Tradisi

Cethingan Simbol Warga Ngampin Menjaga Kerukunan

Tradisi Cethingan merupakan salah satu kebiasaan unik di Dusun Lonjong, Kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tradisi ini ditandai dengan membawa ceting yaitu bakul berisi nasi dan lauk pauk untuk disantap bersama-sama. Cethingan sendiri merupakan bagian dari serangkaian acara merti dusun. Biasanya acara ini diadakan menjelang bulan puasa atau ruwahan. Hal ini termasuk […]

Oleh Anisa Kurniawati

Cethingan Simbol Warga Ngampin Menjaga Kerukunan
Warga Ngampin sedang makan bersama menggunakan cething Foto: Lentera Jateng
Diterbitkan

Tradisi Cethingan merupakan salah satu kebiasaan unik di Dusun Lonjong, Kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tradisi ini ditandai dengan membawa ceting yaitu bakul berisi nasi dan lauk pauk untuk disantap bersama-sama. 

Cethingan sendiri merupakan bagian dari serangkaian acara merti dusun. Biasanya acara ini diadakan menjelang bulan puasa atau ruwahan. Hal ini termasuk unik, karena di daerah lain bulan Ruwan biasanya digunakan untuk menggelar nyadran. 

Baca juga: Tradisi Ngebuyu, Acara Seru Rayakan Kelahiran Bayi Baru Lahir

Sajian Makanan

Tradisi Cethingan ditandai dengan berkumpulnya seluruh warga Dusun Lonjong membawa ceting berisi nasi dan lauk pauk. Makanan lantas didoakan dan dilanjutkan dengan kembul bujana atau makan bersama. Biasanya cething berisi nasi, lauk pauk dan ingkung (ayam yang dimasak utuh)

Selain doa keselamatan, juga dipanjatkan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk rezeki yang berlimpah, diberi perlindungan, dan kesejahteraan. Dengan berbagai sajian makanan yang ada, tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur warga atas seluruh nikmat yang diberikan Tuhan. Disamping itu juga sebagai simbol kerukunan warga Ngampin.

Seribu Serabi 

Tidak hanya Tradisi Cetingan, dalam merti dusun juga menghadirkan seribu serabi klasik khas Ngampin. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan kembali serabi klasik Ngampin yang asli. Karena biasanya serabi yang dijual sudah dimodifikasi dan dikreasikan. 

Proses pembuatan serabi klasik ini dibuat secara langsung oleh warga dan Paguyuban Serabi Ngampin. Bahkan pembuatannya bisa disaksikan secara langsung untuk warga ataupun pengunjung yang datang ke acara itu.

Serabi klasik di Ngampin sendiri memiliki kekhasannya tersendiri. Serabi ini hanya terbuat dari tepung beras dan kelapa. Dua bahan itu dipadukan dengan cara dihaluskan, ditumbuk di lumpang. Sehingga menghasilkan tekstur yang kasar. Tekstur tersebutlah yang membuat serabi klasik Ngampin berbeda. Karena terdapat rasanya krenyes-krenyesnya. 

Tradisi Cethingan bukan hanya warisan budaya peninggalan nenek moyang saja. Namun, tradisi ini telah menjadi simbol kerukunan warga Ngampin. Tidak hanya itu, selain untuk melestarikan tradisi peninggalan juga menjadi ajang silaturahmi antar warga. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi12 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati