Pendopo, Balai Agung, dan Galeri Gubernur membuka jalan untuk mengenali Jakarta dari tempat yang selama ini lebih dikenal sebagai pusat pemerintahan. Melalui Namu Balai Kota, warga dapat mengikuti tur sejarah, menyaksikan film lokal, dan mencoba menjadi reporter cilik di kompleks Balai Kota DKI Jakarta.
Program ini diuji coba pada Sabtu, 3 Oktober 2026, sebagai bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka akses kunjungan bagi masyarakat. Antusiasme warga pada pelaksanaan perdana cukup tinggi hingga pendaftaran mengalami antrean panjang. Program serupa pernah diselenggarakan pada 2015 dengan nama Wisata Balai Kota.
Kesempatan berkunjung kali ini tidak hanya menghadirkan pengalaman melihat ruang pemerintahan. Kompleks di Jalan Medan Merdeka Selatan juga menyimpan riwayat panjang mengenai perpindahan pusat pemerintahan, pergantian kekuasaan, dan perubahan Jakarta dari masa ke masa.
Pusat Pemerintahan yang Berpindah
Ketika pemerintahan kota Batavia dibentuk pada 1905, kantornya berada di De Oude Stadhuis, bangunan yang kini dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta di kawasan Taman Fatahillah, Kota Tua. Perkembangan Batavia ke arah selatan membuat pusat kegiatan pemerintahan ikut bergeser.
Pada 1913, kantor Balai Kota dipindahkan dari kawasan Batavia Lama ke Tanah Abang West, sekarang Jalan Abdul Muis Nomor 35, Jakarta Pusat. Pada 1919, kantor pemerintahan kota kembali berpindah ke Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 8–9, lokasi kompleks Balai Kota yang dikenal sekarang.
Kedua nomor bangunan tersebut memiliki riwayat fungsi yang berbeda. Bangunan nomor 8 digunakan sebagai kantor dan tempat kediaman Residen Jawa Barat, sedangkan bangunan nomor 9 digunakan sebagai kantor Gemeentehuis Batavia atau pemerintahan kota sekaligus kediaman Burgemeester, sebutan untuk wali kota pada masa kolonial.
Perpindahan itu memperlihatkan bahwa pusat pemerintahan tidak terpisah dari perkembangan kota. Ketika kawasan aktivitas Batavia berkembang ke selatan, kantor-kantor pemerintahan ikut menyesuaikan diri. Lokasi yang sekarang menjadi pusat pemerintahan provinsi pun merupakan bagian dari perubahan tata kota yang berlangsung lebih dari satu abad lalu.
Pergantian Kekuasaan dan Perubahan Bangunan
Balai Kota juga menjadi bagian dari perjalanan Jakarta ketika pemerintahan kolonial berganti menjadi pemerintahan pendudukan Jepang, kemudian pemerintahan Indonesia setelah kemerdekaan.
Pada masa pendudukan Jepang, 1942–1945, pemerintahan kota menggunakan nama Djakarta Tokubetsu Shi. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, nama pemerintahan kota berubah menjadi Pemerintahan Nasional Kota Djakarta. Kantornya dikenal sebagai Balai Agung Pemerintahan Nasional Kota Djakarta, dengan Soewirjo sebagai wali kota pertama pada masa pemerintahan Indonesia setelah kemerdekaan.
Perubahan kekuasaan kembali memengaruhi Balai Kota ketika Belanda menduduki Jakarta pada Juli 1947. Pemerintahan NICA mengambil alih Balai Agung dan pada November tahun yang sama menangkap serta mengusir Soewirjo beserta sejumlah pejabat kota. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa Balai Kota bukan sekadar tempat administrasi berlangsung, tetapi juga bagian dari sejarah perebutan dan pemulihan kekuasaan di Jakarta.
Perubahan kompleks berlanjut ketika kebutuhan pemerintahan semakin besar. Pada 1969, pembangunan gedung Blok C dilakukan untuk menyediakan ruang sidang DPRDGR, sementara gedung Blok F dibangun untuk kebutuhan sekretariat DPRD dan sekretariat daerah. Pada 1972, bangunan nomor 9 dibongkar dan digantikan gedung bertingkat yang kemudian dikenal sebagai Blok G.
Karena itu, kompleks Balai Kota saat ini tidak dapat dipahami sebagai satu bangunan lama yang seluruhnya bertahan utuh sejak masa kolonial. Kawasan ini tumbuh melalui pembangunan gedung-gedung baru dan perubahan fungsi untuk menampung aktivitas pemerintahan yang semakin beragam.
Perkembangan berikutnya menghadirkan fasilitas seperti Masjid Fatahillah dan Jakarta Smart City. Kompleks ini kemudian menjadi kawasan perkantoran yang menampung berbagai fungsi pemerintahan, sekaligus menyediakan sejumlah fasilitas untuk mendukung kegiatan masyarakat.
Tiga Cara Menemukan Jakarta di Balik Balai Kota
Melalui Namu Balai Kota, pengunjung dapat memilih tiga pengalaman utama: Tur Balai Kota, Nonton Pilem, dan Reporter Cilik. Ketiganya mempertemukan warga dengan sejarah pemerintahan, karya kreatif, dan kegiatan edukasi dalam satu kawasan.
Tur Balai Kota Menyusuri Sejarah Pemerintahan
Tur Balai Kota membawa pengunjung melewati Pendopo, Balai Agung, hingga pusat pengelolaan Jakarta Smart City. Di dalam rangkaian kunjungan ini, warga dapat mengenal Heritage Gallery, melihat Timeline Jakarta dan Galeri Gubernur, serta mencoba Governor’s Desk Experience, yaitu pengalaman duduk di replika meja kerja gubernur.
Rangkaian tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal Balai Kota melalui ruang, dokumentasi, dan cerita yang berkaitan dengan perjalanan pemerintahan Jakarta. Pendopo, misalnya, tidak hanya menjadi bagian dari kompleks perkantoran, tetapi juga ruang yang memiliki riwayat pertemuan antara pemerintah dan warga.
Pengalaman tur akan lebih bermakna ketika pengunjung tidak berhenti pada melihat ruangan, melainkan juga memahami perubahan fungsi serta cerita yang menyertainya. Dengan cara itu, sejarah tidak hanya hadir sebagai deretan tahun, tetapi terhubung dengan tempat yang masih digunakan hingga sekarang.
Nonton Pilem Membuka Ruang bagi Sineas Muda
Di Ruang Pola, program Nonton Pilem menghadirkan Jakarta Cinema Experience melalui pemutaran film lokal karya sineas muda. Program ini dikembangkan bersama komunitas film dan anak muda yang aktif memproduksi karya di bidang perfilman.
Pemanfaatan Ruang Pola sebagai tempat pemutaran film mempertemukan karya kreatif dengan penontonnya di lingkungan yang lekat dengan kegiatan pemerintahan. Karya sineas muda memperoleh ruang untuk ditayangkan dan diapresiasi publik, sementara pengunjung dapat mengenal produksi film lokal dalam suasana yang berbeda dari bioskop komersial.
Di sinilah Namu Balai Kota memiliki dimensi budaya yang lebih luas. Kompleks pemerintahan tidak hanya memperkenalkan sejarah kota, tetapi juga membuka ruang bagi kreativitas warga untuk hadir dan bertemu dengan publik.
Reporter Cilik Mengenalkan Dunia Jurnalistik
Anak-anak yang tertarik pada dunia berita dapat mengikuti program Reporter Cilik di Studio Berita Jakarta. Melalui simulasi peliputan, mereka diajak merasakan pengalaman menjadi reporter dan presenter di depan kamera.
Kegiatan ini memperkenalkan proses jurnalistik secara interaktif. Anak-anak dapat berlatih mengamati lingkungan, mengajukan pertanyaan, menyusun cerita, dan menyampaikan informasi kepada orang lain. Pengalaman tersebut sekaligus memberi ruang untuk melatih keberanian dan kemampuan berkomunikasi.
Ketiga program itu menawarkan cara berbeda untuk mengenali Jakarta: melalui ruang pemerintahan dan sejarahnya, karya film lokal, serta pengalaman menyampaikan informasi. Di luar kegiatan terjadwal tersebut, pengunjung juga dapat menikmati area komunitas, pertunjukan musik, permainan tradisional, dan kuliner.
