Cerita Rakyat

Retno Dumilah, Legenda Asal Mula Padi di Madura

Tiga permintaan Retno Dumilah berujung petaka, sementara bumi memperoleh padi dan berbagai tanaman pangan.

Oleh Narendra

Retno Dumilah, Legenda Asal Mula Padi di Madura
Hamparan padi yang dalam legenda Retno Dumilah dan Dewi Sri dikisahkan tumbuh dari nasib kedua tokoh.
Diterbitkan

Batara Guru belum pernah melihat perempuan secantik Retno Dumilah. Perempuan yang diciptakannya itu memiliki paras yang begitu memikat hingga sang dewa ingin menjadikannya istri.

Keinginan itu segera disampaikannya kepada Retno Dumilah. Namun, perempuan tersebut tidak serta-merta menerima. Ia mengajukan tiga permintaan yang harus dipenuhi sebelum bersedia diperistri.

Permintaan pertama adalah makanan yang tidak akan pernah menjemukan, sekalipun disantap setiap hari. Permintaan kedua berupa pakaian yang tidak akan pernah rusak, betapapun lama dikenakan. Adapun permintaan ketiga adalah seperangkat gamelan yang mampu berbunyi sendiri tanpa seorang pun menabuhnya.

Batara Guru menghendaki Retno Dumilah menjadi istrinya. Akan tetapi, ketiga benda yang diminta itu tidak berada di hadapannya. Ia harus mendapatkannya terlebih dahulu.

Maka dipanggillah seorang utusan. Batara Guru memerintahkannya turun ke bumi untuk mencari makanan, pakaian, dan gamelan sebagaimana yang diinginkan Retno Dumilah.

Utusan itu berangkat meninggalkan kahyangan. Sementara ia melakukan perjalanan, Batara Guru menantikan kepulangannya. Retno Dumilah pun tetap menunggu terpenuhinya syarat yang telah diajukan.

Tak seorang pun di antara mereka mengetahui bahwa perjalanan tersebut akan berakhir jauh dari tujuan semula.

Utusan yang Berubah Menjadi Babi Hutan 

Di bumi, utusan Batara Guru bertemu dengan Dewi Sri. Begitu melihat sang dewi, ia jatuh hati. Perintah yang dibawanya dari kahyangan tidak lagi menjadi perhatian utamanya.

Dewi Sri tidak menghendaki perasaan itu. Ia telah menjadi istri Batara Wisnu. Namun, utusan tersebut tetap terpikat kepadanya.

Sang utusan berusaha mendekat. Dewi Sri menolaknya, tetapi penolakan itu tidak menghentikan keinginannya.

Perilaku utusan tersebut membuat Dewi Sri murka. Sang dewi kemudian menjatuhkan kutukan kepadanya.

Seketika wujud utusan itu berubah menjadi seekor babi hutan. Tubuh dan rupanya tidak lagi menyerupai sosok yang dahulu meninggalkan kahyangan atas perintah Batara Guru.

Dalam wujud barunya, ia tidak dapat menyelesaikan tugas yang telah dipercayakan kepadanya. Ketiga benda yang diminta Retno Dumilah tidak berhasil ditemukan.

Namun, ketertarikannya kepada Dewi Sri belum juga berakhir. Babi hutan itu terus mengejar sang dewi.

Sementara pengejaran berlangsung di bumi, Batara Guru masih menunggu kepulangan utusannya. Tidak ada kabar yang datang. Tidak ada pula makanan, pakaian, ataupun gamelan yang dibawa ke hadapannya.

Penolakan Terakhir Retno Dumilah 

Semakin lama menunggu, Batara Guru semakin kehilangan kesabaran. Ia ingin segera memperistri Retno Dumilah, tetapi utusannya belum kembali.

Akhirnya Batara Guru memutuskan menemui perempuan itu tanpa membawa satu pun benda yang telah dijanjikan.

Retno Dumilah tetap pada pendiriannya. Ia belum bersedia menjadi istri Batara Guru sebelum ketiga permintaannya dipenuhi.

Namun, Batara Guru tidak lagi mengindahkan syarat tersebut. Keinginannya untuk memiliki Retno Dumilah telah mengalahkan kesediaannya menunggu.

Sang dewa mendekati Retno Dumilah dan berusaha mencumbunya. Retno Dumilah menolak.

Pada saat itulah Retno Dumilah meninggal dunia.

Batara Guru kehilangan perempuan yang begitu diinginkannya. Ia tidak berhasil memenuhi ketiga syarat yang telah diajukan, dan kini Retno Dumilah tidak mungkin lagi diperistrinya.

Jenazah perempuan itu kemudian dikuburkan.

Kematian Retno Dumilah seharusnya mengakhiri segala keinginan Batara Guru terhadapnya. Akan tetapi, dari tempat tubuhnya dimakamkan, sesuatu yang belum pernah terjadi mulai berlangsung.

Tanaman yang Tumbuh dari Tubuh Retno Dumilah 

Dari kubur Retno Dumilah tumbuh berbagai jenis tanaman. Tanah yang menutupi tubuhnya mengeluarkan tunas-tunas baru, lalu tanaman itu tumbuh menjadi pohon dan tumbuhan yang kelak berguna bagi kehidupan.

Dari bagian kepalanya tumbuh pohon kelapa. Batangnya menjulang tinggi, dengan daun-daun panjang dan buah yang berkembang di antara pelepahnya.

Dari tubuh Retno Dumilah tumbuh padi gogo dan pohon enau. Padi gogo tumbuh di tanah kering, sedangkan pohon enau kelak menghasilkan berbagai bahan yang dapat dimanfaatkan manusia.

Dari kedua tangannya tumbuh pepohonan dengan buah-buah yang menggantung pada cabang dan ranting.

Adapun dari kedua kakinya tumbuh tanaman berumbi. Bagian yang dapat dimakan tersimpan di dalam tanah, seakan mengikuti tempat asalnya.

Satu demi satu tanaman itu tumbuh dari kubur Retno Dumilah. Perempuan yang semasa hidupnya meminta makanan yang tidak pernah menjemukan kini meninggalkan berbagai sumber pangan bagi bumi.

Batara Guru tidak memperoleh apa yang diinginkannya. Retno Dumilah tidak kembali hidup. Namun, dari kematiannya tumbuh tanaman yang kelak dapat dipelihara dan dimanfaatkan manusia.

Sementara itu, jauh dari tempat Retno Dumilah dikuburkan, Dewi Sri masih menghadapi babi hutan yang terus mengejarnya.

Nasib Dewi Sri dan Lahirnya Padi Sawah 

Kutukan telah mengubah utusan Batara Guru menjadi babi hutan, tetapi binatang itu tidak berhenti memburu Dewi Sri.

Dewi Sri terus menghindar. Ke mana pun ia pergi, babi hutan tersebut tetap mengejarnya.

Pengejaran itu akhirnya membawa Dewi Sri pada kemusnahan. Sang dewi tidak lagi hadir dalam wujudnya semula.

Di tempat Dewi Sri musnah, tumbuh tanaman padi yang hidup di tanah basah. Tanaman itulah yang kemudian dikenal sebagai padi sawah.

Dengan demikian, bumi memperoleh padi dari dua tempat yang berbeda. Padi gogo tumbuh dari tubuh Retno Dumilah, sedangkan padi sawah tumbuh dari tempat Dewi Sri menghilang.

Namun, nasib babi hutan yang mengejar Dewi Sri pun tidak berlangsung selamanya. Binatang itu akhirnya mati.

Dari tubuh babi hutan yang telah mati muncul berbagai hama tanaman padi, di antaranya belalang dan tikus.

Makhluk-makhluk itu mengganggu tanaman yang tumbuh di ladang dan sawah. Padi yang dapat memberi makan manusia kini harus menghadapi ancaman dari binatang-binatang perusak.

Untuk menghadapi hama tersebut, Dewi Sri sesekali mengirimkan ular sawah. Ular-ular itu menjadi lawan bagi binatang yang merusak tanaman padi.

Sejak saat itu, tanaman padi tumbuh berdampingan dengan makhluk-makhluk yang dapat mengganggu ataupun melindunginya.

Peninggalan Dua Perempuan 

Batara Guru tidak pernah berhasil memperistri Retno Dumilah. Utusan yang dikirimnya pun gagal memperoleh tiga benda yang menjadi syarat perkawinan.

Keinginan Batara Guru berakhir dengan kematian Retno Dumilah. Sementara itu, ketertarikan sang utusan kepada Dewi Sri membuatnya kehilangan wujud semula dan membawa sang dewi pada kemusnahan.

Tidak satu pun dari kedua perempuan itu kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya.

Namun, bumi telah berubah karena nasib mereka.

Dari Retno Dumilah tumbuh kelapa, enau, padi gogo, pepohonan berbuah, dan tanaman berumbi. Dari Dewi Sri tumbuh padi sawah yang kelak dipelihara manusia.

Babi hutan yang dahulu merupakan utusan Batara Guru pun meninggalkan akibatnya sendiri. Dari tubuhnya muncul hama yang terus mengancam tanaman padi.

Karena itulah, dalam kisah ini, padi tidak hanya tumbuh untuk memberi makan. Tanaman tersebut juga harus dijaga dari makhluk-makhluk yang merusaknya.

Dan ketika ular sawah muncul di antara tanaman padi, kehadirannya mengingatkan pada Dewi Sri yang tetap melindungi tanaman peninggalannya, sekalipun dirinya telah tiada.

CATATAN REDAKSI 

Cerita Retno Dumilah merupakan salah satu varian mitos asal mula tanaman pangan yang berkembang dalam tradisi rakyat Madura, Jawa Timur.

Penuturan kembali ini mengacu pada buku Kajian Nilai Budaya Naskah Kuna Cariyos Dewi Sri (1998), karya Suyami, Dwi Ratna Nurhajarini, dan Renggo Astuti, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Pada halaman 101–102, buku tersebut memuat ringkasan cerita asal mula padi dari Madura dengan merujuk pada W. S. Hatib, Asal Mula Tanaman Padi (Tjeritera Rakjat dari Madura) (1963), halaman 20–21.

Tokoh dan hubungan antartokoh

– Retno Dumilah: Perempuan ciptaan Batara Guru yang mengajukan tiga syarat sebelum bersedia diperistri. Dalam varian Madura ini, dari tubuhnya tumbuh berbagai tanaman pangan, termasuk padi gogo.

– Batara Guru: Dewa yang menciptakan Retno Dumilah dan ingin memperistrinya. Ketidaksabarannya berujung pada kematian Retno Dumilah.

– Dewi Sri: Istri Batara Wisnu yang menolak pendekatan utusan Batara Guru. Dari tempat kemusnahannya tumbuh padi sawah.

– Batara Wisnu: Suami Dewi Sri. Dalam ringkasan varian yang digunakan, perannya disebut melalui hubungan tersebut.

– Utusan Batara Guru: Tokoh yang diperintahkan mencari tiga benda, tetapi jatuh hati kepada Dewi Sri. Ia dikutuk menjadi babi hutan dan akhirnya menjadi asal mula berbagai hama tanaman.

Konteks cerita

Legenda ini menghubungkan asal mula tanaman pangan dengan nasib dua tokoh perempuan. Padi gogo, padi sawah, kelapa, enau, tanaman berbuah, dan umbi-umbian memperoleh asal-usul mitologis melalui tubuh Retno Dumilah dan Dewi Sri.

Kisah ini juga menjelaskan secara mitologis keberadaan hama tanaman dan ular sawah. Penjelasan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dalam cerita rakyat, bukan uraian ilmiah mengenai asal-usul tumbuhan atau hewan.

Varian dan batas adaptasi

Cerita Dewi Sri memiliki banyak varian di Jawa, Madura, Sunda, Bali, dan daerah lainnya. Tokoh bernama Retno Dumilah dalam varian Madura ini tidak boleh begitu saja disamakan dengan tokoh atau benda bernama mirip dalam varian lain.

Naskah utama mengikuti urutan peristiwa yang dicatat dalam ringkasan varian Madura. Bahasa, ritme, dan transisi dikembangkan agar cerita nyaman dibaca, tanpa menambahkan tokoh bernama, dialog langsung, atau peristiwa besar dari varian lain.

Sumber utama yang telah diperiksa adalah ringkasan dalam terbitan tahun 1998. Teks lengkap karya W. S. Hatib tahun 1963 belum diperiksa langsung.

Rujukan:

Suyami, Dwi Ratna Nurhajarini, dan Renggo Astuti. 1998. Kajian Nilai Budaya Naskah Kuna Cariyos Dewi Sri. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, hlm. 101–102. Merujuk W. S. Hatib (1963), hlm. 20–21.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait