adalah sebuah tradisi penghormatan terhadap peran air sebagai pemberi kehidupan bagi kehidupan desa. Berbagai rangkaian acara digelar selama festival.

Mulai dari lomba menangkap bebek, tarik tambang, dan adu cepat membawa bubungan berisi lumpur. Puncak festival yakni Mendak Tirta dan Siat Yeh atau dikenal juga sebagai perang air.

Siat Yeh

Dilansir dari berbagai sumber, Siat Yeh berasal dari dua kata yakni Siat atau perang. Maknanya adalah kondisi manusia yang setiap harinya berperang dengan diri dan pikiran sendiri.

Sedangkan Yeh mengandung makna air, sebagai salah satu sumber kehidupan manusia dan harus dijaga serta dihormati.

Melalui Siat Yeh, masyarakat setempat berupaya melawan energi buruk yang bakal merintangi perjuangan mereka menghadapi kehidupan di tahun baru. Siat Yeh biasanya digelar di kawasan catus pata atau perempatan jalan desa.

Prosesi Siat Yeh

Pelaksanaan tradisi ini dimulai dengan pengambilan air di sumber mata air. Desa Suwat sendiri memiliki beberapa sumber mata air yang dianggap suci seperti Tukad Melanggih.

Sumber mata air ini tidak pernah kering. Selain itu selalu diandalkan untuk mengairi persawahan sejak era pemerintahan raja-raja di Kerajaan Gianyar, Bali.

Siat Yeh kemudian dimulai dengan berkumpulnya warga dari empat penjuru mata angin di catus pata. Puluhan gayung warna-warni bak pelangi telah disiapkan panitia untuk dibagi-bagikan kepada peserta perang air. 

Hadir pula unit mobil pemadam api dari Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Gianyar. Kendaraan ini diperlukan untuk membantu menyemprotkan air ke tengah peserta.

Setelah suara kulkul (alat komunikasi yang terbuat dari bambu) dibunyikan, warga desa akan berdatangan. Mereka berkumpul di perempatan desa.

Selanjutnya, persembahyangan dipimpin sejumlah jro mangku di episentrum catus pata desa adat. Sedangkan krama duduk tersebar di empat penjuru arah. Setelahnya, Siat Yeh dimulai. Satu sama lain saling menyiram. 

Sarat Nilai Budaya

Terakhir Festival Air Suwat diadakan yaitu menjelang pergantian 2023 menuju 2024. Festival ke 8 ini mengangkat tema festival tahun itu adalah “Bangkit Bersatu Bersama Air”.

Tradisi ini menarik perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Alasannya bukan hana karena suasananya yang meriah, namun juga sarat nilai budaya. 

Tradisi ini juga sering menjadi bagian dari promosi pariwisata Bali, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga adat istiadat lokal di tengah modernisasi.

Tradisi Siat Yeh bukan hanya sebuah perayaan, tetapi juga sebuah pesan tentang pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

You Might Also Like

Merayakan Natal dalam Tradisi Marbinda di Sumatera Utara

Mantu Poci, Tradisi Unik Memohon Keturunan

Cethingan Simbol Warga Ngampin Menjaga Kerukunan

Menyucikan Gunung dalam Tradisi Adat Masyarakat Sunda

Ritual Tolak Bala di Klenteng Hok Tek Tong Parakan

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Anisa Kurniawati
Content Writer
Previous Article Lalampa, Nasi Ikan Daun Pisang Khas Pulau Sula Maluku Utara
Next Article 5 Destinasi Wisata Lokasi Syuting Film Horor, Berani Berkunjung?
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?