Pariwisata

Bukit Menumbing, Lokasi Pengasingan Tokoh Nasional Indonesia

Bukit Menumbing yang di dalamnya terdapat pesanggrahan, merupakan sebuah dataran tinggi di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Bukit ini memiliki perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Di tempat ini tokoh-tokoh pemimpin Indonesia sempat diasingkan Belanda. Menjadi bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura), bukit Menumbing memiliki tinggi hampir 500 meter di atas permukaan laut. Letaknya sekitar […]

Oleh Anisa Kurniawati

Bukit Menumbing, Lokasi Pengasingan Tokoh Nasional Indonesia
Pesanggrahan Menumbing ditetapkan sebagai benda, situs, atau kawasan cagar budaya tahun 2010. Foto: Pancar I
Diterbitkan

Bukit Menumbing yang di dalamnya terdapat pesanggrahan, merupakan sebuah dataran tinggi di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung.

Bukit ini memiliki perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Di tempat ini tokoh-tokoh pemimpin Indonesia sempat diasingkan Belanda. 

Menjadi bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura), bukit Menumbing memiliki tinggi hampir 500 meter di atas permukaan laut. Letaknya sekitar 20 menit berkendara dari Muntok, ibu kota kabupaten.

Tahura Menumbing sendiri memiliki berbagai koleksi flora dan fauna. Dari pintu masuk tahura, setelah melakukan perjalanan selama 15 menit, akan sampai di puncak bukit.

Tepat di kawasan ini berdiri tiga bangunan, salah satunya terdapat kastil atau tempat peristirahatan yang dibangun perusahaan timah kolonial, Banka Tin Winning Bedrijft (BTW) pada 1927 silam.

Dilansir dari Indonesia.go.id, Kastil ini resmi digunakan pada 28 Agustus 1928. Pesanggrahan Menumbing sendiri menjadi bangunan utama yang memiliki 25 kamar dan diperuntukkan bagi para petinggi BTW saat berlibur.

Lokasi Pengasingan

Pada 19 Desember 1948, saat peristiwa Agresi Militer II, Pesanggrahan Menumbing dijadikan lokasi pengasingan sejumlah tokoh nasional Indonesia. Beberapa di antaranya yaitu Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Mohammad Roem, Ass’at, Soerjadi Soerjadarma, dan AG Pringgodigdo. 

Mereka diasingkan ke Muntok pada 31 Desember 1948, sebelum ditempatkan di kastil BTW. Pada 6 Februari 1949, giliran Soekarno bersama Agus Salim, Mohammad Roem, dan Ali Sastroamidjojo diasingkan ke Pesanggrahan Menumbing. 

Selama masa pengasingan di Bukit Menumbing, tokoh-tokoh pemimpin bangsa itu tetap sibuk berjuang lewat jalur diplomasi. Hal ini membuahkan hasil dengan adanya Perjanjian Roem-Roijen.

Usai perjanjian itu, Soekarno pada 6 Juli 1949 kembali dari pengasingannya di Muntok ke Yogyakarta, ibu kota sementara Republik Indonesia. 

Dijadikan Museum

Pesanggrahan Menumbing ditetapkan sebagai benda, situs, atau kawasan cagar budaya tahun 2010. Kawasan pernah ditata untuk dijadikan museum dan ruang pamernya diresmikan Menteri Sosial Tri Rismaharini, 19 Desember 2021.

Sejumlah peninggalan penting pun dipamerkan di Pesanggrahan Menumbing. Peninggalan itu seperti surat-surat Soekarno saat berada di kamar pengasingannya. Mulai dari tempat tidur, meja kursi, buku-buku bacaan para tokoh pemimpin bangsa yang diasingkan disini turut dipamerkan. 

Begitu pula dengan mobil sedan hitam buatan Amerika Serikat tahun 1938. Sebuah pelat nomor polisi BN 10 masih tersemat di bagian depan mobil yang warnanya mulai terlihat sedikit kusam.

Mobil ini merupakan kendaraan operasional Bung Hatta selama 17 hari di pengasingan. 

Dua patung tembaga proklamator Indonesia dihadirkan di ruang tengah bangunan. Di bagian latar belakang patung ditampilkan efek multimedia berisi kutipan dari tokoh bangsa beserta fotonya yang pernah diasingkan di sini. 

Ruang utama di lantai satu serta sudut-sudut bangunan lainnya diterangi lampu yang diatur tingkat cahayanya. Hal ini membuat ruang tata pamer ini semakin elegan.

Sebuah sudut multimedia berisi tayangan sejarah pengasingan tokoh-tokoh bangsa dalam bentuk tiga dimensi melengkapi isi dari museum Menumbing.

TopikPariwisata
Pariwisata10 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati