Di Kampung Majalaya, Desa Cijagang, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, nama Dalem Cikundul terus dikenang. Orang datang ke makamnya untuk berziarah, memanjatkan doa, dan mengenal sosok yang memiliki tempat penting dalam sejarah Cianjur.
Dalem Cikundul dikenal sebagai Raden Aria Wiratanudatar I, tokoh yang berkaitan dengan awal pemerintahan Cianjur dan penyebaran Islam di wilayah Priangan. Berabad-abad setelah masa hidupnya, namanya masih mengundang orang untuk datang. Kehadiran para peziarah membuat kawasan makam tidak hanya menjadi tempat mengenang masa lalu, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat hari ini.
Tokoh di Balik Sejarah Cianjur
Raden Aria Wiratanudatar I dikenal sebagai bupati pertama Cianjur. Kajian sejarah Yudi Himawan Ependi membahas perannya dalam penyebaran Islam dan perubahan kehidupan masyarakat Cianjur pada abad ke-17.
Peran Dalem Cikundul tidak hanya berkaitan dengan agama dan pemerintahan. Kajian tersebut turut membahas perubahan sosial yang menyertai perkembangan masyarakat pada masa itu. Kisahnya membantu kita memahami bahwa sejarah seorang pemimpin juga berkaitan dengan kehidupan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Namun, riwayat tokoh masa lalu tidak selalu tercatat dalam satu versi. Sebagian kisah diwariskan melalui tradisi masyarakat, sedangkan bagian lainnya dikaji melalui naskah dan catatan sejarah. Perbedaan tersebut perlu diperiksa dengan cermat agar penghormatan terhadap tokoh tidak membuat fakta dan cerita turun-temurun tercampur begitu saja.
Mengapa Orang Datang Berziarah?
Bagi sebagian masyarakat, ziarah merupakan kesempatan untuk mendoakan orang yang telah meninggal sekaligus mengenang tokoh yang dihormati. Ada pula yang datang bersama keluarga atau rombongan untuk menjalankan tradisi yang telah dikenal sejak lama.
Penelitian Muhamad Amin Fauzi dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang terbit pada 2024 membahas praktik keagamaan di makam Dalem Cikundul. Praktik yang dicatat mencakup zikir, selawat, tahlil, tasyakuran, dan haul atau peringatan untuk mengenang tokoh yang telah meninggal.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa makam memiliki arti sosial selain sebagai tempat pemakaman. Orang dapat bertemu, menjalankan tradisi bersama, dan mengenalkan sejarah daerah kepada generasi yang lebih muda.
Meski demikian, tujuan setiap peziarah tidak selalu sama. Ada yang datang untuk berdoa, ada yang ingin mengenal sejarah, dan ada pula yang mengikuti kebiasaan keluarga. Pengalaman mereka perlu dipahami dengan menghormati keyakinan masing-masing, tanpa menganggap semua cerita yang beredar sebagai fakta yang telah terbukti.
Ketika Peziarah Menggerakkan Ekonomi
Kunjungan ke makam turut menciptakan kebutuhan yang dapat dipenuhi masyarakat sekitar. Peziarah memerlukan makanan, minuman, tempat parkir, dan berbagai keperluan selama perjalanan. Kebutuhan tersebut membuka peluang bagi warga untuk berdagang dan menyediakan jasa.
Penelitian mengenai perubahan sosial di sekitar makam Dalem Cikundul mencatat perkembangan kegiatan perdagangan di kawasan tersebut. Dalam catatan tentang masa 1970-an, jumlah pedagang disebut masih sekitar sembilan atau sepuluh kios. Pada periode berikutnya, kawasan mengalami perkembangan dan kegiatan perdagangan bertambah.
Catatan tersebut memberi gambaran bahwa tempat ziarah dapat ikut mengubah kehidupan sebuah lingkungan. Meski penelitian lama itu tidak menunjukkan kondisi perdagangan saat ini secara langsung, kajiannya memperlihatkan hubungan antara kedatangan peziarah dan perkembangan kegiatan usaha.
Bagi pedagang kecil, kunjungan dapat menjadi kesempatan untuk memperoleh penghasilan. Namun, besarnya manfaat ekonomi tidak boleh ditebak tanpa data terbaru. Pendapatan warga, jumlah pengunjung, dan pemerataan peluang usaha tetap perlu diteliti agar perkembangan kawasan benar-benar memberi manfaat yang luas.
Warisan yang Terus Memberi Manfaat
Makam Dalem Cikundul mempertemukan sejarah, tradisi keagamaan, dan kehidupan masyarakat dalam satu kawasan. Merawatnya berarti menjaga tempat yang dihormati peziarah sekaligus melestarikan ingatan tentang salah satu tokoh penting dalam perjalanan Cianjur.
Pengelolaan kawasan juga perlu memperhatikan kebersihan, kenyamanan pengunjung, kelestarian lingkungan, dan kesempatan warga untuk terlibat. Sejarah akan lebih bermakna ketika tidak hanya diceritakan, tetapi juga dirawat melalui tindakan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.
Dalem Cikundul telah lama meninggalkan kehidupan dunia, tetapi namanya masih dikenang dan makamnya tetap didatangi orang. Kunjungan tersebut turut membuka kesempatan bagi warga untuk berdagang, menjalankan usaha, dan memperoleh penghasilan. Walaupun beliau telah meninggal, jejak kehidupannya masih membawa manfaat bagi masyarakat sekitar.