Dari Tur hingga Layanan Publik
Namu Balai Kota juga menggabungkan pengalaman kunjungan dengan layanan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan warga. Dalam rangkaian kegiatan yang diperkenalkan pada pelaksanaan perdana, tersedia layanan paspor, SIM Keliling, Perpustakaan Keliling, dan Samsat Keliling.
Masyarakat juga dapat memanfaatkan pemeriksaan kesehatan gratis, layanan administrasi kependudukan, perizinan berusaha, pembukaan rekening Bank Jakarta, kegiatan pilah sampah, serta pelatihan penggunaan alat pemadam api ringan.
Tidak semua kegiatan tersebut memerlukan reservasi. Tur Balai Kota, Nonton Pilem, dan Reporter Cilik merupakan kegiatan terjadwal yang harus dipesan terlebih dahulu, sedangkan sejumlah fasilitas seperti Mini Mal Pelayanan Publik, Community Playground, pertunjukan musik, dan area kuliner dapat dinikmati tanpa mengikuti reservasi ketiga paket tersebut.
Bagi warga yang ingin berkunjung, program ini diselenggarakan setiap dua minggu sekali pada hari Sabtu, pukul 08.00–17.30 WIB, berdasarkan informasi Jakarta Smart City yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026. Pendaftaran kegiatan terjadwal tidak dipungut biaya, tetapi kuotanya terbatas.
Jakarta dari Kompleks Pemerintahan
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan tujuan pembukaan akses Balai Kota bagi masyarakat pada Jumat, 2 Oktober 2026. “Saya sudah meminta kepada Kepala Dinas Kominfotik, untuk apa Balai Kota dan sarana-prasarana yang dimiliki oleh Balai Kota yang selama ini tertutup bagi publik, saya izinkan untuk dibuka bagi publik,” ujarnya di Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Sehari kemudian, ketika uji coba Namu Balai Kota berlangsung, Pramono kembali menekankan makna tempat tersebut bagi perjalanan ibu kota. “Balai Kota bukan hanya tempat aparatur pemerintah bertugas, tetapi juga bagian dari sejarah panjang perjalanan Jakarta,” katanya di Balai Kota Jakarta, Sabtu, 3 Oktober 2026. Ia berharap warga dapat datang, berinteraksi, dan melihat secara langsung bagaimana pemerintah bekerja melayani masyarakat.
Pada hari yang sama, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno juga mengajak masyarakat mengenali cerita yang tersimpan di kompleks tersebut. Dalam laporan RRI pada Sabtu, 3 Oktober 2026, Rano mengatakan, “Balai Kota punya banyak cerita tentang Jakarta yang mungkin belum diketahui. Datanglah bersama keluarga, ajak anak-anak, kenali ruang-ruang yang menjadi bagian dari perjalanan kota ini, lalu nikmati karya seni, kegiatan komunitas, dan kuliner.”
Pernyataan kedua pemimpin daerah tersebut memberi konteks bagi Namu Balai Kota: membuka akses bukan hanya agar warga dapat melihat ruang kerja pemerintahan, tetapi juga memberi kesempatan untuk mengenali tempat yang menjadi bagian dari perjalanan Jakarta.
Namun, pengalaman berkunjung akan semakin bermakna apabila setiap ruang disertai cerita yang membantu pengunjung memahami sejarahnya, perubahan fungsinya, dan peristiwa yang pernah berlangsung di sana. Dengan begitu, tur Balai Kota tidak berhenti pada kesempatan melihat bagian dalam gedung, tetapi juga menjadi jalan untuk memahami perjalanan kota.
Dari pusat pemerintahan Batavia hingga kompleks modern di Medan Merdeka Selatan, Balai Kota telah berubah mengikuti perkembangan Jakarta. Kini, melalui Namu Balai Kota, warga mendapat kesempatan untuk mendekati ruang tersebut sekaligus menemukan cerita yang menyertainya.
Pintu yang terbuka menjadi awal dari pengalaman itu. Mengenali Jakarta tidak hanya berarti menyusuri jalan, kawasan kota lama, atau museum, tetapi juga memahami ruang-ruang yang terus mengambil bagian dalam kehidupan ibu kota.






