Budaya

Membaca Sejarah Salatiga Dari Prasasti Plumpungan

Prasasti Plumpungan, berlokasi di Dukuh Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo tersebut memuat cikal bakal lahirnya Salatiga. Sejarah tersebut tertulis di sebuah batu besar berjenis andesit berukuran panjang 170cm, lebar 160cm dengan garis lingkar 5 meter. Tulisan di prasasti Plumpungan dialihkan oleh Sejarawan dan ahli Epigraf Dr. J. G. de Casparis yang selanjutnya disempurnakan oleh […]

Oleh Achmad Aristyan

Membaca Sejarah Salatiga Dari Prasasti Plumpungan
Foto: wikimedia commons
Diterbitkan

Prasasti Plumpungan, berlokasi di Dukuh Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo tersebut memuat  cikal bakal lahirnya Salatiga. Sejarah tersebut tertulis di sebuah batu besar berjenis andesit berukuran panjang 170cm, lebar 160cm dengan garis lingkar 5 meter.

Tulisan di prasasti Plumpungan dialihkan oleh Sejarawan dan ahli Epigraf Dr. J. G. de Casparis yang selanjutnya disempurnakan oleh Prof. Dr. R. Ng Poerbatjaraka. Berdasarkan isinya, disebutkan bahwa Salatiga sudah ada sejak tahun 750 Masehi.

Prasasti ini sendiri berisi mengenai ketetapan hukum tentang status tanah perdikan atau swatantra bagi daerah bernama Hampra yang kini menjadi Salatiga. Perdikan sendiri adalah daerah bebas pajak atau upeti karena memiliki kekhususan tertentu. 

Pemberian perdikan merupakan hal istimewa pada masa itu, karena tidak setiap daerah kekuasaan mendapatkannya. Dasar pemberian daerah perdikan adalah karena pernah benar-benar berjasa kepada seorang raja. 

Baca Juga: Ki Ageng Pandanaran, Legenda Nama Salatiga Bermula

Prasasti tersebut ditulis oleh seorang Citraleka pada tahun 750 Masehi itu. Citraleka, yang sekarang dikenal dengan sebutan penulis atau pujangga, dibantu oleh sejumlah pendeta atau resi dan ditulis dalam bahasa jawa kuno “Srir Astu Swasti Prajabyah” yang berarti “Semoga Bahagia, Selamatlah Rakyat Sekalian”.

Isi Prasasti

Dilansir dari laman nationalgeographic.co.id, proses awal dalam penulisan di atas batu ini adalah dengan menggunakan getah pada ujung daun mempelam, kemudian dipahatlah Aksara Jawa Kuno sehingga menjadi Prasasti Plumpungan. 

Isi dari Prasasti Plumpungan memuat cukup lengkap informasi. Jika diartikan kurang lebih berbunyi:

“Semoga bahagia. Selamatlah rakyat sekalian. Tahun saka telah berjalan 672/4/31/ pada hari Jumat tengah hari dari beliau, demi agama sebagai dharama bakti kepada Yang Maha Tinggi, telah menganugerahkan sebidang tanah atau tanam, agar memberikan kebahagiaan kepada mereka yaitu Desa Hampra yang terletak di wilayah trigramyama.

Baca Juga: Epigrafi Ajak Masyarakat Kenali Prasasti

Dengan restu dari Siddhadewi berupa daerah bebas pajak atau perdikan dan ditetapkan dengan tulisan aksara atau prasasti yang ditulis menggunakan ujung mempelam dari Beliau yang bernama Bhanu (dan mereka) dengan bangunan suci tahu candi (yaso) ini, selalu menemukan hidup abadi di dalamnya”

Pada intinya isi tersebut menyatakan bahwa desa Hampra yang nantinya menjadi Salatiga, diberikan status Perdikan (dibebaskan dari pajak) karena jasa masyarakat desa tersebut dalam bidang keagamaan. 

Berdasarkan informasi yang ada pada prasasti Plumpungan, tanggal 672/4/31  kemudian menjadi cikal bakal ditetapkannya hari lahir Kota Salatiga. Tanggal tersebut jika dijadikan dalam Masehi menjadi 24 Juli. Ditambah dengan Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 1995, kemudian ditetapkan tanggal 24 Juli 750 M sebagai Hari Jadi Salatiga. 

Asal-Usul Nama Salatiga

Menurut Prof. Dr. R Ng. Poerbatjaraka kata ‘Siddhadewi’ adalah nama lain Dewi Trisala. Diduga, penduduk di daerah itu memuja Dewi Trisala. Nama tersebut jika diartikan secara etimologi bahasa menjadi Sala Tri dan akhirnya dikenal sebagai Salatiga.

Namun menurut versi buku Hari Jadi kota Salatiga, wilayah Trigramyama memiliki arti Tri, tiga dan gram yang berarti desa (grama). Dengan demikian Trigramya berarti Tiga Desa atau mempunyai tiga wilayah desa. 

Tiga Desa tersebut adalah Desa Hampra yang sekarang menjadi Dukuh Plumpungan, Desa Puhunan sekarang menjadi Pulutan, dan Desa Praktaha sekarang menjadi Padaan di Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Trigramya inilah yang kemudian berkembang menjadi Salatiga

Baca Juga:Museum Sidik Jari Denpasar, Museum Lukisan Tanpa Kuas

Menurut Warin, seorang pegiat Salatiga Heritage,  penamaan Salatiga berasal dari tiga candi yang terletak tidak jauh dari Plumpungan. Masyarakat setempat menyebut wilayah Salatiga dengan nama Selo Tigo (Selo: batu, Tigo: tiga). 

Hal ini dikarenakan mereka biasa menyebut candi dengan kata ‘selo’ karena bangunan candi memang terbuat dari bahan batu. Saat ini sisa bongkahan-bongkahan candi tersebut disimpan di Museum Salatiga Dukuh Plumpungan, Desa Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo.

(Sumber: visitjawatengah.jatengprov.go.id dan sumber lainnya)

TopikBudaya
Budaya01 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan