Event

Donggala Kaledo Fest 2024, Lestarikan Warisan Kuliner Kaili

Donggala Kaledo Fest 2024 di Sulawesi Tengah tak hanya menjadi ajang promosi kuliner, tetapi juga langkah strategis untuk memperbaiki branding kaledo yang sering disalahpahami. Festival ini menjadi bukti keseriusan Pemkab Donggala dalam melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Kaili. Dikutip dari wikipedia, Suku Kaili mendiami sebagian besar Provinsi Sulawesi Tengah dan sebagian kecil Sulawesi barat, khususnya […]

Oleh Anisa Kurniawati

Donggala Kaledo Fest 2024, Lestarikan Warisan Kuliner Kaili
Pj Bupati Donggala, Moh. Rifani, bersama istri saat akan mencicipi masakan dari peserta lomba masak di Donggala Kaledo Fest 2024, Sabtu (7/12/2024). Foto: Infopublik
Diterbitkan

Donggala Kaledo Fest 2024 di Sulawesi Tengah tak hanya menjadi ajang promosi kuliner, tetapi juga langkah strategis untuk memperbaiki branding kaledo yang sering disalahpahami. Festival ini menjadi bukti keseriusan Pemkab Donggala dalam melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Kaili.

Dikutip dari wikipedia, Suku Kaili mendiami sebagian besar Provinsi Sulawesi Tengah dan sebagian kecil Sulawesi barat, khususnya wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu.

Donggala Kaledo Fest 2024 resmi dibuka Penjabat (Pj) Bupati Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, Moh. Rifani, di Taman Kota, Kecamatan Banawa, Jumat (6/12/2024) malam.

Festival yang berlangsung selama dua hari ini menyuguhkan berbagai kegiatan menarik, termasuk lomba memasak, makan kaledo gratis, pertunjukan musik, zumba, tari kreasi, lomba parade baris berbaris, dan diskusi tentang potensi ekonomi kuliner tradisional.

Dalam sambutannya, Pj Bupati Donggala, Moh. Rifani, menegaskan pentingnya kaledo sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kaili. “Kaledo bukan sekadar makanan, melainkan tentang keluarga, kebersamaan, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ungkapnya.

Baca juga:Kaledo Donggala, Sajian Kaki Sapi Khas Sulawesi

Dia menambahkan, festival ini merupakan langkah strategis Pemerintah Kabupaten Donggala untuk mendukung sektor pariwisata dan memberdayakan pelaku usaha lokal.

“Kaledo ini simbol kuliner yang mendunia, berapa banyak wisatawan yang akan datang mencicipi keunikan rasanya dan berapa banyak UMKM merasakan manfaat ekonomi di Donggala,” lanjutnya.

Moh. Rifani berharap Donggala Kaledo Fest 2024 mampu mengangkat identitas lokal masyarakat Kaili sekaligus menjadikan kaledo sebagai ikon kuliner nasional dan internasional.

“Semoga melalui kegiatan ini, mampu menggerakkan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal yang dapat menjadikan Donggala destinasi kuliner unggulan beserta pariwisata alamnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Donggala, Muhammad, dalam laporannya menegaskan pentingnya mendirikan warung kaledo di setiap kecamatan.

Baca juga: Kerbau Sakti Tolelembunga, Legenda Masyarakat Sulawesi Tengah

“Saya berharap dengan diadakannya festival ini, Insya Allah tahun depan, setiap kecamatan harus mendirikan warung kaledo agar dikenal para wisatawan lokal maupun mancanegara,” tekannya.

Menurut para tokoh budaya Kaili, nama “kaledo” tidak berasal dari “kaki lembu Donggala” seperti yang dipercaya banyak orang. Kata ini sebenarnya berasal dari dialog sederhana:

Pada masa lalu, seorang lelaki yang terlambat mendapatkan daging kurban hanya memperoleh kaki sapi. Meski kecewa, ia menyerahkan potongan itu kepada istrinya untuk dimasak.

Saat mencicipinya, istrinya bertanya, “Naka’a?” (keras?), dan ia menjawab, “Ledo” (tidak). Dialog ini melahirkan nama makanan “kaledo,” yang artinya “tidak keras,” merujuk pada daging yang empuk setelah dimasak lama.

Melalui berbagai kegiatan di festival ini, Donggala semakin kokoh sebagai destinasi kuliner dan pariwisata unggulan di Sulawesi Tengah.

TopikEvent
Event09 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Event

Lihat semua →
Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan bertajuk Dua Wajah, Satu Jiwa di Museum Nasional Indonesia.

Dua Wajah, Satu Jiwa Indonesia-Korea

Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan di Museum Nasional mempertemukan dua tradisi melalui kemiripan karakter, kisah kehidupan, dan nilai budaya.

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati