Nama Balaputradewa dikenal melalui sebuah prasasti yang ditemukan di Nalanda, Bihar, India. Catatan itu menghubungkan seorang penguasa Suwarnadwipa dengan Raja Dewapaladewa dari Dinasti Pala, yang berkuasa di India timur. Hubungan keduanya menjadi salah satu bukti penting mengenai jangkauan diplomasi Sriwijaya pada abad ke-9.
Prasasti tersebut tidak menceritakan seluruh perjalanan hidup Balaputradewa. Namun, isinya memberi gambaran tentang hubungan antara penguasa Nusantara dan pusat pembelajaran Buddha di India. Dari sumber inilah sejarawan menelaah kedudukan Balaputradewa, latar keluarganya, dan hubungan Sriwijaya dengan jaringan keagamaan Asia.
Prasasti Nalanda dan Nama Balaputradewa
Prasasti Nalanda merupakan lempeng tembaga yang mencatat pemberian dari Raja Dewapaladewa kepada komunitas Buddha di Nalanda. Dalam prasasti itu, Dewapaladewa disebut memberikan pendapatan dari lima desa atas permintaan Balaputradewa, penguasa Suwarnadwipa. Hasil pemberian tersebut digunakan untuk mendukung kehidupan biara, kebutuhan para biksu, dan kegiatan keagamaan.
Suwarnadwipa lazim dihubungkan dengan Sumatra dalam kajian sejarah Nusantara. Karena Balaputradewa disebut sebagai penguasanya dan namanya berkaitan dengan sejarah Sriwijaya, ia dikenal luas sebagai salah satu raja penting kerajaan maritim tersebut. Namun, istilah geografis dalam sumber kuno perlu dibaca sesuai konteks, sebab cakupan nama wilayah pada masa itu tidak selalu sama dengan batas negara modern.
Prasasti Nalanda tidak mencatat tahun penerbitan dalam bentuk tahun Masehi. Penempatannya pada abad ke-9 didasarkan pada konteks pemerintahan Dewapaladewa dan kajian epigrafis. Oleh sebab itu, tahun tertentu yang kerap disebut dalam tulisan populer tidak seharusnya dianggap sebagai tanggal yang secara langsung tercantum dalam prasasti.
Hal yang paling jelas dari sumber ini ialah adanya hubungan antara Balaputradewa dan penguasa Pala. Permintaan yang diajukan melalui utusan, kemudian dikabulkan melalui pemberian pendapatan desa, menunjukkan bahwa hubungan mereka melibatkan komunikasi resmi dan dukungan material. Bukti tersebut lebih kuat daripada dugaan yang mencoba menjelaskan seluruh kebijakan atau kekuatan Sriwijaya hanya berdasarkan satu prasasti.
Asal-Usul dan Hubungan Keluarga
Prasasti Nalanda juga memuat keterangan mengenai garis keturunan Balaputradewa. Ia disebut sebagai putra Samaragrawira dan Tara, serta cucu seorang penguasa Jawa yang dikaitkan dengan Wangsa Syailendra. Keterangan ini menjadikan prasasti tersebut penting bagi penelitian hubungan politik antara Jawa dan Sumatra.
Meski demikian, silsilah yang tercantum dalam prasasti tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh perjalanan politik Balaputradewa. Sejumlah rekonstruksi sejarah menghubungkannya dengan konflik di Jawa dan memperkirakan bahwa ia kemudian memperoleh kekuasaan di Sriwijaya setelah terjadi persaingan dinasti. Rincian proses tersebut masih memerlukan perbandingan dengan prasasti lain dan tidak seluruhnya dinyatakan langsung dalam Prasasti Nalanda.
Salah satu persoalan yang dibahas para sejarawan adalah hubungan Balaputradewa dengan penguasa Jawa pada masa Rakai Pikatan dan Samaratungga. Penafsiran mengenai urutan keluarga serta konflik politiknya berbeda-beda, bergantung pada cara para peneliti membaca prasasti dan menyusun kronologi. Karena itu, cerita bahwa Balaputradewa meninggalkan Jawa akibat kekalahan politik perlu disampaikan sebagai salah satu rekonstruksi, bukan kepastian yang tak terbantahkan.
Pembedaan tersebut tidak mengurangi arti Balaputradewa dalam sejarah Sriwijaya. Justru dengan memisahkan informasi yang benar-benar tercatat dari penafsiran modern, kedudukan tokoh ini dapat dibahas secara lebih hati-hati. Sumber yang tersedia memberikan dasar untuk menghubungkannya dengan Suwarnadwipa dan keluarga Syailendra, tetapi belum cukup untuk memastikan setiap detail perjalanan hidupnya.
Sriwijaya dan Jaringan Pembelajaran Buddha
Hubungan Balaputradewa dengan Nalanda menunjukkan bahwa Sriwijaya tidak hanya terlibat dalam perdagangan laut. Kerajaan ini juga memiliki hubungan dengan lembaga pembelajaran dan komunitas Buddha di luar Nusantara. Dukungan terhadap biara di Nalanda menjadi contoh bagaimana patronase keagamaan dapat menjadi bagian dari hubungan antar-penguasa.
Catatan I-Tsing, biksu Tiongkok yang melakukan perjalanan pada abad ke-7, memberikan konteks lebih awal. Ia menggambarkan keberadaan komunitas Buddha di Sriwijaya dan menyarankan pelajar yang hendak melanjutkan studi ke India untuk terlebih dahulu mempelajari ajaran serta bahasa di sana. Catatan tersebut berasal dari masa sebelum Balaputradewa, sehingga tidak dapat dianggap sebagai laporan langsung tentang pemerintahannya.
Meski berbeda zaman, kedua sumber memperlihatkan hubungan yang berkelanjutan antara Sriwijaya dan dunia pembelajaran Buddha. Catatan I-Tsing memberi gambaran mengenai posisi Sriwijaya pada abad ke-7, sementara Prasasti Nalanda menunjukkan hubungan resmi dengan penguasa India pada abad berikutnya. Keduanya perlu dibaca sesuai konteks masing-masing, bukan digabungkan seolah-olah mencatat satu peristiwa yang sama.
Nalanda sendiri merupakan kompleks biara dan pusat pembelajaran Buddha yang menarik pelajar dari berbagai kawasan. Dukungan penguasa asing terhadap lembaga tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan dapat melintasi batas politik. Bagi Balaputradewa, hubungan dengan Nalanda menjadi bukti keterlibatan dalam jaringan keagamaan yang memiliki jangkauan internasional pada zamannya.
Diplomasi dan Jangkauan Sriwijaya
Sriwijaya dikenal dalam penelitian sejarah sebagai kekuatan maritim yang berhubungan dengan jalur perdagangan Asia. Letak geografis Sumatra memungkinkan kerajaan ini terlibat dalam pelayaran yang menghubungkan Samudra Hindia, Selat Malaka, dan Laut Cina Selatan. Namun, gambaran mengenai wilayah kekuasaan Sriwijaya tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan peta perdagangan atau klaim dalam sumber yang berasal dari masa berbeda.
Prasasti Nalanda memperlihatkan sisi lain dari hubungan tersebut. Balaputradewa dapat menyampaikan permintaan kepada penguasa Pala dan memperoleh dukungan untuk lembaga Buddha di India. Hubungan ini memerlukan komunikasi resmi, sumber daya, dan pengakuan dari pihak yang terlibat.
Perdagangan dan diplomasi keagamaan tidak harus dipertentangkan. Pedagang, utusan, dan pelajar bergerak dalam jaringan Asia yang luas, meskipun tujuan perjalanan mereka tidak selalu sama. Dukungan terhadap Nalanda dapat dipahami sebagai bagian dari hubungan lintas kawasan, tetapi tidak cukup untuk membuktikan bahwa setiap hubungan dagang Sriwijaya berada di bawah kendali langsung Balaputradewa.
Satu prasasti juga tidak dapat menjelaskan seluruh kekayaan, kekuatan armada, atau luas wilayah kerajaan pada masa pemerintahannya. Pertanyaan tersebut memerlukan perbandingan dengan prasasti lain, catatan perjalanan, dan sumber asing yang relevan. Setiap sumber memiliki keterbatasan, sehingga kesimpulan sejarah harus dibangun dari bukti yang saling menguatkan.
Balaputradewa penting dalam sejarah Sriwijaya karena namanya menghubungkan Sumatra dengan jaringan politik dan keagamaan India. Prasasti Nalanda tidak menyediakan biografi lengkap, tetapi memberi bukti konkret tentang hubungan penguasa Suwarnadwipa dengan Raja Dewapaladewa dan dukungan bagi komunitas Buddha. Dari bukti itu, Sriwijaya dapat dipahami bukan hanya sebagai kekuatan maritim, melainkan juga sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan dan diplomasi Asia pada abad pertengahan.
CATATAN REDAKSI
EMMANUS memandang Balaputradewa sebagai tokoh penting untuk memahami hubungan Sriwijaya dengan dunia Asia pada abad ke-9. Prasasti Nalanda memperlihatkan bahwa hubungan kerajaan Nusantara dengan India tidak terbatas pada perdagangan, tetapi juga mencakup diplomasi dan dukungan terhadap kehidupan keagamaan. Bagi EMMANUS, nilai sejarah sumber ini terletak pada keterangan yang benar-benar tercatat, bukan pada cerita tambahan yang belum dapat dibuktikan.
Artikel ini membedakan isi Prasasti Nalanda dari penafsiran sejarawan mengenai asal-usul Balaputradewa dan konflik politik di Jawa. EMMANUS tidak menempatkan dugaan tentang perpindahan kekuasaan atau rincian silsilah sebagai fakta mutlak ketika bukti yang tersedia belum memastikannya. Rujukan utama artikel ini meliputi Prasasti Nalanda, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kajian epigrafi Nalanda oleh Hirananda Sastri, serta penelitian R. C. Majumdar mengenai Wangsa Syailendra di Suwarnadwipa.






