Sembilan pusaka dari berbagai kerajaan dan kesultanan di Indonesia berkumpul dalam satu kirab di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026. Di antara pusaka itu terdapat keris, Piso Gaja Dompak, dan tombak yang terkait dengan perjalanan sejarah serta tradisi kepemimpinan di berbagai daerah.
Kirab Pusaka yang digelar Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tersebut bukan sekadar arak-arakan benda bersejarah. Melalui prosesi yang melibatkan ratusan peserta, pusaka diperkenalkan kembali kepada masyarakat sebagai bagian dari kekayaan budaya yang tumbuh di berbagai wilayah Nusantara.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kebudayaan 2026. Kirab dimulai dengan penyerahan keris pusaka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, kepada Juru Pusaka di Museum Keris Indonesia.
Dari museum itu, rombongan bergerak menuju Danau Archipelago sebelum kembali ke titik keberangkatan. Barisan kirab dibuka oleh Juru Jejampang dan Tari Loro Blonyo, kemudian diikuti Kalowijan, para sesepuh, muda-mudi berprestasi, dan pembawa pusaka.
Jajaran pimpinan, Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon, serta masyarakat umum melengkapi iring-iringan.
Di tengah rangkaian tersebut, sembilan pusaka menjadi perhatian utama. Masing-masing membawa keterkaitan dengan kerajaan, kesultanan, atau tokoh sejarah dari wilayah yang berbeda.
Sembilan Pusaka dari Berbagai Penjuru
Pusaka yang dihadirkan dalam kirab mencakup Keris Ki Aliawang dari Kesultanan Banjarmasin, Keris Jaka Piturun dari Kesultanan Bangkalan, serta Piso Gaja Dompak milik Sisingamangaraja XII. Ada pula Keris Riau-Lingga, Keris Singapraga dari Kerajaan Badung, dan Keris Kesultanan Gowa.
Tiga pusaka lainnya ialah Keris Merak Manyura dari Kesultanan Palembang, Tombak Kiai Rondhan yang dikaitkan dengan Pangeran Diponegoro, serta Keris Kesultanan Banten.
Kehadiran pusaka-pusaka tersebut memperlihatkan luasnya bentang warisan budaya Indonesia. Di balik bentuk dan nama yang berbeda, benda-benda itu memiliki hubungan dengan perjalanan sejarah, tradisi kepemimpinan, dan perjuangan masyarakat di daerah asalnya.
Pengenalan pusaka kepada masyarakat juga membuka kesempatan untuk melihat sejarah Nusantara melalui peninggalan material. Benda-benda tersebut bukan hanya bagian dari koleksi atau dokumentasi masa lalu, melainkan warisan yang dapat membantu masyarakat mengenali hubungan antara kebudayaan dan perjalanan sejarah di berbagai daerah.
Melalui kirab, kekayaan tersebut dihadirkan dalam ruang publik agar dapat disaksikan bersama. Masyarakat tidak hanya berhadapan dengan nama-nama kerajaan yang tercatat dalam sejarah, tetapi juga dengan benda budaya yang menjadi bagian dari warisan masing-masing wilayah.
Ruwatan Bumi Menghadirkan Tradisi Kebersamaan
Setelah kirab berakhir, rangkaian kegiatan berlanjut dengan Ruwatan Bumi. Jika kirab menghadirkan pusaka sebagai penanda warisan sejarah, prosesi berikutnya memperlihatkan tradisi yang bertumpu pada doa, sajian, dan kebersamaan.
Ruwatan Bumi diawali dengan wilujengan atau doa. Prosesi ini disertai sajian tumpeng, ingkung ayam, dan pisang raja setangkep. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan prosesi ngala/ngalap berkah yang menghadirkan Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta turut melakukan pemotongan tumpeng dan pelepasan burung dara. Setelah itu, peserta mengikuti kembul bujana, yakni makan bersama.
Rangkaian tersebut mempertemukan berbagai unsur tradisi dalam satu kegiatan. Doa, sajian, gunungan, dan makan bersama menjadi bagian dari prosesi yang dijalankan dalam Ruwatan Bumi pada peringatan Hari Kebudayaan 2026.
Penyelenggaraan kirab dan ruwatan dalam satu rangkaian menghadirkan dua bentuk ekspresi budaya sekaligus. Pusaka memperlihatkan peninggalan yang terkait dengan sejarah kerajaan dan kesultanan, sedangkan Ruwatan Bumi menghadirkan praktik tradisi yang melibatkan doa dan kebersamaan masyarakat.
Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan kegiatan ini sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mengapresiasi tradisi Nusantara. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat komitmen terhadap pelindungan dan pemajuan kebudayaan Indonesia.
Sembilan pusaka itu mungkin berasal dari wilayah dan perjalanan sejarah yang berbeda. Namun, ketika hadir dalam satu kirab di TMII, semuanya memperlihatkan satu kenyataan: kekayaan budaya Indonesia tidak bertumpu pada satu kerajaan, satu daerah, atau satu tradisi. Keragaman itulah yang membentuk bentang warisan Nusantara dan menjadi alasan untuk terus mengenalinya.








