Radhar Panca Dahana adalah sastrawan, esais, kritikus sastra, jurnalis, dan seniman teater. Penyakit gagal ginjal kronis yang dideritanya sempat membuat ia berhenti menulis, sebelum kemudian kembali hingga menghantarkan ia meraih berbagai penghargaan.
Namanya merupakan akronim dari nama kedua orang tuanya, Radsomo dan Suharti. Ia lahir di Jakarta, 26 Maret 1965. Kehidupan masa kecilnya terbilang sangat keras. Sang ayah bahkan pernah difitnah sebagai antek komunis. Ayahnya mendidik semua anaknya dengan penuh kedisiplinan, bahkan cenderung otoriter.
Namun dari semua saudaranya, hanya Radhar yang kerap membangkang dan mendapat hukuman keras. Sifat pemberontak tersebut juga ditunjukan di luar rumah. Sejak SD hingga SMA sifat itu terus berlanjut, ia menolak sistem sekolah, bahkan pernah bertengkar dengan gurunya.
Orang tuanya menginginkannya menjadi seorang pelukis sementara ia amat menyukai teater dan menulis. Saking seringnya mendapat hukuman fisik, Radhar pergi dari rumahnya sekitar akhir tahun 1970.
Bakat menulisnya dikenal sejak kecil. Pada usia 10 tahun, cerpennya yang berjudul “Tamu Tak Diundang” dimuat di harian Kompas. Memasuki masa SMP, ia semakin giat menulis cerpen, puisi, hingga membuat ilustrasi. Beberapa karyanya dimuat di majalah Zaman, dengan nama samaran Reza Morta Vileni.
Baca Juga: Giring Ganesha, Dari Vokalis Nidji Ke Kursi Menteri
Pada akhir tahun 70-an, Radhar memasuki dunia jurnalistik dan mulai merintis karirnya sebagai reporter di Koma (Koran Remaja). Kemudian pada 1977, ia bekerja sebagai redaktur tamu majalah remaja, Kawanku. Saat itu, Radhar mendapat kepercayaan untuk membantu menyeleksi naskah cerpen dan puisi yang masuk.
Pada periode ini, Radhar amat produktif mengarang cerpen remaja. Cerpen karya Radhar Panca Dahana kala itu juga mengisi majalah remaja seperti Gadis, Nona, dan Hai, bahkan majalah dewasa, yakni Keluarga, Pertiwi, dan Kartini.
Karirnya sebagai jurnalis pemula semakin berkembang ketika ia diterima bekerja di harian Kompas. Radhar diminta menulis berbagai macam rubrik, mulai dari olahraga, kebudayaan, pendidikan, berita kota tentang kriminalitas, hingga masalah hukum.
Akan tetapi, pekerjaannya sebagai jurnalis terhenti saat orang tuanya tidak mengizinkan dia untuk bekerja. Radhar kembali ke bangku sekolah, untuk menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA. Ketika itu pula, Radhar mulai merambah dunia teater, ia bergabung dengan Bengkel Teater Rendra.
Selepas SMA, Radhar melanjutkan studi di Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia dan berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 2,5 tahun. Radhar juga berkuliah S2-nya di jurusan Sosiologi di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales pada tahun 1997.
Pada awal tahun 2001, Radhar divonis menderita gagal ginjal kronis. Radhar yang awalnya enggan menulis akhirnya kembali, salah satunya sebuah puisi berjudul Tak Ada Siapa Pun di Situ yang bercerita tentang penyakit yang hinggap di tubuhnya.
Baca Juga: Harry Roesli, Doktor Musik Eksentrik
Sejak itu, ia semakin rajin menulis artikel dan esai tentang budaya di berbagai media. Prestasinya pun semakin bersinar, cerpennya yang berjudul Sepi Pun Menari di Tepi Hari berhasil terpilih menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas.
Karirnya kian melejit, setelah harian Kompas mempercayakannya untuk menulis di beberapa rubrik. Ia juga kerap mendapat undangan untuk membaca puisi di beberapa festival sastra di Eropa maupun menjadi pembicara dalam berbagai forum sastra Internasional seperti di Tokyo, Hongkong, Bangkok, Filipina, Jerman, Prancis, Belgia, Brunei, dan Belanda.
Tak hanya itu, Radhar juga mendirikan sekaligus memimpin sebuah sanggar bernama Teater Kosong, selain memimpin Federasi Teater Indonesia dan Bale Sastra Kecapi. Radhar juga membangun kembali PEN International Indonesia.
Setelah itu ia menyelesaikan studi sosiologinya di Prancis yang dulu sempat tertunda. Dalam kurun waktu itu, Radhar masih menyempatkan diri untuk menekuni hobinya di dunia seni. Kesibukannya juga bertambah dengan menjadi pengajar politik dan akademik di Universitas Indonesia.
Baca Juga: Goenawan Mohammad, Sastrawan ‘Catatan Pinggir’
Selama puluhan tahun, Radhar telah menulis puluhan karya, mulai dari cerpen, esai, buku, puisi, hingga kumpulan drama. Misalnya, “Menjadi Manusia Indonesia” (esai humaniora, 2002), “Lalu Waktu” (kumpulan sajak, 2003), “Jejak Posmodernisme” (2004), “Cerita-cerita dari Negeri Asap” (kumpulan cerpen, 2005), “Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia” (esai humaniora, 2006), “Dalam Sebotol Coklat Cair” (esai sastra, 2007).
Atas pencapaiannya itu, Radhar Panca Dahana banyak mendapatkan penghargaan. Pada 1996, ia terpilih sebagai seniman muda masa depan Asia versi NHK, tahun 2005 ia memenangkan penghargaan sebagai Duta Terbaik Pusaka Bangsa dan Duta Lingkungan Hidup dari Paramadina Award.
Bahkan, TV NHK Jepang pernah membuat dan menyiarkan profilnya. Pada tahun 2007, sastrawan ini menerima Medali Frix de le Francophonie dari lima belas negara berbahasa Prancis. Dua tahun berselang, Radhar dianugerahi Kuntowijoyo Award. Pada tanggal 22 April 2021, Radhar Panca Dahana meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. (Anisa Kurniawati-Sumber: tokoh.id)