Peradaban Nusantara

Lukisan Cadas Maros–Pangkep dan Jejak Seni Manusia Prasejarah

Cap tangan, gambar hewan, dan adegan naratif di gua Sulawesi mengungkap tradisi visual manusia puluhan ribu tahun silam.

Oleh Narendra

Lukisan Cadas Maros–Pangkep dan Jejak Seni Manusia Prasejarah
Ilustrasi rekonstruksi artistik manusia prasejarah saat membuat lukisan cadas di kawasan karst Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan. Gambar bukan dokumentasi autentik aktivitas manusia pada masa prasejarah.
Diterbitkan

Di antara bukit-bukit kapur Sulawesi Selatan, dinding gua menyimpan jejak manusia yang hidup jauh sebelum munculnya kerajaan, aksara, dan catatan sejarah tertulis. Cap tangan berwarna merah, gambar hewan, serta komposisi yang memperlihatkan interaksi antartokoh menjadi bukti bahwa manusia prasejarah telah menggunakan gambar untuk merepresentasikan dunia di sekelilingnya.

Kawasan karst Maros–Pangkep penting bukan semata-mata karena usia lukisannya. Penelitian arkeologi dan penanggalan ilmiah menunjukkan bahwa manusia telah menghasilkan karya visual di kawasan ini sejak puluhan ribu tahun lalu, memperluas pemahaman tentang sejarah seni dan perkembangan kebudayaan manusia.

Lanskap Karst dan Jejak Manusia

Maros–Pangkep berada di Sulawesi Selatan, pada bentang alam karst yang terbentuk dari batu kapur. Bukit-bukit menjulang, ceruk, dan gua di kawasan tersebut menyediakan ruang bagi aktivitas manusia pada masa prasejarah sekaligus menyimpan bukti arkeologis tentang kehidupan masa lalu.

Lukisan cadas ditemukan di sejumlah situs, termasuk Leang Timpuseng, Leang Tedongnge, Leang Bulu’ Sipong 4, dan Leang Karampuang. Nama *leang* dalam bahasa setempat merujuk pada gua, sedangkan nama tambahan membedakan lokasi-lokasi penelitian.

Bentuk gambar yang ditemukan tidak seragam. Cap tangan dibuat dengan menempatkan tangan pada permukaan batu, kemudian menyemprotkan pigmen di sekelilingnya, sedangkan gambar hewan menampilkan bentuk tubuh yang dapat dikenali melalui garis dan warna.

Keberadaan gambar-gambar tersebut tidak otomatis menjelaskan seluruh kehidupan pembuatnya. Tanpa bukti pendukung, peneliti tidak dapat memastikan apakah suatu gambar berkaitan dengan perburuan, kepercayaan, penanda kelompok, atau tujuan lainnya.

Penanggalan Mengubah Pemahaman

Selama bertahun-tahun, usia seni cadas Sulawesi menjadi pertanyaan penting dalam penelitian prasejarah. Salah satu terobosan datang melalui analisis uranium-series terhadap endapan kalsium karbonat yang terbentuk di atas lapisan pigmen pada dinding gua.

Metode ini membantu menentukan usia minimum lukisan. Endapan mineral yang menutupi gambar terbentuk setelah pigmen ditempatkan, sehingga usianya memberikan batas bahwa lukisan tersebut sudah ada sebelumnya.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal *Nature* pada 2014 melaporkan cap tangan di Leang Timpuseng dengan usia minimum sekitar 39.900 tahun. Studi berikutnya mengidentifikasi lukisan babi kutil Sulawesi di Leang Tedongnge yang berusia minimum sekitar 45.500 tahun.

Pada 2024, penelitian lanjutan melaporkan usia minimum sekitar 53.500 tahun untuk adegan di Leang Karampuang. Penelitian yang sama memperbarui usia minimum adegan naratif di Leang Bulu’ Sipong 4 menjadi sekitar 50.200 tahun.

Angka-angka tersebut merupakan usia minimum berdasarkan endapan mineral yang dianalisis, bukan tanggal pasti ketika seorang seniman menyelesaikan gambar. Pembedaan ini penting karena hasil penanggalan bergantung pada bukti yang diuji dan dapat diperbarui seiring berkembangnya metode penelitian.

Dari Cap Tangan ke Adegan Naratif

Cap tangan merupakan salah satu motif yang paling mudah dikenali di gua-gua prasejarah Sulawesi. Meski bentuknya sederhana, cap tersebut merupakan jejak tindakan manusia yang meninggalkan bentuk tubuhnya pada permukaan batu dan bertahan melampaui kehidupan pembuatnya.

Gambar hewan memperlihatkan kemampuan pengamatan yang berbeda. Bentuk tubuh, kaki, kepala, dan ciri khas spesies tertentu membantu peneliti mengenali hewan yang digambarkan, meskipun identifikasi tetap perlu memperhitungkan kondisi gambar dan konteks arkeologisnya.

Temuan di Leang Karampuang juga memperlihatkan bahwa sebagian karya tidak hanya menampilkan satu objek secara terpisah. Komposisi yang melibatkan figur mirip manusia dan hewan ditafsirkan sebagai adegan yang memiliki hubungan naratif, meskipun makna yang dimaksud pembuatnya tidak dapat dipastikan hanya dari gambar.

Dalam konteks ini, seni tidak perlu dipersempit menjadi keindahan atau hiasan. Lukisan cadas merupakan bukti kemampuan manusia menciptakan representasi visual, tetapi tujuan sosial dan simbolisnya tetap menjadi persoalan penelitian.

Warisan yang Rentan Hilang

Usia yang sangat tua tidak membuat lukisan cadas kebal terhadap kerusakan. Perubahan kelembapan, pertumbuhan kristal garam, pengelupasan permukaan batu, serta kondisi lingkungan dapat menyebabkan pigmen dan lapisan batu yang menopangnya terlepas.

Penelitian mengenai kerusakan seni cadas Sulawesi menunjukkan bahwa perubahan lingkungan, termasuk kondisi iklim, dapat mempercepat kemunduran permukaan lukisan. Karena itu, pelestarian tidak cukup hanya dengan menetapkan gua sebagai kawasan penting; kondisi fisik situs juga perlu dipantau secara berkelanjutan.

Aktivitas manusia turut menuntut perhatian. Sentuhan langsung, perubahan mikroklimat akibat kunjungan, vandalisme, dan pembangunan yang tidak terkendali dapat menambah tekanan terhadap situs yang rentan.

Maros–Pangkep bukan hanya tempat untuk melihat gambar purba. Kawasan ini menyimpan bukti material mengenai sejarah panjang kemampuan manusia membuat gambar dan menyusun representasi visual, sekaligus mengingatkan bahwa warisan tersebut dapat hilang apabila tidak dijaga.

Lukisan cadas tidak memberikan jawaban lengkap tentang cara berpikir masyarakat pembuatnya. Namun, melalui pengamatan arkeologis, penanggalan ilmiah, dan konservasi yang cermat, jejak di dinding gua itu terus memperluas pemahaman tentang manusia prasejarah di Nusantara.

CATATAN REDAKSI 

EMMANUS menempatkan lukisan cadas Maros–Pangkep sebagai bukti arkeologis penting tentang tradisi visual manusia prasejarah di Sulawesi. Pembahasan usia lukisan merujuk pada penelitian penanggalan uranium-series yang diterbitkan dalam jurnal Nature, termasuk kajian mengenai Leang Timpuseng, Leang Tedongnge, Leang Bulu’ Sipong 4, dan Leang Karampuang. Usia yang disebutkan merupakan usia minimum berdasarkan bukti mineral yang dianalisis, bukan tanggal pasti pembuatan setiap gambar.

Makna lukisan tidak disimpulkan melampaui bukti yang tersedia. Cap tangan, gambar hewan, dan adegan naratif dibahas sebagai temuan arkeologis, sementara tujuan sosial maupun kepercayaan pembuatnya tetap terbuka untuk penelitian. EMMANUS juga membedakan Maros–Pangkep dari situs seni cadas lain di Sulawesi, termasuk temuan di Pulau Muna, agar lokasi dan hasil penanggalan tidak tercampur dalam penyajian sejarah.

Tentang Penulis

Narendra

Narendra

Pendiri EMMANUS, platform media dan pengetahuan yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan sejarah serta kebudayaan Nusantara. Berkomitmen menghadirkan informasi, cerita, dan pengetahuan yang bermakna melalui jurnalisme, teknologi digital, dan literasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Peradaban Nusantara

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →