Pariwisata

Ada Banyak Jalan untuk Menemukan Indonesia

Dari pegunungan dan warisan budaya hingga kekayaan bawah laut, destinasi di luar Bali menawarkan pengalaman sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Oleh Ridwan

Ada Banyak Jalan untuk Menemukan Indonesia
ndonesia memiliki beragam pengalaman wisata, dari lanskap pegunungan dan warisan budaya hingga pulau-pulau di kawasan timur. Foto: Kemenpar
Diterbitkan

Ketika berbicara tentang pariwisata Indonesia, Bali masih menjadi nama yang paling mudah terlintas. Namun, perjalanan wisata di negeri kepulauan ini tidak berhenti di Pulau Dewata. Dari pegunungan di Pulau Jawa, danau vulkanik di Sumatera, hingga kekayaan bawah laut di kawasan timur Indonesia, setiap daerah menawarkan pengalaman yang berbeda.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan, perjalanan wisatawan nusantara pada Agustus 2026 mencapai 104,30 juta perjalanan, tumbuh 11,47 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, jumlahnya mencapai 842,15 juta perjalanan, meningkat 4,29 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Dalam statistik yang dipublikasikan pada Jumat, 2 Oktober 2026, Jawa Barat menjadi provinsi tujuan dengan jumlah perjalanan wisatawan nusantara tertinggi pada Agustus, yakni 18,71 juta perjalanan. Jawa Timur menyusul dengan 16,44 juta perjalanan dan Jawa Tengah dengan 13,79 juta perjalanan. Bali berada di posisi kesembilan dengan 2,37 juta perjalanan.

Angka tersebut merupakan jumlah perjalanan berdasarkan provinsi tujuan, bukan jumlah pengunjung pada satu objek wisata. Meski begitu, data itu memperlihatkan besarnya aktivitas wisata domestik di berbagai daerah di luar Bali.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya ke mana wisatawan pergi, melainkan apa yang mereka cari dan bagaimana perjalanan tersebut dapat membuka manfaat yang lebih luas bagi daerah tujuan.

Jawa menawarkan banyak pilihan wisata

Tingginya perjalanan wisatawan nusantara menuju Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah memperlihatkan beragamnya pilihan perjalanan di Pulau Jawa. Wisata alam, situs bersejarah, kehidupan kota, kuliner, dan tradisi setempat dapat menjadi bagian dari satu rangkaian perjalanan.

Di Jawa Barat, wisatawan dapat menikmati lanskap vulkanik Tangkuban Parahu dan Kawah Putih, mengenal seni angklung di Saung Angklung Udjo, atau melanjutkan perjalanan menuju kawasan pesisir Pangandaran. Ragam pilihan tersebut mempertemukan pengalaman alam dengan kesenian dan kehidupan budaya masyarakat.

Jawa Timur menawarkan karakter berbeda melalui lanskap Gunung Bromo dan Kawah Ijen. Sementara itu, Jawa Tengah memiliki jalur wisata yang mempertemukan warisan sejarah, kehidupan budaya, dan panorama dataran tinggi, dari kawasan candi hingga Dieng.

Kedekatan antardaerah memungkinkan wisatawan menyusun perjalanan berdasarkan waktu, minat, dan anggaran. Bagi sebagian orang, liburan berarti menikmati udara pegunungan atau melihat matahari terbit. Bagi yang lain, perjalanan menjadi kesempatan untuk mengenali sejarah, mencicipi makanan khas, atau melihat tradisi yang masih dijalankan masyarakat setempat.

Perjalanan domestik yang besar itu juga menjadi pengingat bahwa potensi wisata Indonesia tidak hanya bergantung pada destinasi yang telah lebih dahulu dikenal secara internasional.

Dari Danau Toba hingga Raja Ampat

Di luar Pulau Jawa, pengalaman wisata mengambil bentuk yang semakin beragam. Danau Toba di Sumatera Utara menawarkan bentang danau vulkanik sekaligus kebudayaan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Daya tariknya bukan hanya panorama, tetapi juga kesempatan mengenali tradisi dan kehidupan lokal.

Di Nusa Tenggara Timur, Labuan Bajo menjadi pintu menuju kawasan Taman Nasional Komodo. Pulau-pulau, perairan, dan bentang pesisir membentuk pengalaman perjalanan yang berbeda dari wisata perkotaan. Pengembangan kawasan seperti Parapuar dan Golo Mori juga menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan kunjungan di sekitar Labuan Bajo.

Lebih jauh ke timur, Raja Ampat dikenal melalui gugusan pulau karst, keanekaragaman hayati laut, serta pengalaman menyelam dan snorkeling. Kawasan ini memperlihatkan hubungan erat antara kekayaan alam, ekosistem laut, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Destinasi-destinasi tersebut bukan sekadar alternatif bagi wisatawan yang tidak ingin pergi ke Bali. Masing-masing memiliki karakter yang tidak bisa disamakan. Perjalanan ke danau vulkanik berbeda dari penjelajahan kepulauan, begitu pula pengalaman menyelami kehidupan bawah laut berbeda dari mengunjungi situs sejarah.

Potensi tersebut juga mulai diperkenalkan kepada pasar internasional melalui berbagai kegiatan promosi. Dalam survei terhadap 1.614 pengunjung Paviliun Wonderful Indonesia di Tourism Expo Japan 2026, yang berlangsung pada 24–27 September di Tokyo, Bali menjadi destinasi yang paling diminati responden, dengan persentase 86,2 persen.

Pulau Komodo dan Labuan Bajo menyusul dengan 5,3 persen, Borobudur 4 persen, Raja Ampat 1,7 persen, Danau Toba 1,5 persen, dan Lombok 1,2 persen. Hasil survei itu diumumkan Kementerian Pariwisata pada Jumat, 2 Oktober 2026.

Survei tersebut mengukur minat pengunjung paviliun Indonesia, bukan jumlah kunjungan aktual ke setiap destinasi. Namun, hasilnya memberi gambaran bahwa Bali masih menjadi daya tarik utama di pasar Jepang, sementara sejumlah destinasi lain juga memiliki peluang untuk diperkenalkan lebih luas.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini menyebut temuan tersebut sebagai salah satu dasar penguatan strategi promosi di Jepang, termasuk dengan memanfaatkan Bali sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi lain di Indonesia.

Strategi itu membuka kemungkinan agar wisatawan tidak hanya mengenal satu tempat, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman berbeda dalam perjalanan berikutnya.

Wisata bahari membuka peluang baru

Potensi destinasi di luar Bali tidak hanya berkaitan dengan keindahan alam yang dapat dinikmati wisatawan. Pemerintah juga berupaya mengembangkan wisata bahari sebagai sektor yang dapat menarik investasi, memperluas layanan pariwisata, dan menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat pesisir.

Pada 20–21 September 2026, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memimpin delegasi Indonesia dalam The 6th Monaco Smart & Sustainable Marina Rendezvous di Monako. Dalam forum tersebut, Indonesia memperkenalkan potensi investasi marina dan wisata bahari kepada pelaku industri serta investor internasional.

Sebagai Guest of Honor, Widiyanti menyampaikan keynote speech di hadapan perwakilan lebih dari 160 organisasi. Indonesia juga menggelar sesi tertutup bertajuk “Indonesia as an Emerging International Yachting and Marina Destination” untuk membahas peluang pengembangan industri tersebut.

“Sebagai negara kepulauan di kawasan Coral Triangle, Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk mengembangkan wisata bahari dan industri maritim, dengan destinasi kelas dunia seperti Raja Ampat dan Labuan Bajo serta lebih dari 700 destinasi selam,” ucap Menpar Widiyanti.

Kehadiran Indonesia di Monako membawa pesan mengenai kesiapan negara ini menjadi salah satu destinasi baru dunia untuk pengembangan yachting dan marina. Pasar yang dibidik bukan hanya wisatawan yang datang untuk menyelam atau menikmati pantai, tetapi juga pengguna kapal layar dan kapal pesiar yang membutuhkan fasilitas serta layanan pendukung.

“Kita ingin kekuatan ini diterjemahkan menjadi investasi, lapangan kerja, peningkatan kualitas destinasi, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir,” katanya.

Pembahasan tindak lanjut dalam forum tersebut mencakup pendidikan dan sertifikasi awak kapal, penyusunan master plan maritime tourism, penguatan promosi, serta business matching dengan investor internasional. Agenda itu juga membuka peluang kerja sama untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja Indonesia dalam industri wisata bahari.

Namun, besarnya potensi laut belum otomatis menjadikan Indonesia tujuan utama wisata kapal layar. Infrastruktur marina dan kapasitas tempat berlabuh masih perlu dikembangkan.

Dalam siaran pers Kementerian Pariwisata pada Rabu, 23 September 2026, disebutkan bahwa Indonesia memiliki 10 marina dengan total 336 tempat berlabuh atau berths. Angka itu memperlihatkan ruang pengembangan yang masih terbuka, sekaligus tantangan untuk menyediakan fasilitas dan layanan yang memenuhi kebutuhan pasar internasional.

Pengembangan wisata bahari karena itu tidak cukup hanya dengan mempromosikan panorama laut. Konektivitas, keselamatan, kualitas layanan, keterampilan tenaga kerja, serta perlindungan ekosistem harus menjadi bagian dari pengembangannya.

Bagi masyarakat pesisir, keberhasilan sektor ini pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah kapal yang datang atau nilai investasi yang masuk. Manfaatnya juga perlu menjangkau penyedia transportasi, pemandu lokal, pengelola penginapan, pelaku kuliner, usaha kecil, dan warga yang hidup di sekitar destinasi.

Kuliner dan tradisi memperkaya pengalaman

Pengalaman wisata juga tidak selalu berpusat pada panorama alam. Makanan, kesenian, dan tradisi dapat menjadi alasan seseorang mendatangi suatu daerah sekaligus mengenal kehidupan masyarakatnya.

Pada 2026, Kementerian Pariwisata menyelenggarakan Wonderful Indonesia Gastronomy di Solo dan Yogyakarta dengan tema From Local Roots to Global Recognition. Rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan chef Indonesia dan internasional, media, pelaku gastronomi, serta usaha lokal untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.

Kuliner membuat perjalanan terasa lebih dekat dengan keseharian suatu daerah. Mencicipi makanan khas, mengunjungi pasar, atau melihat proses pengolahan bahan pangan lokal memberi pengalaman berbeda dari sekadar mendatangi tempat untuk berfoto.

Hal serupa berlaku pada pertunjukan seni, kerajinan, dan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Ketika pengalaman tersebut dikelola dengan menghormati konteks budaya setempat, wisatawan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut menopang pelaku budaya dan usaha lokal.

Di sinilah keunikan destinasi dapat menjadi kekuatan. Kekayaan alam mungkin menarik perhatian pada awalnya, tetapi pengalaman budaya, keramahan masyarakat, kuliner, dan cerita lokal dapat membuat perjalanan memiliki makna lebih panjang.

Pertumbuhan perlu memberi manfaat bagi daerah

Pemerataan manfaat menjadi salah satu pekerjaan rumah pariwisata Indonesia. Dalam laporan bulanan kinerja Kementerian Pariwisata di Jakarta pada Kamis, 8 Oktober 2026, Menpar Widiyanti menyampaikan bahwa investasi pariwisata meningkat dari Rp47,14 triliun pada 2024 menjadi Rp73,56 triliun pada 2025, tumbuh 56,05 persen.

Namun, investasi tersebut masih terkonsentrasi di Bali dan Jakarta serta banyak mengarah pada sektor amenitas. Pemerintah mendorong penyebaran investasi ke 13 destinasi pariwisata prioritas dan regeneratif serta kawasan ekonomi khusus pariwisata.

Tantangan itu penting karena pariwisata melibatkan lebih banyak pihak daripada hotel dan operator perjalanan. Ada pemandu lokal, pengemudi, pemilik penginapan, pedagang makanan, perajin, seniman, hingga usaha kecil yang bergantung pada aktivitas wisata.

Jumlah perjalanan yang meningkat belum dengan sendirinya menjelaskan berapa lama wisatawan tinggal, berapa besar pengeluaran mereka, atau seberapa luas manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat. Untuk mengetahui dampaknya, pertumbuhan kunjungan perlu dibaca bersama data pengeluaran wisatawan, lama tinggal, kesempatan kerja, dan keterlibatan usaha lokal.

Bali akan tetap menjadi salah satu wajah penting pariwisata Indonesia. Namun, Indonesia memiliki terlalu banyak bentang alam, tradisi, kuliner, dan cerita lokal untuk hanya dikenal melalui satu pulau.

Peluang destinasi di luar Bali bukan sekadar soal menambah nama dalam daftar tujuan wisata. Tantangannya adalah membuat tempat-tempat itu semakin mudah dijangkau, menjaga alam dan budayanya, serta memastikan pertumbuhan pariwisata membuka kesempatan bagi masyarakat yang menjadi tuan rumah.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait