Pariwisata

Desa Wisata Sawarna, Tawarkan Wisata Alam Luar Biasa

Menyajikan panorama alam yang memukau, Desa Wisata Sawarna memiliki daya tarik yang luar biasa. Berada di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, desa ini berbatasan dengan Samudra Hindia di sisi selatan, dengan kawasan pesisir pantai menakjubkan.. Dari Pantai Pulo Manuk di sisi barat hingga Pantai Karang Taraje di sisi timur, Sawarna menawarkan pemandangan alam yang […]

Oleh Achmad Aristyan

Desa Wisata Sawarna, Tawarkan Wisata Alam Luar Biasa
Pantai di Sawarna, Lebak, Banten, terkenal dengan ombaknya yang besar untuk berselancar. Foto: Google/aindini zakysidah
Diterbitkan

Menyajikan panorama alam yang memukau, Desa Wisata Sawarna memiliki daya tarik yang luar biasa. Berada di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, desa ini berbatasan dengan Samudra Hindia di sisi selatan, dengan kawasan pesisir pantai menakjubkan.. 

Dari Pantai Pulo Manuk di sisi barat hingga Pantai Karang Taraje di sisi timur, Sawarna menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan, dengan pasir putih yang berpadu dengan jajaran karang terjal yang menambah daya tariknya.

Melansir dari Wikipedia, pantai-pantai di Sawarna terkenal dengan ombaknya yang besar untuk berselancar. Ombak-ombak yang bergulung saling berkejaran menuju pantai menjadikan Sawarna salah satu tujuan utama para peselancar lokal dan internasional. 

Keindahan alam ditambah dengan bentang alam yang luas, membuat desa ini semakin populer di kalangan para wisatawan lokal maupun globak yang mencari ketenangan sekaligus petualangan.

 

Kawasan pantai dekat Gua Langir, Sawarna. Foto: Google/Ikung Adiwar

Sejarah Sawarna

Desa Sawarna bukan hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga memiliki sejarah yang menarik. Salah satu cerita sejarah yang dikenal adalah adanya makam Jean Louis van Gogh, sepupu dari Vincent van Gogh, yang ditemukan pada awal 2000-an. 

Jean Louis membuka perkebunan kelapa seluas 54 hektare di pinggir Pantai Ciantir dan Tanjung Layar pada sekitar tahun 1907. Perkebunan ini mempekerjakan banyak pribumi dari luar Banten, yang kemudian menjadi bagian dari komunitas yang dikenal sebagai Sawarna.

Menurut cerita, ada dua versi mengenai asal-usul nama Sawarna. Ada yang mengatakan bahwa nama Sawarna berasal dari kata “Sorana” dalam bahasa Sunda yang berarti suara, yang merujuk pada suara alam yang terdengar di desa itu 

Namun, ada yang berpendapat, Sawarna berasal dari nama Swarna, tokoh yang menjadi kepala desa pertama. Dalam bahasa Sunda, “Swarna” berarti satu warna, yang menggambarkan keharmonisan masyarakat setempat yang berasal dari berbagai latar belakang etnis.

Desa Wisata

Seiring berjalannya waktu, Desa Sawarna mengalami transformasi yang signifikan. Dari sebuah perkebunan kelapa, desa ini beralih menjadi desa wisata yang terkenal dengan keindahan alamnya. 

Wisatawan kini dapat menikmati berbagai aktivitas seperti surfing, trekking, dan menikmati pemandangan alam yang menyenangkan. Seiring perkembangan wisata, banyak warga Sawarna menyewakan “homestay” atau rumah penduduk sebagai tempat menginap bagi para pelancong.

Panorama Desa Wisata Sawarna, Lebak, Banten. Foto: Google/Zufar Noorenda

Penduduk Sawarna terdiri berbagai etnis, termasuk Suku Banten, Sunda, dan Jawa. Keberagaman ini dipengaruhi sejarah desa yang dulu dihuni pekerja perkebunan kelapa dari luar Banten. 

Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, buruh tani, atau pedagang, namun sejak desa ini dikenal sebagai tujuan wisata, banyak yang beralih menjadi pemandu wisata.

Wisata Sejarah

Di balik keindahan alamnya, Desa Sawarna juga menyimpan sejarah kelam, yaitu tragedi romusha yang terjadi selama masa penjajahan Jepang. Ratusan ribu pekerja paksa (romusha) kehilangan nyawa mereka akibat proyek pembangunan Jalur Kereta Api Saketi-Bayah, yang kini tidak lagi berfungsi. 

Desa Sawarna bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga sebuah desa yang sarat akan sejarah dan budaya. Keindahan alam yang luar biasa, ditambah kisah sejarah, menjadikan Sawarna sebagai destinasi wisata di Banten yang layak dikunjungi. (Dari berbagai sumber)

TopikPariwisata
Pariwisata21 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan