Cerita Rakyat

Kweiya, Legenda Burung Cantik Cendrawasih dari Papua

Kweiya adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Kisah ini mengandung pesan moral yang kuat tentang kesetiaan, keikhlasan, dan bagaimana perasaan iri hati dapat membawa dampak buruk. Awal Kisah: Penemuan Ajaib di Pegunungan Fakfak Melansir dari papua.inews.id, alkisah seorang perempuan yang tinggal di pegunungan Fakfak bersama anjingnya menemukan buah […]

Oleh Achmad Aristyan

Kweiya, Legenda Burung Cantik Cendrawasih dari Papua
Ilustrasi laki-laki dan perempuan serta kedua anaknya Pohak dan Nggein bersama Kweiya. Gambar: dongengceritarakyat.com
Diterbitkan

Kweiya adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Kisah ini mengandung pesan moral yang kuat tentang kesetiaan, keikhlasan, dan bagaimana perasaan iri hati dapat membawa dampak buruk. 

Awal Kisah: Penemuan Ajaib di Pegunungan Fakfak

Melansir dari papua.inews.id, alkisah seorang perempuan yang tinggal di pegunungan Fakfak bersama anjingnya menemukan buah merah yang tampak lezat. Ketika buah dibuka, keajaiban pun terjadi, di dalamnya ada bayi laki-laki. 

Bayi itu diberi nama Kweiya dan dirawat seperti anak sendiri. Kweiya tumbuh menjadi anak yang baik.

Tak lama setelah itu, perempuan itu kemudian menikah dengan seorang laki-laki dan melahirkan sepasang anak kembar yang diberi nama Pohak dan Nggein.

Meski mereka tumbuh bersama, Pohak dan Nggein sering merasa iri kepada Kweiya karena kebaikan dan perhatian yang ia dapatkan dari kedua orangtua mereka.

Transformasi Ajaib Kweiya

Iri hati Pohak dan Nggein memuncak, hingga mereka sering memukuli Kweiya, saat kedua orang tua mereka tidak berada di rumah atau honai. Kesedihan Kweiya mendorongnya untuk mencari pelarian. 

Diam-diam, ia memintal kulit pohon menjadi tali dan membuat sayap dari pintalan itu. Ketika orang tuanya kembali, Kweiya memanjat honai, mengenakan sayapnya, dan secara ajaib berubah menjadi burung yang sangat cantik.  

Pohak dan Nggein menyesal melihat Kweiya terbang menjauh. Dalam kemarahan dan kesedihan, mereka saling lempar abu dari tungku api hingga tubuh mereka hitam legam. Secara ajaib mereka berubah menjadi burung hitam buruk rupa.

Burung Cendrawasih yang dianggap merupakan Kweiya. Foto: Shutterstock/Wisnu Yudowibowo

Reuni di Langit

Pohak dan Nggein, yang kini telah menjadi burung hitam, mencari Kweiya untuk meminta maaf. Mereka menemukan Kweiya yang telah ditangkap seorang pemburu. 

Dengan keberanian, mereka membebaskan Kweiya. Setelah itu, Pohak dan Nggein meminta maaf.

Keajaiban terjadi lagi, tubuh mereka yang hitam berubah menjadi berwarna-warni, menyerupai keindahan alam Papua. Ketiga burung itu terbang bersama di langit, menari-nari dalam keindahan, menunjukkan sebuah harmoni.

Hubungan Kweiya dengan Cenderawasih  

Meskipun dalam cerita tidak disebutkan secara langsung bahwa Kweiya adalah burung Cenderawasih, deskripsi burung cantik yang “terbang menari-nari” memiliki kemiripan yang kuat dengan burung Cenderawasih, ikon keindahan Papua. 

Buku Kweiya karya Sefilianto Ahmad Darmansyah mengilustrasikan kisah ini dengan gambar burung Cenderawasih yang anggun, memperkuat kaitan antara cerita rakyat ini dan simbol alam Papua.  

Pesan Moral dan Makna Budaya  

Legenda Kweiya dari Papua mengajarkan pentingnya kasih sayang, pengampunan, dan bagaimana penyesalan serta rekonsiliasi dapat membawa kedamaian.

Kisah ini juga menggambarkan kekayaan alam dan budaya Papua, menghubungkan manusia dengan keindahan lingkungannya melalui mitos yang penuh makna.  

Kweiya adalah cerminan harmoni yang dapat tercipta ketika manusia dan alam hidup berdampingan dalam keharmonisan, sebagaimana burung-burung yang menari di langit Fakfak.

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat17 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan