Festival Lopis Raksasa merupakan tradisi syawalan yang biasa diadakan sepekan setelah Hari Raya Idulfitri oleh masyarakat Pekalongan, Jawa Tengah. Tradisi ini selain sebagai ajang silaturahmi juga mengandung suatu nilai filosofis tentang persatuan dan kesatuan seperti tertuang dalam sila ketiga Pancasila.
Setelah sepekan setelah Hari Raya Idulfitri, biasanya sebagian besar masyarakat menggelar tradisi syawalan. Tradisi ini menjadi bagian dari kegiatan masyarakat Indonesia sebagai wadah untuk menyambung tali silaturahmi usai menunaikan ibadah di bulan suci Ramadan.
Tak terkecuali bagi masyarakat di wilayah Pekalongan, Jawa Tengah. Tradisi syawalan ini sempat ditiadakan saat pandemi Covid-19 merebak pada 2020 dan 2021 dan mulai kembali diadakan pada tahun 2023.
Bagi masyarakat Pekalongan, tentu tradisi potong lopis raksasa menjadi hal yang paling ditunggu di bulan Syawal karena mampu mempererat tali silaturahmi. Lopis atau lupis, makanan berbahan dasar ketan khas Krapyak, Pekalongan, memang memiliki daya tarik dan filosofi budaya tersendiri. Lopis mengandung suatu nilai filosofis tentang persatuan dan kesatuan seperti tertuang dalam sila ketiga Pancasila.
Di Kota Pekalongan, lopis hanya dibuat dan dijumpai pada bulan Syawal usai Ramadan. Untuk menemukan pedagang lopis, tidak terlalu sulit. Anda dapat menjumpai para pedagang lopis menjajakan dagangannya di sepanjang jalan Truntum, Jlamprang, dan Jatayu.
Lopis raksasa biasanya dibuat setinggi sekitar 2 meter, berat hampir 2 ton, serta lebar 250 cm. Kemudian, Makanan versi jumbo ini diletakkan di Taman Lopis dekat Sungai Krapyak. Konon, tradisi lopis raksasa dipelopori oleh KH Abdullah Sirodj, ulama asal Krapyak, Putra Martoloyo II. Ia merupakan keturunan Tumenggung Bahurekso, salah satu Senopati kerajaan Mataram di Pekalongan yang merupakan tokoh legendaris Babad Pekalongan.
KH Abdullah menjalankan puasa Syawal, yakni sehari setelah lebaran pada tanggal 2 hingga 7 Syawal. Tradisi puasa tersebut kemudian diikuti oleh masyarakat Krapyak dan sekitarnya, sehingga mereka tidak saling berkunjung atau melakukan silaturahmi.
Oleh karena itu, masyarakat setempat baru melakukan silaturahmi setelah selesai berpuasa Syawal selama tujuh hari. Mereka kemudian melakukan tradisi potong lopis di daerah tersebut. Kue lopis dipilih untuk menjamu para tamu karena tahan lama dan tidak mudah basi.
Sementara itu, pendapat kedua dikemukakan Dirhamsyah, tokoh pemerhati sejarah budaya Pekalongan. Menurutnya, tradisi potong lopis muncul pada tahun 1950 yang terinspirasi dari pidato Presiden pertama RI Ir Sukarno. Ketika menghadiri rapat akbar di Lapangan Kebon Redjo, 1950, Bung Karno berpesan agar rakyat Pekalongan bersatu seperti lopis. Alasan itu yang membuat masyarakat Pekalongan selalu memotong lopis setiap syawalan.
Sampai saat ini, tradisi Lopis Raksasa masih diadakan. Biasanya juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti bazar UMKM, jalan sehat, donor darah, gambusan dan musik religi, serta lainnya. (Anisa Kurniawati-Sumber: Indonesia.go.id)