Pulau Nusalaut, bagian dari Kepulauan Maluku, menyimpan berbagai peninggalan sejarah kolonial, salah satunya yaitu Benteng Beverwijk. Bangunan pertahanan ini didirikan Belanda pada abad ke-17.
Benteng Beverwijk dibangun Admiral Verhoeven tahun 1654. Dua tahun kemudian, benteng ini diberi nama Beverwijk oleh De Vlaming, sesuai nama tempat kelahirannya di Amsterdam Utara.
Dulunya benteng ini berfungsi sebagai pusat pertahanan Belanda yang ditempati seorang sersan bersama 20 serdadu serta seorang tabib. Persenjataan benteng ini terdiri dari empat meriam, dan kekuasaannya berada di bawah penguasa Honimoa.
Namun, kondisi geografis benteng ini tidak ideal. Hal ini dikarenakan keterbatasan sumber air bersih. Maka dari itu, para penghuni benteng terpaksa mengambil air dari sumur di tepi pantai, yang uapnya dianggap kurang baik bagi kesehatan.
Saksi Peristiwa Bersejarah
Seiring waktu, Benteng Beverwijk mengalami penurunan fungsi dan mulai terbengkalai.
VOC menilai bahwa pertahanan di kawasan tersebut tidak lagi memerlukan benteng besar dan hanya membutuhkan pos militer kecil. Pada tahun 1817, benteng ini direbut penduduk setempat.
Semua penghuninya dihabisi kecuali seorang kopral Eropa dan dua tentara Jawa. Seiring dengan dikembalikannya kekuasaan Belanda oleh Inggris, Belanda kembali menguasai bangunan ini yang sebagiannya mulai dipugar.
Pada 17 November 1817, peristiwa bersejarah terjadi di benteng ini saat Kapitan Paulus Tiahahu, pemimpin rakyat Nusalaut, dieksekusi disaksikan putrinya Christina Martha Tiahahu.
Pada tahun 1824, Benteng Beverwijk kembali difungsikan sebagai bangunan pertahanan Belanda dan dijaga sekelompok tentara. Namun, pada tahun 1838, benteng ini kembali ditinggalkan.
Benteng ini perlahan-lahan berubah menjadi reruntuhan. Memasuki abad ke-20, hanya sebagian temboknya yang masih berdiri, tertutup semak-semak dan pepohonan.
Baca juga: Melihat Kemegahan Benteng Vredeburg, Saksi Sejarah Yogyakarta
Struktur dan Arsitektur Benteng
Benteng Beverwijk memiliki denah berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 12 x 12 meter. Dindingnya memiliki tinggi sekitar 7,2 meter. Bagian fondasi setebal 2,2 meter, lantai dua sekitar 2,1 meter, dan lantai tiga yakni 1,05 meter.
Struktur benteng ini mirip Benteng Amsterdam yang juga berada di Maluku. Saat ini, yang tersisa dari Benteng Beverwijk berupa bangunan berbentuk persegi dan puing-puing dinding kelilingnya.
Meskipun dalam kondisi tidak utuh, benteng ini tetap menjadi saksi bisu sejarah panjang kolonialisme di Maluku dan perjuangan rakyat setempat melawan penjajahan. Sebagai bagian dari jejak kolonial di Maluku, Benteng Beverwijk merupakan warisan sejarah yang patut dilestarikan.