Berita

Indonesia Juara dan Mimpi Piala Dunia

Trofi FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi pengalaman penting bagi Timnas Indonesia setelah melewati final penuh tekanan dan perjalanan panjang menuju Piala Dunia 2030.

Oleh Ridwan

Indonesia Juara dan Mimpi Piala Dunia
Timnas Indonesia merayakan gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Foto: InfoPublik.id
Diterbitkan

Sekitar 11.347 kilometer membentang antara Belanda dan Indonesia. Tetapi pada malam ketika Timnas Indonesia menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026, 5 Oktober 2026, jarak seolah kehilangan arti.

Di suatu tempat di Belanda, Irfan Bachdim sedang berada di jalan ketika matanya terus terpaku pada layar gawai, mengikuti pertandingan Indonesia melawan Thailand di final. Ketika Emil Audero menggagalkan tendangan pemain Thailand dalam drama adu penalti, Bachdim spontan bersorak.

“Juara!”

Beberapa saat kemudian, Bachdim membagikan kegembiraannya melalui media sosial dengan tulisan, “No matter where, no matter when we watch INDONESIA BECOME CHAMPION!”

Di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), sekitar 67 ribu penonton merasakan kegembiraan yang sama. Mereka berteriak, melompat, berpelukan, dan merayakan sebuah kemenangan yang selama bertahun-tahun terasa begitu dekat, tetapi selalu terlepas ketika pertandingan mencapai bagian terakhir.

Malam itu, dari Belanda hingga Senayan, dari tribun stadion hingga berbagai ruang tempat orang berkumpul untuk menonton bersama, orang-orang yang tidak saling mengenal dipertemukan oleh satu nama: Indonesia.

Kegembiraan Bachdim membawa cerita yang lebih panjang. Ia merupakan bagian dari generasi timnas Indonesia yang pernah merasakan pahitnya kekalahan di final Piala AFF 2010. Bertahun-tahun kemudian, Bachdim menyaksikan generasi berbeda mengakhiri penantian Indonesia untuk sebuah gelar di level senior.

Di Senayan, cerita lama itu akhirnya berubah.

Dua puluh empat tahun sebelumnya, Indonesia dan Thailand juga bertemu di final Piala AFF 2002 di stadion yang sama. Pertandingan ketika itu berakhir 2-2 sebelum Indonesia kalah 2-4 melalui adu penalti. Kali ini, angka-angka yang sama seperti datang kembali untuk ditulis dengan akhir yang berbeda.

Namun, kemenangan pada 5 Oktober 2026 bukan sekadar tentang perubahan akhir sebuah pertandingan. Di balik trofi itu terdapat rangkaian pengalaman yang perlahan membentuk sebuah kesebelasan, terutama dalam menghadapi situasi ketika pertandingan tidak berjalan sesuai rencana.

Final yang Menguji Segalanya

Final melawan Thailand menjadi gambaran paling nyata tentang pengalaman tersebut.

Indonesia dan Thailand bermain imbang 2-2 hingga 120 menit sebelum pertandingan ditentukan melalui adu penalti. Indonesia lebih dulu membuka keunggulan melalui Dean James pada menit ke-84, tetapi tiga menit kemudian Thailand menyamakan kedudukan melalui Iklas Sanron.

Pertandingan kembali berubah pada babak tambahan. Peeradol Chamrasamee membawa Thailand unggul 2-1 pada menit ke-111 dan Indonesia kembali berada dalam tekanan.

Lima menit kemudian, Elkan Baggott mencetak gol penyama kedudukan. Skor 2-2 bertahan hingga menit ke-120 dan pertandingan pun harus ditentukan melalui adu penalti.

Di titik itu, tekanan mencapai bentuk yang paling sederhana sekaligus paling berat: sebelas meter dari gawang.

Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama berhasil menjalankan tugas mereka untuk Indonesia. Thailand hanya mencetak dua gol melalui Manuel Bihr dan Waris Choolthong. Kapten Thailand Sarach Yooyen gagal mengeksekusi penalti, sementara tendangan Nattapong Sayriya berhasil dihentikan Emil Audero.

Indonesia menang 4-2 dalam adu penalti dan mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026.

Kemenangan itu menunjukkan bagaimana sebuah tim menghadapi perubahan keadaan dalam satu pertandingan: unggul, disamakan, tertinggal, kemudian kembali mengejar hingga pertandingan harus ditentukan dari titik penalti.

Pengalaman seperti itulah yang kemudian menjadi bagian penting dari cerita tim ini. Para pemain tahu bagaimana rasanya bermain di final, tahu bagaimana rasanya tertinggal, dan tahu bagaimana tekanan dapat berubah menjadi penentu dalam hitungan detik.

Mentalitas yang Dibangun dari Situasi Sulit

Salah satu fondasi itu terlihat ketika Indonesia menghadapi Malaysia pada fase grup. Indonesia harus bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-37 setelah Thom Haye menerima kartu merah. Dalam situasi seperti itu, John Herdman justru melihat sebuah kesempatan untuk menguji sesuatu yang lebih penting daripada taktik.

Herdman mengatakan kartu merah tersebut memberi kesempatan kepada pemain untuk membentuk persaudaraan dan belajar bertarung bersama dalam sebuah momen demi negara.

“Mereka datang ke sini dan bertarung karena mereka peduli,” kata Herdman.

Kalimat tersebut menjadi penting ketika perjalanan Indonesia kemudian berlanjut ke pertandingan-pertandingan berikutnya. Herdman tidak sedang berbicara semata-mata tentang kemampuan pemain bertahan atau mengatur permainan ketika jumlah pemain berkurang. Herdman sedang mencari bukti bahwa para pemain yang memiliki latar belakang berbeda benar-benar mau berbagi beban ketika tim berada dalam kesulitan.

Pertandingan melawan Malaysia memberikan salah satu jawabannya.

Indonesia bertahan bersama-sama, sementara Maarten Paes melakukan sejumlah penyelamatan penting. Paes juga melihat bagaimana para pemain belakang saling melindungi hingga pertandingan berakhir. Bagi Paes, situasi tersebut menunjukkan bahwa organisasi pertahanan Indonesia semakin solid, tetapi yang lebih penting adalah respons kolektif ketika keadaan menjadi sulit.

Pengalaman seperti itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan menuju final.

Indonesia mengawali FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kemenangan 2-0 atas Singapura dan bermain imbang 0-0 melawan Malaysia. Jalan menuju semifinal dan final sempat berada dalam tekanan sebelum Indonesia menghadapi Bangladesh.

Kemenangan 9-2 dalam pertandingan yang dramatis mengubah suasana. Indonesia tidak hanya mendapatkan tiket menuju fase berikutnya, tetapi juga menemukan kembali keyakinan bahwa pertandingan masih bisa dimenangkan meskipun situasi tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Dari sana, satu pola semakin terlihat: Indonesia tidak mudah kehilangan kendali ketika tertinggal.

Tim terus bermain, terus mengejar, dan tidak memperlakukan ketertinggalan sebagai tanda bahwa pertandingan telah selesai. Pola tersebut kembali muncul dalam final melawan Thailand.

Indonesia tertinggal, bangkit, kembali menghadapi tekanan, dan akhirnya harus menentukan gelar melalui adu penalti.

Di titik itulah pengalaman dari pertandingan-pertandingan sebelumnya menemukan maknanya.

Pemain Berbeda Latar Belakang Menjadi Satu Tim

Proses tersebut juga berkaitan dengan pertanyaan yang lebih besar mengenai identitas tim nasional Indonesia. Skuad Garuda semakin banyak diisi pemain dengan pengalaman dari berbagai ekosistem kompetisi sepak bola.

Ole Romeny dan Justin Hubner bermain bersama Fortuna Sittard di Eredivisie, Emil Audero memperkuat Rayo Vallecano di La Liga, Calvin Verdonk bermain untuk Lille di Ligue 1 Prancis, sementara Kevin Diks membawa pengalaman dari Bundesliga bersama Borussia Mönchengladbach. Di saat yang sama, pemain seperti Rizky Ridho dan Ragnar Oratmangoen berkembang di kompetisi domestik bersama Persija dan Persib.

Latar belakang tersebut membuat skuad Indonesia datang ke pertandingan dengan pengalaman yang tidak seragam. Ada pemain yang terbiasa dengan atmosfer kompetisi Eropa, ada yang tumbuh melalui persaingan di liga dalam negeri, dan ada pula yang membawa pengalaman dari perjalanan karier yang melintasi lebih dari satu negara. Perbedaan lingkungan itu menjadi bagian dari pengalaman bersama yang kemudian dibawa ke tim nasional.

Namun, bagi Herdman, persatuan sebuah tim tidak berhenti pada asal-usul pemain.

Beberapa bulan sebelum FIFA ASEAN Cup 2026, ketika Indonesia mendapatkan hasil undian Piala Asia 2027 dan tergabung bersama Jepang, Qatar, serta Thailand, Herdman sudah berbicara tentang pentingnya memadukan pemain diaspora dengan pemain lokal terbaik.

Menurut Herdman, proses tersebut bukan hanya mengenai evaluasi kedalaman skuad dan profil pemain, tetapi juga membangun koneksi di dalam dan luar lapangan. Herdman bahkan menggunakan istilah brotherhood sebagai bagian dari proses untuk membawa Indonesia menuju level berikutnya di Asia.

Beberapa bulan kemudian, gagasan itu mendapat ujian nyata.

Kartu merah melawan Malaysia membuat pemain harus bertahan bersama. Pertandingan-pertandingan berikutnya mengharuskan pemain berbagi tekanan. Sampai akhirnya final melawan Thailand menuntut kepercayaan penuh dari satu pemain kepada pemain lain ketika pertandingan ditentukan dari titik penalti.

Identitas sebuah tim akhirnya tidak perlu dijelaskan melalui asal-usul setiap pemain. Identitas itu terlihat dari cara para pemain berdiri bersama ketika pertandingan menjadi sulit.

Dalam konteks tersebut, kemenangan Indonesia juga memberikan bentuk baru pada gagasan kebersamaan. Indonesia tidak harus menjadi seragam untuk menjadi satu tim. Pemain dengan latar belakang berbeda dapat memiliki pengalaman yang berbeda, tetapi tetap menemukan tujuan yang sama ketika berada di lapangan.

Dan pada malam final, tujuan itu sederhana: mengangkat trofi untuk Indonesia.

Justin Hubner dan Joey Pelupessy menunjukkan medali juara, merayakan malam ketika penantian panjang Indonesia akhirnya menemukan akhirnya di FIFA ASEAN Cup 2026.

Trofi Pertama Herdman dan Jawaban terhadap Tekanan

John Herdman datang ke Indonesia dengan permintaan waktu untuk membangun sebuah tim. Sembilan bulan kemudian, Herdman membawa tim tersebut ke sebuah trofi yang sudah lama dinantikan.

Tekanan untuk memenangkan final juga tidak kecil.

Herdman mengakui suasana di sekitar GBK membuat semua orang memahami satu tuntutan yang sama: Indonesia harus menang dan mengangkat trofi. Dalam kondisi seperti itu, pertandingan final tidak hanya menjadi ujian bagi strategi, tetapi juga bagi kemampuan pemain mengelola emosi.

Sebelum final, Herdman sudah mengingatkan bahwa pertandingan seperti itu merupakan pertandingan yang berbeda. Pemain harus tetap fokus dan tidak terbawa emosi karena satu momen dapat menentukan seluruh pertandingan.

Setelah pertandingan, Herdman kembali menekankan bahwa final pada akhirnya ditentukan oleh momen, mentalitas, semangat, dan daya juang.

Adu penalti menjadi bentuk paling sederhana dari semua itu.

Indonesia telah mempersiapkan eksekusi penalti dan proses mental para pemain. Para penendang dipilih berdasarkan ketenangan dan ketajaman yang mereka tunjukkan selama persiapan. Emil Audero kemudian menyelesaikan bagian terakhir dari pekerjaan tersebut dengan penyelamatan yang mengubah sejarah pertandingan.

Bagi Herdman, kemenangan tersebut bukan hanya pencapaian pribadi sebagai pelatih. Trofi menjadi sangat istimewa karena seluruh tim memahami apa arti kemenangan tersebut bagi Indonesia.

Elkan Baggott juga menegaskan bahwa kemenangan tersebut bukan hanya milik para pemain. Staf pelatih, tim pendukung, dan semua orang yang bekerja di balik layar ikut menjadi bagian dari perjalanan panjang selama turnamen.

Itulah yang membuat trofi pertama ini memiliki arti lebih besar daripada sekadar tambahan satu gelar dalam lemari prestasi sepak bola Indonesia.

Setelah melewati begitu banyak final tanpa gelar, Indonesia akhirnya mengetahui bagaimana rasanya bertahan sampai pertandingan terakhir dan keluar sebagai pemenang.

Piala Asia 2027 Menjadi Ujian Berikutnya

Tetapi Herdman tidak melihat FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai garis akhir.

Jauh sebelum Indonesia mengangkat trofi di GBK, Herdman sudah menempatkan Piala Asia 2027 sebagai bagian dari perjalanan menuju target yang lebih besar. Hasil undian menempatkan Indonesia di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand, tiga lawan yang akan memberikan ukuran berbeda mengenai sejauh mana perkembangan tim.

Herdman menyebut Piala Asia sebagai tantangan sekaligus peluang besar. Indonesia harus terbiasa bermain di luar negeri, menghadapi lawan yang lebih kuat, dan memperkecil jarak dengan negara-negara yang selama ini berada di level lebih tinggi.

“Jika kita ingin lolos ke Piala Dunia 2030, maka jarak itu harus diperkecil,” kata Herdman.

Kalimat tersebut penting karena kemenangan atas Thailand tidak berarti Indonesia sudah mencapai level yang dituju. Trofi ini justru memberikan pengalaman baru yang bisa dibawa ke tahap berikutnya.

Piala Asia 2027 akan menjadi ruang untuk menguji pengalaman itu.

Jepang akan memberikan ujian terhadap kualitas permainan dan kedisiplinan. Qatar akan menguji kemampuan Indonesia menghadapi tim dengan pengalaman internasional yang lebih tinggi. Thailand kembali menjadi lawan yang sudah memiliki sejarah panjang dengan Indonesia.

Setiap pertandingan akan memberikan tekanan berbeda, dan setiap tekanan akan menambah pengalaman keserluruhan pemain yang sedang dibangun Herdman.

Sejak awal, Herdman memang melihat proses tersebut sebagai perjalanan bertahap. Pada Mei 2026, ketika membicarakan roadmap menuju Piala Dunia, Herdman mengatakan bahwa setiap pengalaman dalam situasi bertekanan tinggi akan membantu pemain menjadi lebih siap menghadapi momen besar dalam kualifikasi.

“Semua persiapan yang kami lakukan selalu diarahkan menuju 2030.”

Kini, kalimat tersebut memiliki konteks yang berbeda.

Indonesia kini memiliki sebuah trofi yang menjadi bagian penting dari pengalaman kelompok ini. Para pemain telah melewati tekanan final, merasakan bagaimana rasanya mengejar ketertinggalan di hadapan puluhan ribu penonton, menghadapi ketegangan adu penalti, dan akhirnya merasakan satu pengalaman yang selama ini belum mereka miliki: menjadi juara.

Pengalaman itu tidak bisa diperoleh hanya melalui latihan.

Dari GBK Menuju Mimpi Piala Dunia

Malam di GBK juga memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada pertandingan sepak bola. Di dalam stadion, puluhan ribu orang menyanyikan lagu kebangsaan dan Tanah Airku.

Di Belanda, Bachdim mengikuti pertandingan dari layar gawai. Sementara di GBK, puluhan ribu suporter menyaksikannya secara langsung, sementara dari seluruh pelosok Nusantara, orang-orang menanti detik ketika Indonesia memastikan kemenangan.

Jarak tidak lagi menjadi ukuran kedekatan ketika sebuah tim nasional bermain untuk sebuah negara.

Begitu pula dengan perbedaan latar belakang para pemain. Pengalaman dari berbagai ekosistem sepak bola itu akhirnya bertemu di lapangan dan mengarah pada satu tujuan yang sama: membawa Indonesia menjadi juara.

Karena Trofi FIFA ASEAN Cup 2026 bukan garis akhir. Kemenangan ini menjadi pengalaman penting bagi sebuah tim yang masih memiliki perjalanan panjang dan tantangan yang lebih besar di depan.

John Herdman pernah mengatakan bahwa tim ini harus membangun mentalitas berbeda, sedikit demi sedikit.

Perjalanan menuju trofi itu juga tidak sepenuhnya dibangun dari kemenangan. Beberapa bulan sebelumnya, Indonesia harus menerima kenyataan pahit setelah kalah dari Arab Saudi dan Irak pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026. Mimpi untuk tampil di Piala Dunia pun berakhir di Jeddah, meninggalkan tangis para pemain dan kekecewaan suporter.

Pengalaman seperti itu tidak serta-merta menjelaskan keberhasilan di GBK. Namun, ia menjadi bagian dari perjalanan timnas Indonesia dalam menghadapi tekanan, kekecewaan, dan pertandingan yang tidak berjalan sesuai harapan.

John Herdman pernah mengatakan bahwa tim ini harus membangun mentalitas berbeda, sedikit demi sedikit. Kemenangan atas Thailand memberikan salah satu fondasi terpenting: pengalaman menjadi juara.

Setelah bertahun-tahun datang ke final dan pulang tanpa trofi, Indonesia akhirnya belajar bagaimana menyelesaikan pekerjaan.

Kini tantangannya menjadi lebih besar. Piala Asia 2027 akan membawa Indonesia menghadapi Jepang, Qatar, dan Thailand, sementara target Piala Dunia 2030 menunggu di ujung perjalanan yang masih panjang.

Malam 5 Oktober 2026, Indonesia memang menjadi juara.

Namun, mungkin yang lebih penting adalah apa yang dibawa pulang dari GBK: sebuah trofi, pengalaman menghadapi tekanan, keyakinan bahwa tim dapat bertarung sampai akhir, dan sebuah kelompok pemain yang mulai memahami bahwa mereka tidak harus memiliki latar belakang yang sama untuk berjuang sebagai satu Indonesia.

Dari Senayan, perjalanan menuju Piala Dunia 2030 akhirnya mulai terasa sedikit lebih nyata.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait