Budaya

Kesenian Sholawat Montro Khas Bantul Sarat Makna Religius

Montro, atau Kesenian Sholawat Montro, merupakan salah satu warisan budaya khas yang berasal dari Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Seni ini menonjolkan puji-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW yang disampaikan dengan indah melalui tembang, iringan musik tradisional gamelan, dan rebana. Asal-Usul Montro Melansir dari regional.espos.id, kesenian Montro pertama kali diciptakan Kanjeng Pangeran Yudhanegara, […]

Oleh Achmad Aristyan

Kesenian Sholawat Montro Khas Bantul Sarat Makna Religius
Tari Montro yang menjadi warisan budaya dari Bantul. Foto: 2022.fky.id
Diterbitkan

Montro, atau Kesenian Sholawat Montro, merupakan salah satu warisan budaya khas yang berasal dari Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Seni ini menonjolkan puji-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW yang disampaikan dengan indah melalui tembang, iringan musik tradisional gamelan, dan rebana.  

Asal-Usul Montro  

Melansir dari regional.espos.id, kesenian Montro pertama kali diciptakan Kanjeng Pangeran Yudhanegara, menantu Sultan Hamengkubuwono VIII, pada 11 April 1939.

Kanjeng Pangeran Yudhanegara, tidak hanya seniman tetapi juga panglima laut Hindia Belanda.

Montro berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta, untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Lokasi awalnya adalah di Kauman, Pleret, Bantul, tempat di mana kesenian ini pertama kali muncul dan mulai dikenal. 

Dengan latar belakangnya, ia berhasil menciptakan kesenian yang menggabungkan unsur spiritual dan estetika, menjadikan Montro sebagai simbol perayaan religius dan seni budaya yang indah.  

Perkembangan dan Eksistensi  

Seiring waktu, Montro tidak lagi terbatas pada lingkungan keraton. Kesenian ini merambah masyarakat umum dan menjadi bagian dari tradisi rakyat. 

Hingga saat ini, Montro tetap lestari di Kauman, Pleret, dan terus tampil dalam berbagai acara kebudayaan di Yogyakarta, menjadikannya ikon kebanggaan Kabupaten Bantul.

Dibawah bimbingan maestro kesenian Montro, H. Suratijan, kesenian ini berkembang menjadi dua versi:  

  1. Versi Lama: Tetap mempertahankan tradisi asli.  
  2. Versi Kreasi Baru: Mengadaptasi elemen modern untuk menarik minat generasi muda.  

Montro kini dimainkan dua generasi, yaitu generasi tua (dewasa) dan generasi muda (anak-anak), yang bersama-sama menjaga kelangsungan seni ini.  

Keunikan dan Tata Pertunjukan Montro  

Melansir dari merdeka.com, pentas Montro diawali pembacaan kandha (salam pembuka) yang disampaikan dalang. Lalu, para penampil menyanyikan shalawat dalam bahasa Arab dengan pelafalan khas Jawa, diiringi musik dan tarian.  

Alat musik utamanya rebana dengan berbagai ukuran, masing-masing memiliki fungsi tertentu, seperti kendang, gong, atau kempul. Penampilan dipimpin seorang dalang, sementara para vokalis dan penabuh musik duduk mengelilinginya.  

Jumlah penari antara 8 hingga 10 orang. Tarian dilakukan dengan gerakan yang bervariasi, termasuk duduk, berdiri, dan berjalan kecil. Terkadang, para penari juga bersautan secara serempak, menciptakan suasana yang penuh semangat.  

Warisan Budaya yang Terus Dijaga  

Montro tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana menyampaikan pesan spiritual dan budaya.

Dengan tampil dalam berbagai acara budaya di Yogyakarta, Kesenian Sholawat Montro berhasil mempertahankan posisinya sebagai seni tradisional yang relevan hingga kini.  

Komitmen masyarakat Pleret, khususnya di Kauman, serta kontribusi seniman seperti H. Suratijan, menjadi kunci utama pelestarian Montro sebagai salah satu kesenian khas Bantul yang membanggakan. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya21 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan