Budaya

Filosofi Penjor, Wujud Syukur Umat Hindu di Hari Raya Galungan

Dalam tradisi Hindu di Bali, Penjor menjadi elemen penting dalam perayaan Hari Raya Galungan. Sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Hyang Widi Wasa atas kemakmuran yang diberikan. Ornamen ini dipasang di depan rumah, kantor, dan tempat usaha sejak beberapa hari menjelang Galungan. Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan diperingati setiap enam bulan sekali atau 210 […]

Oleh Achmad Aristyan

Filosofi Penjor, Wujud Syukur Umat Hindu di Hari Raya Galungan
Penjor khas Bali yang dipasang saat perayaan Hari Raya Galungan. Foto: Kintamani.id
Diterbitkan

Dalam tradisi Hindu di Bali, Penjor menjadi elemen penting dalam perayaan Hari Raya Galungan. Sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Hyang Widi Wasa atas kemakmuran yang diberikan.

Ornamen ini dipasang di depan rumah, kantor, dan tempat usaha sejak beberapa hari menjelang Galungan. Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan diperingati setiap enam bulan sekali atau 210 hari sekali berdasarkan Kalender Saka Bali.

Kemeriahan hiasan ini kerap menjadi penanda kesiapan umat Hindu menyambut hari besar. Penjor adalah batang bambu tinggi dengan ujung melengkung yang dihiasi berbagai aksesori. 

Berdasarkan fungsi dan atributnya terbagi menjadi dua jenis penjor yaitu yang sakral dan hiasan. Masing-masing memiliki tujuan dan aturan pemasangan yang berbeda.

Baca juga: Ngurah Gede Pemecutan, Pelopor Seni Lukis Sidik Jari dari Bali

Atribut Spiritual

Melansir dari Kompas, Penjor sakral dipasang dalam waktu, tempat, dan kondisi tertentu yang berkaitan erat dengan pelaksanaan upacara adat. Penjor jenis ini dilengkapi dengan berbagai atribut yang memiliki makna spiritual.  

Pertama, batang bambu simbol kekuatan Dewa Brahma. Kemudian, janur atau daun enau melambangkan kekuatan Hyang Mahadewa, dan kelapa simbol kekuatan Hyang Rudra.  

Selain itu, terdapat tiga jenis hasil bumi yang turut melengkapi penjor sakral, yaitu pala bungkah seperti umbi-umbian yang melambangkan kekuatan Dewa Wisnu, pala gantung seperti buah-buahan (misalnya kelapa dan nanas), serta pala wija berupa biji-bijian seperti padi dan jagung.  

Penjor sakral juga dilengkapi dengan sanggah ardha chandra, yaitu sebuah tempat sesajian berbentuk kotak bambu melengkung yang melambangkan Dewa Syiwa.

Sebagai pelengkap, ornamen ini dihiasi dengan jajan tradisional, uang kepeng, serta sesaji lainnya.  

Keseluruhan bentuknya  yang menjulang tinggi melambangkan Gunung Agung sebagai pusat kehidupan dan sumber kesejahteraan. Sementara itu, komponennya merepresentasikan anugerah kekuatan para dewa kepada umat manusia.

Baca juga: Menelusuri Nilai Filosofis dan Estetis di Balik Rumoh Aceh

Elemen Estetika 

Dilansir dari Detik, penjor hiasan lebih fleksibel dalam pemasangannya serta tidak memiliki baku dan aturan ketat terkait waktu dan tempatnya.

Meski begitu, beberapa atribut khas penjor sakral, seperti sanggah ardha chandra, tidak boleh digunakan dalam penjor hiasan agar tetap menghormati makna sakralnya.

Menjga Keseimbangan Alam

Melansir dari Wikipedia, sebagai simbol syukur atas anugerah Tuhan, penjor mencerminkan harmoni antara alam, manusia, dan Sang Pencipta.

Tidak hanya menjadi ornamen yang memperindah suasana, namun juga mengingatkan umat Hindu pentingnya menjaga keseimbangan alam dan bersyukur atas segala nikmat yang diterima.

Dalam setiap perayaan Galungan, kehadiran penjor menjadi wujud nyata penghormatan kepada para dewa, sekaligus pengingat akan kekayaan budaya Bali yang penuh makna spiritual.

Tradisi ini tidak hanya melestarikan adat istiadat, tetapi juga memperkuat ikatan masyarakat dalam kebersamaan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

TopikBudaya
Budaya04 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan