Budaya

Menelusuri Jejak Kuliner Wajik Menjadi Jajanan Klasik

Wajik adalah kudapan tradisional Indonesia yang memiliki sejarah panjang sejak zaman Majapahit sekitar abad ke-16. Wajik tertulis dalam kitab sastra religi kuno bernama Kitab Nawasuci atau Sang Hyang Tattawajnana karya Mpu Siswamurti. Kitab itu menyebut, wajik menjadi makanan para raja. Sementara di era masa kini, Wajik ini telah menjadi bagian penting dalam budaya kuliner Jawa, […]

Oleh Achmad Aristyan

Menelusuri Jejak Kuliner Wajik Menjadi Jajanan Klasik
Wajik, kudapan tradisional khas Indonesia bercita rasa manis dan bertekstur empuk serta lengket. Tangkapan Layar YouTube Atha Naufal
Diterbitkan

Wajik adalah kudapan tradisional Indonesia yang memiliki sejarah panjang sejak zaman Majapahit sekitar abad ke-16. Wajik tertulis dalam kitab sastra religi kuno bernama Kitab Nawasuci atau Sang Hyang Tattawajnana karya Mpu Siswamurti. Kitab itu menyebut, wajik menjadi makanan para raja.

Sementara di era masa kini, Wajik ini telah menjadi bagian penting dalam budaya kuliner Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Melansir dari Wikipedia, Wajik umumnya disajikan pada acara-acara adat, terutama pernikahan, sebagai simbol harapan hubungan yang lengket dan langgeng bagi pasangan yang menikah. Di berbagai daerah, wajik dikenal dengan nama yang berbeda. 

Baca juga: Cerita Di Balik Manisnya Wajit Khas Tasikmalaya

Di Sumatera, wajik disebut pulut manis, sedangkan di Sulawesi dikenal sebagai bajek (Bugis), wajek (Makassar), atau golla kambu (Mandar), di Jawa Barat terkenal dengan sebutan Wajit. Meski beragam nama, bahan dasar wajik tetap sama: beras ketan, santan kelapa, dan gula merah.  

Saat ini, da dua kota yang menjadikan wajik sebagai kuliner khas yakni Di Magelang, Jawa Tengah, dengan wajik merek Week.Sementara Di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, memiliki nama wajik kletik.

Wajik Kletik khas Blitar, Jawa Timur. Foto: Google/Ayu Lestari

Jenis-Jenis Wajik  

  1. Wajik Ketan

Wajik ketan adalah jenis wajik yang paling dikenal. Terbuat dari beras ketan yang dikukus, kemudian dimasak bersama santan dan gula merah hingga menghasilkan tekstur lembut dan berminyak. 

Warna wajik ketan umumnya cokelat muda hingga cokelat tua. Selain menggunakan gula merah, ada pula variasi warna lain seperti hijau dari sari daun suji dan merah muda dari pewarna makanan. 

Wajik ini biasanya dibentuk menjadi belah ketupat atau jajar genjang, yang menjadi asal usul nama “wajik” dalam bahasa Jawa.  

  1. Wajik Kletik

Wajik kletik adalah variasi wajik khas Blitar yang dibungkus menggunakan kulit jagung atau klobot. Kulit jagung ini disetrika untuk memastikan kebersihannya, sehingga wajik menjadi lebih tahan lama. 

Cita rasa wajik kletik sama dengan wajik ketan, tetapi memiliki keunikan pada cara membungkusnya. 

  1. Wajik Bandung

Wajik Bandung berasal dari daerah Bandung dan memiliki ciri khas campuran kelapa parut dalam adonannya. Berbeda dengan wajik ketan, wajik Bandung lebih dominan dengan tekstur kelapa. 

Kudapan ini dibungkus kertas minyak berwarna-warni, memberikan tampilan meriah dan menarik.  

Baca juga: Camilan Bandung Barat Yang Bikin Ketagihan

Cita Rasa 

Wajik memiliki cita rasa manis yang legit dengan tekstur lembut tetapi kenyal. Rasa manisnya sering dipadukan dengan aroma pandan atau vanila, sementara beberapa variasi memiliki rasa khas seperti gula merah atau durian.  

Simbol Tradisi

Selain sebagai kudapan sehari-hari, wajik memiliki makna simbolis dalam berbagai tradisi. Pada acara pernikahan adat Jawa, wajik menjadi bagian dari hantaran pengantin sebagai simbol hubungan yang lengket dan harmonis.  

Wajik juga menjadi oleh-oleh khas dari berbagai daerah. Di Magelang, Jawa Tengah wajik ketan cokelat gula merah menjadi buah tangan yang populer, sementara di Blitar, wajik kletik dikenal sebagai oleh-oleh klasik dari daerah itu.  (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya20 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan