Berita

Kemenangan Dramatis Bulu Tangkis Indonesia Putus Dahaga Emas 28 Tahun

Sorot lampu di Ichinomiya City Municipal Gymnasium terasa makin membakar. Ketika papan skor menunjukkan angka 0-2 untuk keunggulan China, napas jutaan rakyat Indonesia seolah tertahan di tenggorokan. Bayang-bayang kegagalan membayang rapat, namun di balik garis lapangan, anak-anak muda Merah Putih menolak untuk bertekuk lutut. Dari tepian jurang kekalahan itulah, sebuah mahakarya perjuangan dan mental baja […]

Oleh Ridwan

Kemenangan Dramatis Bulu Tangkis Indonesia Putus Dahaga Emas 28 Tahun
Tim bulu tangkis beregu putra Indonesia berdiri bangga di atas podium tertinggi usai menerima medali emas pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Jepang. Kemenangan dramatis 3-2 atas China ini resmi mengakhiri dahaga emas nomor beregu putra selama 28 tahun sejak Asian Games 1998. Foto: Istimewa
Diterbitkan

Sorot lampu di Ichinomiya City Municipal Gymnasium terasa makin membakar. Ketika papan skor menunjukkan angka 0-2 untuk keunggulan China, napas jutaan rakyat Indonesia seolah tertahan di tenggorokan. Bayang-bayang kegagalan membayang rapat, namun di balik garis lapangan, anak-anak muda Merah Putih menolak untuk bertekuk lutut.

Dari tepian jurang kekalahan itulah, sebuah mahakarya perjuangan dan mental baja diukir manis, mengakhiri dahaga emas yang telah terbentang selama 28 tahun.

Awal laga final beregu putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi ujian amat berat. Langkah Indonesia tertahan usai Jonatan Christie menyerah di tangan Shi Yu Qi, disusul ketatnya ganda utama Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang harus mengakui keunggulan Liang Wei Keng/Wang Chang. Skor 0-2 membuat Indonesia berada di batas jurang kekalahan, di mana satu kesalahan kecil berarti musnahnya impian.

Namun, arena bulu tangkis bukanlah panggung matematis yang kaku. Harapan pertama kembali menyala lewat ayunan raket Alwi Farhan di partai ketiga. Bermain dengan determinasi tinggi saat membungkam Li Shi Feng dalam pertarungan tiga gim ketat, Alwi tidak hanya menyumbang angka pertama, melainkan meniupkan roh kebangkitan bagi skuad Merah Putih.

Api semangat yang dinyalakan Alwi segera menyambar ke partai keempat. Pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin tampil tanpa beban namun sangat mematikan. Menghadapi He Ji Ting/Liu Yi, Leo/Daniel membalikkan tekanan dengan permainan taktis yang mengunci keunggulan 21-10 di gim penentu.

Kedudukan imbang 2-2 mengubah atmosfer arena secara drastis. Ketegangan memuncak saat pertarungan final beregu ini harus ditentukan oleh partai kelima—panggung hidup-mati bagi kedua negara.

Dinginnya Tangan Ubed di Partai Penentu

Tugas mahaberat itu jatuh ke pundak Mohammad Zaki Ubaidillah, yang akrab disapa Ubed. Bertanding pada partai pemungkas melawan wakil China, Weng Hong Yang, pemuda ini memikul ekspektasi seluruh bangsa di usianya yang masih sangat muda. Tekanan kian terasa saat Ubed sempat tertinggal 0-4 akibat eror di awal gim.

Tetapi, di situlah kualitas mental seorang juara teruji. Ubed perlahan menata ritme, melepas pukulan dropshot akurat, dan mempertahankan fokus hingga memenangi gim pertama 23-21. Memasuki gim kedua, permainan Ubed kian cair dan percaya diri.

Ragam variasi pukulan dan ketenangannya memaksa Weng Hong Yang menyerah 21-13. Smes terakhirnya menandai lahirnya medali emas pertama Indonesia di Aichi-Nagoya 2026.

Ya, pastinya perasaannya campur aduk dan alhamdulillah senang juga bisa ngambil poin ini. Pastinya sangat bangga lah bisa menyumbang poin untuk tim karena tadi sempat tertinggal 0-2. Saya tidak terlalu memikirkan itu sih, pasti masih yakin kalau masih bisa. Tadi juga sempat tegang di awal-awal,” ungkap Ubed usai laga.

Keberhasilan Ubed mengatasi tekanan maha dahsyat tersebut tak lepas dari gemuruh sorak-sorai rekan-rekannya di pinggir lapangan yang tak henti membakar semangat.

“Ada tanggung jawab yang harus saya selesaikan dengan baik. Ada tim juga tadi yang enggak berhenti sama sekali mendukung saya dan, ya, pastinya campur aduk, senang banget hari ini,” tambah Ubed.

Mengulang Kejayaan Sejarah Bangkok 1998

Capaian ini bukan sekadar medali pengisi lemari piala, melainkan momentum pemutus sejarah panjang. Terakhir kali Indonesia merebut medali emas nomor beregu putra bulu tangkis Asian Games adalah pada edisi 1998 di Bangkok. Penantian hampir tiga dekade itu akhirnya tuntas berkat darah muda yang tidak gentar menghadapi nama besar lawan.

“Kemenangan ini sangat istimewa karena lahir dari perjuangan, kerja keras, disiplin, dan semangat pantang menyerah para atlet. Setelah 28 tahun, Indonesia kembali berdiri di podium tertinggi beregu putra Asian Games,” ungkap Menpora RI Erick Thohir.

Menurut Menpora Erick, raihan emas tersebut lahir dari determinasi, disiplin tinggi, serta semangat juang pantang menyerah yang ditunjukkan para atlet dan seluruh tim pendukung sepanjang turnamen.

Kemenangan dramatis 3-2 atas Raksasa Asia ini membawa energi positif luar biasa bagi Kontingen Indonesia. Lebih dari sekadar statistik, perjuangan di Ichinomiya mengajarkan satu hal: selama raket belum dijatuhkan dan semangat belum padam, Merah Putih selalu punya cara untuk bangkit dan menang.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT