Ada cara untuk mengenal sebuah tempat tanpa terburu-buru berpindah dari satu objek wisata ke objek berikutnya. Berjalan kaki memberi kesempatan untuk memperhatikan lanskap di sepanjang jalan, singgah di desa, mengenal tradisi setempat, dan memahami kehidupan masyarakat yang membentuk karakter suatu wilayah.
Gagasan perjalanan semacam itu telah lama dikenal melalui Camino de Santiago di Spanyol. Jalur ziarah tersebut membawa para pejalan melintasi berbagai wilayah menuju Santiago de Compostela, dengan perjalanan fisik yang berpadu dengan pencarian spiritual. Kini, semangat serupa hendak diadaptasi ke Flores, Nusa Tenggara Timur, melalui Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores.
Pulau Flores memiliki banyak hal yang dapat dikenali lebih dekat melalui perjalanan. Bentang alamnya, desa-desa yang tersebar di berbagai wilayah, situs religi, tradisi tenun ikat, hingga kuliner lokal menawarkan pengalaman yang tidak harus dinikmati dalam kunjungan singkat. Melalui perjalanan berjalan kaki, berbagai daya tarik itu hendak dirangkai menjadi satu pengalaman wisata yang lebih mendalam.
Kementerian Pariwisata memperkenalkan Camino de Flores di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026. Program ini dirancang untuk menghubungkan berbagai potensi wisata di Flores, sekaligus membuka kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Mengikuti jejak perjalanan dari Spanyol
Camino de Flores mengambil inspirasi dari Camino de Santiago de Compostela, rute ziarah di Spanyol yang memiliki sejarah panjang. Menurut inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, gagasan tersebut berangkat dari keinginan menghadirkan perjalanan ziarah berjalan kaki yang menggabungkan spiritualitas, alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat lokal di Indonesia.
“Saya berpikir Indonesia bisa punya Camino-nya sendiri, dan Flores adalah tempat yang sempurna untuk itu. Camino de Flores mengadaptasi semangat Camino de Santiago untuk Flores sebagai wisata spiritual yang juga berkelanjutan, yang memadukan spiritualitas, alam, dan pemberdayaan masyarakat lokal,” kata Mari Elka dalam peluncuran Camino de Flores di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Camino de Santiago dikenal sebagai jalur ziarah menuju Santiago de Compostela di Galicia, Spanyol. Perjalanan ini berkembang selama berabad-abad dan menjadi salah satu rute ziarah penting di Eropa. Bagi banyak pejalan, perjalanan tersebut bukan hanya soal mencapai tujuan, tetapi juga proses yang memberi ruang untuk refleksi dan perjumpaan dengan tempat-tempat yang dilewati.
Camino de Flores mengadaptasi semangat perjalanan itu dengan karakter Flores. Situs religi, desa wisata, lanskap alam, serta kegiatan dan ritual budaya yang berkembang di tengah masyarakat menjadi bagian dari potensi rute yang hendak dikembangkan.
Dengan pendekatan ini, wisatawan tidak hanya diarahkan menuju satu tempat populer, tetapi diajak melihat hubungan antara alam, tradisi, dan kehidupan masyarakat di sepanjang perjalanan. Flores pun dapat dikenali melalui pengalaman yang lebih beragam daripada kunjungan ke satu destinasi saja.
Dari Bajawa menuju Boawae dan Ende
Pada tahap awal, Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menyiapkan proyek percontohan Etape Tengah pada 23–27 Oktober 2026. Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif dijadwalkan menempuh rute Bajawa–Boawae–Ende sepanjang kurang lebih 70 kilometer.
Rute ini menjadi langkah awal untuk menguji perjalanan berjalan kaki yang memadukan refleksi spiritual, sejarah, dan interaksi dengan masyarakat. Setelah tahap percontohan, pengembangan Camino de Flores direncanakan mencakup Etape Barat dari Labuan Bajo menuju Ruteng serta Etape Timur dari Maumere menuju Larantuka. Seluruh etape juga memungkinkan untuk digabungkan sesuai permintaan wisatawan.
Rencana tersebut membuka kemungkinan bagi wisatawan untuk mengenal Flores melalui perjalanan lintas wilayah. Bajawa, Boawae, dan Ende menjadi bagian dari jalur awal yang akan diuji, sedangkan pengembangan etape lain berpotensi menghubungkan lebih banyak tempat di pulau itu.
Meski demikian, perjalanan ini bukan sekadar soal jarak yang harus ditempuh. Rute berjalan kaki memerlukan persiapan fisik, pengaturan waktu, dan perhatian terhadap kondisi jalan maupun cuaca.

Kementerian Pariwisata menyatakan telah menyiapkan dokumen penilaian risiko dan rencana tanggap darurat, termasuk penyiagaan petugas pengatur perjalanan, pos kesehatan, penyediaan air minum bergerak, serta mitigasi terhadap cuaca dan elevasi rute.
Bagi calon wisatawan, informasi mengenai kondisi jalur, tingkat kesulitan, fasilitas, akomodasi, dan ketersediaan paket perjalanan tetap perlu dipastikan ketika program ini dikembangkan menjadi produk wisata yang dapat dipesan secara umum.
Mengenal Flores melalui tradisi dan kehidupan warga
Salah satu daya tarik Camino de Flores terletak pada kesempatan untuk mengenal budaya Flores dalam konteks kehidupan masyarakatnya. Tenun ikat, misalnya, tidak hanya menawarkan motif dan warna yang menarik bagi wisatawan. Kain tersebut menyimpan identitas budaya serta nilai adat, hadir dalam berbagai peristiwa kehidupan, dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga, terutama perempuan penenun.
Kuliner lokal juga menyimpan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Bahan pangan, cara mengolah, dan kebiasaan makan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan masyarakat dengan lingkungan dan tradisinya.
Selain itu, Flores memiliki tradisi religi yang telah berkembang dalam kehidupan masyarakat. Semana Santa di Larantuka, Festival Golokoe, kegiatan ziarah, dan berbagai prosesi budaya disebut dalam rencana pengembangan Camino de Flores sebagai daya tarik yang dapat dihubungkan melalui pola perjalanan baru.
Namun, tidak semua tradisi atau situs tersebut otomatis menjadi bagian dari setiap perjalanan. Rute dan pengalaman yang tersedia perlu disesuaikan dengan pengembangan program, kalender kegiatan, serta kesiapan masyarakat setempat. Dengan begitu, wisatawan dapat mengenal budaya lokal secara tepat tanpa menganggap seluruh tradisi selalu berlangsung atau dapat diakses kapan saja.
Perjumpaan dengan masyarakat juga membuka kemungkinan bagi wisatawan untuk memahami Flores di luar sudut pandang destinasi. Desa bukan sekadar tempat untuk dilewati, sementara kain tenun dan makanan lokal bukan hanya cendera mata. Semuanya merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang memiliki nilai budaya sekaligus menopang penghidupan warga.
Perjalanan yang memberi ruang bagi ekonomi lokal
Wisata berjalan kaki juga menawarkan pendekatan berbeda terhadap pengeluaran wisatawan. Ketika perjalanan menghubungkan beberapa wilayah dan memberi kesempatan untuk singgah lebih lama, kebutuhan akan penginapan, makanan, pemandu, dan produk lokal dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan Camino de Flores dirancang untuk memperluas persebaran kunjungan yang selama ini cenderung terkonsentrasi di Labuan Bajo, Manggarai Barat.
“Melalui Camino de Flores, kunjungan wisatawan diharapkan terdistribusi lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores dengan menghubungkan berbagai potensi, mulai dari situs religi, desa wisata, hingga lanskap alam serta event atau ritual pariwisata religi yang selama ini berkembang di Flores seperti Semana Santa, Festival Golokoe, ziarah, atau prosesi budaya lainnya,” kata Widiyanti dalam konferensi pers peluncuran Camino de Flores di Jakarta, 13 Oktober 2026.
Pemerintah berharap perjalanan yang lebih lambat dan mendalam dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan serta meningkatkan perputaran ekonomi di desa-desa yang dilalui. Pengelola homestay, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, perajin tenun, serta pemandu lokal termasuk pihak yang berpotensi memperoleh manfaat.
Di sisi lain, Camino de Flores juga mengintegrasikan kegiatan sosial dan penggalangan dana. Dana yang dihimpun direncanakan untuk mendukung renovasi rumah sakit, gereja, sarana budaya dan pariwisata, serta penyediaan fasilitas sanitasi dan akses air bersih.
Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menyambut baik inisiatif tersebut. Ia berharap semangat perjalanan dan solidaritas yang diusung Camino de Flores dapat mendukung kebangkitan Flores setelah gempa bumi yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Camino de Flores akan memberikan dampak yang nyata bagi kami di provinsi. Tema spiritualitas dan pemulihan di Flores ini sangat tepat dan menjadi momentum yang kuat buat kami di Flores ini untuk bisa bangkit kembali,” ujar Emanuel dalam peluncuran program tersebut pada 13 Oktober 2026.
Meski peluangnya terbuka, dampak ekonomi Camino de Flores belum dapat diukur karena proyek percontohannya baru dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober 2026. Keberhasilan program akan bergantung pada kesiapan rute, keterlibatan masyarakat, kualitas layanan, serta tata kelola yang melibatkan pemerintah daerah, pengelola destinasi, keuskupan, dan komunitas lokal.
Menikmati Flores dengan ritme yang berbeda
Camino de Flores memperkenalkan cara lain untuk membayangkan perjalanan di Flores. Bukan hanya mendatangi tempat-tempat terkenal, melainkan menghubungkan berbagai wilayah melalui langkah kaki, memberi waktu untuk mengenali lanskap, memahami tradisi, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Inspirasi dari Spanyol menunjukkan bahwa perjalanan dapat memiliki makna lebih luas daripada perpindahan dari satu titik ke titik lain. Di Flores, gagasan itu memperoleh konteksnya sendiri melalui situs religi, kekayaan alam, tenun ikat, kuliner, dan kehidupan masyarakat yang beragam.
Proyek percontohan Bajawa–Boawae–Ende akan menjadi langkah awal untuk menguji bagaimana gagasan tersebut dapat diwujudkan. Evaluasinya akan menentukan kesiapan rute, standar perjalanan, dan kemungkinan pengembangan paket wisata pada masa mendatang.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal Flores lebih dekat, gagasan berjalan kaki ini menawarkan alasan untuk melihat pulau tersebut dengan ritme berbeda. Perjalanan tidak harus selalu mengejar sebanyak mungkin tempat dalam waktu singkat. Terkadang, kesempatan untuk singgah, memperhatikan, dan mengenal kehidupan di sepanjang jalan justru membuat sebuah destinasi lebih membekas.
Pada akhirnya, daya tarik Camino de Flores bukan hanya terletak pada jalur yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Nilainya juga ada pada kemungkinan mempertemukan wisatawan dengan budaya dan masyarakat Flores, sekaligus membuka peluang agar kegiatan pariwisata memberi manfaat lebih luas bagi mereka yang tinggal di sepanjang perjalanan.






