Profil

Kisah Pejuang Nyi Ageng Serang, Pengatur Strategi Perang

Nyi Ageng Serang, yang lahir dengan nama asli Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi, adalah salah satu sosok perempuan tangguh yang tercatat dalam sejarah perjuangan Indonesia. Sebagai putri Pangeran Natapraja, penguasa wilayah Serang di Jawa Tengah sekaligus Panglima Perang Sultan Hamengku Buwono I, ia mewarisi semangat juang yang kuat sejak belia. Keturunan Sunan Kalijaga […]

Oleh Achmad Aristyan

Kisah Pejuang Nyi Ageng Serang, Pengatur Strategi Perang
Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang (kiri). Ilustrasi: Lukisan penyerahan diri Pangeran Diponegoro kepada Jenderal de Kock pada 1830 di akhir Perang Diponegoro.(Kanan- Foto: Wikimedia Commons)
Diterbitkan

Nyi Ageng Serang, yang lahir dengan nama asli Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi, adalah salah satu sosok perempuan tangguh yang tercatat dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Sebagai putri Pangeran Natapraja, penguasa wilayah Serang di Jawa Tengah sekaligus Panglima Perang Sultan Hamengku Buwono I, ia mewarisi semangat juang yang kuat sejak belia.  

Keturunan Sunan Kalijaga 

Tidak hanya berasal dari garis keturunan penguasa, Nyi Ageng Serang juga merupakan keturunan langsung dari Sunan Kalijaga, salah satu Walisongo yang dihormati.

Ia juga memiliki cucu yang kelak menjadi pahlawan besar di bidang pendidikan, yakni Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa dan tokoh utama dalam perjuangan pendidikan nasional.

Perang Diponegoro  

Melansir dari Wikipedia, pada awal Perang Diponegoro tahun 1825, meskipun telah berusia 73 tahun, Nyi Ageng tetap memimpin pasukannya untuk mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda.

Dengan keberanian luar biasa, ia memimpin langsung dari atas tandu. Selain menjadi pemimpin perang, ia juga dikenal sebagai penasihat strategi yang sangat dihormati Pangeran Diponegoro.

Daerah yang menjadi medan perjuangannya meliputi Purwodadi, Demak, Semarang, Juwana, Kudus, hingga Rembang. 

Salah satu strategi perangnya yang terkenal adalah penggunaan daun talas hijau untuk penyamaran, yang disebut sebagai “lembu”, sehingga pasukan dapat bergerak tanpa terdeteksi musuh.

Nyi Ageng Serang tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga mengikuti latihan perang dan siasat perang bersama prajurit pria. Baginya, penjajahan harus dilawan dengan segenap kemampuan, tanpa memandang usia atau jenis kelamin.

Penasihat Sultan

Atas permintaan Pangeran Diponegoro, Nyi Ageng bermarkas di Prambanan, dekat dengan Yogyakarta, untuk menjalin hubungan langsung dengan Keraton. Selain itu, Nyi Ageng juga mendapatkan mandat untuk memberikan nasihat kepada Sultan Sepuh, Sultan Hamengku Buwono II. 

Di sisi lain, Ia juga masih memimpin pasukan yang bergerilya di sekitar Desa Beku, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, yang menjadi salah satu titik penting perjuangan.

Penghormatan  

Nyi Ageng Serang wafat pada tahun 1838 dalam usia 86 tahun. Pemerintah Indonesia juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Nyi Ageng Serang melalui Keputusan Presiden No. 084/TK/Tahun 1974 pada 13 Desember 1974. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikProfil
Profil16 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →
Pengunjung membaca buku di perpustakaan Baca Di Tebet, Jakarta Selatan

Baca di Tebet, Oase Ruang Literasi di Jakarta

Di tengah ritme Jakarta yang serba cepat dan instan, Baca Di Tebet menawarkan tempat untuk melambat sejenak—menghubungkan buku, percakapan, dan ekosistem kreatif dalam satu ruang perjumpaan.

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan