Seorang pemuda kembali ke Tanah Gayo setelah bertahun-tahun merantau. Ia kemudian menikahi seorang perempuan tanpa mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah adik kandungnya sendiri. Ketika hubungan mereka akhirnya terungkap, sebuah peristiwa tragis terjadi di Danau Laut Tawar.
Demikianlah kisah yang dikenal sebagai legenda Puteri Ijo, salah satu cerita rakyat masyarakat Gayo di Aceh Tengah. Cerita ini diwariskan melalui penuturan yang menghubungkan perpisahan keluarga dengan kepercayaan mengenai sosok penghuni danau.
Kepulangan yang Membawa Petaka
Pada masa yang tidak disebutkan secara pasti, seorang pemuda meninggalkan kampung halamannya di kawasan Takengon untuk merantau ke pesisir Aceh. Ia pergi jauh dari keluarga dan lingkungan tempatnya dibesarkan.
Perantauan itu berlangsung lama. Kehidupan di tempat baru membuatnya semakin jauh dari asal-usulnya. Dalam salah satu penuturan, pemuda tersebut bahkan diceritakan telah melupakan bahasa yang dahulu digunakannya.
Tidak diketahui berapa tahun ia menghabiskan hidup di perantauan. Cerita juga tidak menjelaskan bagaimana hubungannya dengan keluarga selama masa tersebut.
Ketika akhirnya pulang, ia kembali ke daerah asal yang telah lama ditinggalkannya. Banyak hal telah berubah, termasuk orang-orang yang dahulu dikenalnya.
Di Tanah Gayo, pemuda itu bertemu dengan seorang perempuan. Keduanya kemudian menikah tanpa menyadari hubungan keluarga yang sebenarnya.
Lelaki itu tidak mengenali perempuan tersebut sebagai adik kandungnya. Sang perempuan pun tidak mengetahui bahwa orang yang menjadi suaminya adalah abang yang telah lama terpisah darinya.
Pernikahan mereka berlangsung dalam ketidaktahuan. Masa lalu yang menghubungkan keduanya baru terungkap setelah perkawinan terjadi.
Pada suatu ketika, sang perempuan menemukan sebuah tanda yang membuatnya mengenali identitas suaminya. Ia pun menyadari bahwa lelaki tersebut adalah saudara kandungnya sendiri.
Cerita yang terdokumentasi dalam sumber ringkas tidak menjelaskan dengan pasti bentuk tanda yang ditemukan itu. Namun, penemuan tersebut menjadi titik balik yang mengubah perjalanan kedua tokoh.
Perempuan itu kini mengetahui kenyataan yang sebelumnya tersembunyi. Lelaki yang dinikahinya ternyata merupakan bagian dari keluarganya sendiri.
Dalam penuturan legenda, perempuan tersebut kemudian meninggalkan tempatnya berada dan pergi menuju Danau Laut Tawar.
Ia menaiki sebuah perahu di tepi danau, lalu mendayung menjauh dari daratan. Perahu itu membawanya ke bagian tengah perairan.
Menurut cerita, sesampainya di tengah danau, perempuan tersebut terjun ke air dan menghilang.
Tidak ada keterangan mengenai apa yang dilakukan pemuda itu setelah peristiwa tersebut. Kisah selanjutnya justru beralih kepada keberadaan sang perempuan dalam kepercayaan masyarakat di sekitar Danau Laut Tawar.
Puteri Ijo dan Kepercayaan di Danau Laut Tawar
Dalam legenda masyarakat Gayo, perempuan yang menghilang itu kemudian dikenal sebagai Puteri Ijo. Ia dipercaya berubah menjadi makhluk menyerupai ular besar yang menghuni perairan danau.
Penuturan mengenai wujudnya tidak selalu sama. Ada yang menggambarkannya sebagai ular besar, sementara kisah lain menghubungkan kemunculannya dengan ikan berukuran besar.
Cerita tentang Puteri Ijo juga dikenal di kalangan nelayan. Dalam sejumlah penuturan, sosok tersebut dipercaya dapat mengganggu aktivitas menangkap ikan, termasuk menarik atau memutuskan tali pancing.
Ada pula kisah mengenai perahu yang terbalik dan pengalaman tidak biasa yang dialami nelayan ketika berada di perairan. Sebagian penutur mengaitkan kejadian semacam itu dengan keberadaan Puteri Ijo.
Dalam perkembangan cerita, muncul pula gambaran mengenai kerajaan di dasar Danau Laut Tawar. Puteri Ijo dikisahkan berada di dalam dunia yang tidak dapat dijangkau manusia biasa.
Gambaran tersebut menjadi bagian dari unsur mitologis dalam legenda. Ia tidak dapat diperlakukan sebagai keterangan mengenai kondisi sebenarnya di dasar danau.
Kisah Puteri Ijo tetap berkaitan erat dengan lingkungan tempat cerita itu diwariskan. Danau Laut Tawar merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Gayo, termasuk mereka yang mencari penghidupan sebagai nelayan.
Dalam dokumentasi mengenai kehidupan nelayan depik, cerita Puteri Ijo dicatat sebagai salah satu penuturan yang hidup di sekitar danau. Keberadaan cerita tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman manusia dan lingkungan alam dapat menjadi bagian dari tradisi lisan.
Seperti banyak cerita rakyat lain, legenda Puteri Ijo memiliki variasi.
Salah satu versi menceritakan pemuda yang pergi merantau ke pesisir Aceh hingga kehilangan hubungan dengan masa lalunya. Versi lain menyebut pemuda itu telah diangkat anak oleh keluarga lain sejak kecil, lalu kemudian dijodohkan dengan perempuan yang ternyata merupakan saudara kandungnya.
Kedua penuturan mempertahankan peristiwa utama yang serupa, meskipun berbeda dalam menjelaskan mengapa kedua tokoh tidak saling mengenal.
Kisah Puteri Ijo tidak memiliki penanggalan sejarah yang dapat memastikan kapan peristiwa itu terjadi. Tidak tersedia pula bukti yang menunjukkan bahwa tokoh maupun perubahan wujud yang dikisahkan benar-benar pernah ada.
Namun, cerita tersebut tetap menjadi bagian dari tradisi tutur yang menghubungkan masyarakat Gayo dengan Danau Laut Tawar.
Dalam kisah yang diwariskan itu, seorang perempuan yang kehilangan tempat dalam kehidupan keluarganya kemudian dikenal melalui legenda penghuni danau. Nama Puteri Ijo bertahan bersama cerita yang terus dituturkan di Tanah Gayo.
CATATAN REDAKSI
Puteri Ijo merupakan cerita rakyat yang dikenal dalam tradisi tutur masyarakat Gayo di kawasan Danau Laut Tawar, Aceh Tengah.
Naskah ini mengikuti garis besar penuturan yang didokumentasikan dalam buku Nelayan Depik, mengenai pemuda yang merantau ke pesisir Aceh, kembali ke Tanah Gayo, dan menikahi saudara kandungnya tanpa mengetahui hubungan keluarga tersebut.
Terdapat variasi cerita yang menyebut pemuda itu telah diangkat anak oleh keluarga lain sejak kecil. Variasi tersebut tidak digabungkan ke dalam alur utama.
Perubahan Puteri Ijo menjadi makhluk menyerupai ular besar, kemunculannya dalam kisah nelayan, dan gambaran kerajaan di dasar danau merupakan unsur folklor serta kepercayaan masyarakat, bukan fakta sejarah atau ilmiah.
Naskah merupakan adaptasi editorial dari dokumentasi ringkas yang tersedia. Detail yang belum dapat dipastikan, termasuk bentuk tanda pengenal antartokoh, tidak direka ulang.
Peristiwa tragis yang menimpa sang perempuan disampaikan sebagai bagian dari legenda, tanpa meromantisasi tindakan berbahaya.
Rujukan: Nelayan Depik dan Cerita Rakyat dari Aceh (1976). Pembandingan dengan teks lengkap cerita tahun 1976 mas ih diperlukan.






