Cerita Rakyat

Kisah Cinta dan Perebutan Takhta dalam Kisah Lutung Kasarung

Kisah Lutung Kasarung merupakan salah satu cerita rakyat yang kerap diwariskan secara turun-temurun di masyarakat Sunda, Jawa Barat. Dongeng ini telah menjadi bahan ajar di sekolah, pengantar tidur, hingga sumber inspirasi bagi karya seni lainnya, seperti buku cerita, teater, dan film. Keberadaannya tidak hanya memperkaya budaya lokal tetapi juga memberikan pelajaran moral mendalam tentang cinta, […]

Oleh Achmad Aristyan

Kisah Cinta dan Perebutan Takhta dalam Kisah Lutung Kasarung
Ilustrasi cerita rakyat Lutung Kasarung. Foto: Tangkapan layar Youtube/Dongeng Kita
Diterbitkan

Kisah Lutung Kasarung merupakan salah satu cerita rakyat yang kerap diwariskan secara turun-temurun di masyarakat Sunda, Jawa Barat. Dongeng ini telah menjadi bahan ajar di sekolah, pengantar tidur, hingga sumber inspirasi bagi karya seni lainnya, seperti buku cerita, teater, dan film. 

Keberadaannya tidak hanya memperkaya budaya lokal tetapi juga memberikan pelajaran moral mendalam tentang cinta, kesabaran, dan kejujuran.  

Adaptasi Seni 

Cerita ini pertama kali diadaptasi R.A.A. Wiranatakusumah V, Bupati Bandung tahun 1921 ke dalam bentuk gending karesmen (drama musikal). Tahun 1926, kisahnya diangkat ke layar lebar dalam film bisu Loetoeng Kasaroeng (1926), yang disutradarai G. Kruger dan L. Heuveldorp. 

Film ini dianggap sebagai tonggak sejarah sinema Hindia Belanda karena mendapat sambutan positif dari masyarakat. Selain film, Lutung Kasarung juga hadir dalam bentuk buku karya Tilly Dalton (1950) dan berbagai pagelaran teater. 

Salah satu pertunjukan yang terkenal adalah musikal arahan almarhum Didi Petet pada 2011 serta seri #MusikalDiRumahAja karya Nia Dinata (2020), yang diproduksi BOOWLive dan Indonesia Kaya. 

Kerajaan Pasir Batang 

Legenda ini dimulai di Kerajaan Pasir Batang, yang dipimpin Prabu Tapa Agung, seorang raja bijaksana yang telah menua. Sang raja tidak memiliki putra mahkota, sehingga ia harus memilih salah satu dari tujuh putrinya untuk menggantikannya.  

Dari ketujuh putrinya, lima telah menikah, sehingga hanya tersisa dua: Purbararang, si sulung yang dikenal sombong dan pendengki, serta Purbasari, si bungsu yang berhati lembut dan ramah.

Setelah pertimbangan matang, Prabu Tapa Agung memilih Purbasari sebagai pewaris takhta, keputusan yang disambut baik rakyat namun memicu amarah Purbararang.  

Tak terima, Purbararang bersekongkol dengan tunangannya, Raden Indrajaya, untuk mencelakai Purbasari. Dengan bantuan seorang penyihir bernama Ni Ronde, mereka membuat tubuh Purbasari dipenuhi bercak hitam. Keadaan ini dimanfaatkan Purbararang untuk menyingkirkan Purbasari ke hutan dengan alasan penyakit menular.  

Keajaiban di Hutan

Dalam pengasingannya, Purbasari bertemu dengan seekor kera hitam bernama Lutung Kasarung, yang tak lain adalah jelmaan dewa Sanghyang Guruminda. Sang dewa turun ke Bumi atas perintah ibunya, Sunan Ambu, untuk mencari cinta sejati. 

Dalam wujud kera, ia ingin mendapatkan cinta tanpa melihat rupa. Persahabatan antara Purbasari dan Lutung Kasarung berkembang menjadi hubungan yang penuh kasih. 

Ketulusan Purbasari membuat Lutung Kasarung memohon bantuan dari Sunan Ambu untuk menyembuhkan sang putri. Dengan kekuatan magisnya, Sunan Ambu menciptakan sebuah telaga bernama Jamban Salaka yang dapat menghilangkan kutukan di tubuh Purbasari.  

Setelah mandi di telaga, kecantikan Purbasari kembali bersinar, bahkan melebihi paras Purbararang. Keajaiban ini menjadi awal bagi Purbasari untuk kembali merebut takhtanya.  

Perebutan Takhta

Ketika Purbasari kembali ke istana, Purbararang tidak menerima keputusan Prabu Tapa Agung yang ingin mengembalikan takhta kepada sang bungsu. Ia menantang Purbasari untuk berduel.  

Duel pertama adalah lomba rambut terpanjang, yang dimenangkan Purbasari berkat doa Lutung Kasarung. Namun, Purbararang mengajukan duel kedua, yaitu membandingkan ketampanan tunangan masing-masing. 

Ia yakin tunangannya, Raden Indrajaya, akan lebih tampan dibandingkan seekor lutung. Namun, Lutung Kasarung akhirnya menampakkan wujud aslinya sebagai Sanghyang Guruminda, seorang dewa yang tampan dan gagah. Pesona Sanghyang Guruminda memukau semua orang, termasuk Purbararang, yang akhirnya mengakui kekalahannya.  

Akhir Bahagia

Purbararang meminta maaf atas perbuatannya, dan Purbasari memaafkan kakaknya. Dengan restu Prabu Tapa Agung, Purbasari menikah dengan Sanghyang Guruminda dan memimpin Kerajaan Pasir Batang dengan bijaksana. 

Legenda Lutung Kasarung mengajarkan pentingnya kejujuran, ketulusan, dan kesabaran. Kisah ini juga menyoroti nilai kebijaksanaan dalam memimpin dan cinta sejati yang melampaui rupa fisik. (Dari berbagai sumber)

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat24 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan