Pariwisata

Berburu Barang Antik di Pasar Triwindu Kota Solo

Pasar Triwindu, terletak di pusat Kota Solo dekat Candi Mangkunegaran, merupakan surga bagi pecinta barang antik. Pasar yang terdiri dari bangunan dua lantai ini memiliki banyak barang-barang antik, unik, lawas yang memberikan nuansa vintage nan retro. Berada di Jl. Diponegoro, Keprabon, Kec. Banjarsari, Solo, pasar ini hidup dengan daya tariknya yang klasik. Tidak hanya sebagai […]

Oleh Anisa Kurniawati

Berburu Barang Antik di Pasar Triwindu Kota Solo
Foto: wikimedia commons
Diterbitkan

Pasar Triwindu, terletak di pusat Kota Solo dekat Candi Mangkunegaran, merupakan surga bagi pecinta barang antik. Pasar yang terdiri dari bangunan dua lantai ini memiliki banyak barang-barang antik, unik, lawas yang memberikan nuansa vintage nan retro. 

Berada di Jl. Diponegoro, Keprabon, Kec. Banjarsari, Solo, pasar ini hidup dengan daya tariknya yang klasik. Tidak hanya sebagai tempat berbelanja, Pasar Triwindu juga menjadi saksi perjalanan sejarah budaya Jawa. 

Dilansir dari laman visitjawatengah.jatengprov.go.id, pasar ini dibangun pada tahun 1939 untuk memperingati 24 tahun kenaikan tahta Adipati Sri Mangkunegara VII. Dinamakan Triwindu karena berasal dari istilah Jawa yang artinya tiga windu. 

Sejak didirikan, Pasar Triwindu menjadi destinasi utama bagi para kolektor barang antik, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Pasar ini menawarkan berbagai barang dari tahun 1800-an seperti guci, patung, piring antik, lampu, topeng, hingga uang kuno.

Pertama kali dibangun, pasar ini hanyalah lahan kecil dengan meja-meja penjaja sederhana. Barang yang dijual mulanya bukan barang antik, namun kue-kue tradisional, pakaian, majalah ataupun koran. Seiring dengan waktu, banyak para penjaja yang membangun kios sendiri dan berubah menjadi tempat jual beli barang antik.

Baca juga: Wayang Orang Sriwedari, Kesenian Solo yang Masih Lestari

Bangunan pasar ini pernah mengalami pemugaran ada Juli 2008. Bangunan pasar didesain ulang mengikuti arsitektur di sekitar Solo. Lahan berjualan yang tadinya hanya satu lantai sekarang dibangun bertingkat. Pasar ini sempat berubah menjadi Pasar Windujenar, walaupun akhirnya, di tahun 2011 pasar kembali ke nama sebelumnya yaitu Triwindu.

Saat ini, Pasar Triwindu bukan hanya didatangi oleh pemburu barang antik, namun banyak remaja yang juga berkunjung untuk sekadar berburu foto estetik. Berkaitan dengan hal tersebut, pihak pengurus pasar kemudian membuat area resepsionis di bagian depan pasar. 

Tujuannya supaya mereka yang ingin membuat konten harus meminta ijin terlebih dahulu. Nantinya pengunjung akan diberi ID Card khusus membuat konten dan juga diminta untuk mengisi uang kas secara sukarela. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga apabila ada kerusakan yang mungkin bisa terjadi saat membuat konten. (Anisa Kurniawati- Berbagai Sumber)

TopikPariwisata
Pariwisata26 OKT 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati