James Richardson Logan, dikenal sebagai pencetus nama Indonesia yang pertama. Sedangkan nama Indonesia sendiri lebih populer dikenal sebagai ciptaan Bastian. Hal ini dibahas dalam buku Sedjarah Modern Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer.
James Richardson Logan adalah seorang pengacara yang lahir di Berwickshire-Skotlandia pada 10 April 1819. Dia meninggal di Penang pada 20 Oktober 1869 dalam usia relatif muda, 50 tahun, karena malaria.
Andreas Harsono, seorang yang menulis sedikit riwayat Logan, mengunggah melalui laman pribadinya, http:andreasharsono.net dengan judul “Sebuah Kuburan, Sebuah Nama”. Andreas sengaja berangkat ke Penang (dulunya disebut Pulau Pinang), untuk mencari makam James Richardson Logan.
Dia ditemani Francis Loh Kok Wah, profesor dari Universitas Sains Malaysia, Anil Netto seorang blogger, dan Himanshu Bhatt, seorang wartawan. Atas petunjuk Francis Loh, Andreas berhasil menemukan makam yang berbaur dengan makam orang-orang lain yang beragama Protestan. Rupanya di Penang, pemakaman orang Protestan dipisah dengan pemakaman orang Katolik. Makam itu adalah makam Logan bersaudara yang berada di Jl. Sultan Ahmad Shah. Mereka adalah dua bersaudara yang datang ke Penang pada 1840.
James meninggal dunia pada 1869. Kematian James dianggap sebagai kehilangan besar bagi warga Penang. Untuk mengenangnya jasa-jasanya, mereka mendirikan monumen penghormatan. Dalam tugu memorial tersebut dicantumkan sifat-sifat mulia James, yakni temperance (kesederhanaan), justice (keadilan), fortitude (tabah, ulet), dan wisdom (bijak).
Awal Mula Nama Indonesia
Pramoedya Ananta Toer, dalam buku Sedjarah Modern Indonesia yang diterbitkan di kalangan terbatas pada 1964, menyebutkan nama Logan sebagai pencetus pertama istilah Indonesia. Sebenarnya ada dua orang yang ‘terlibat’ mencetuskan nama Indonesia.
Pertama adalah George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan. Earl, yang pertama, menulis sebuah artikel dalam jurnal “The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia” Vol. IV pada 1850.
Di halaman 71 jurnal itu dia menulis “the Malayunesian branch of this race”. Di bawah halaman terdapat catatan yang menjelaskan istilah itu. Dia mengusulkan nama baru bagi penduduk kepulauan Hindia dengan nama “Indu-nesians” atau “Malayu-nesians”.
Earl sendiri lebih suka dengan istilah yang kedua karena menurutnya istilah itu lebih memberikan penghargaan pada orang-orang Melayu yang telah menjelajah seluruh kepulauan sebelum orang-orang Eropa.
Logan berpendapat sedikit berbeda. Saat itu ia menjadi kepala redaksi majalah itu, lebih suka dengan istilah Indonesia yang lebih praktis. James lebih memilih “Indonesia” karena istilah geografi untuk membedakan dengan wilayah kepulauan ini dengan wilayah lain.
Menurutnya juga lebih praktis dibandingkan dengan istilah panjangnya “Indian Archipelago”. Di halaman 254 jurnal itu, Logan memilih Indonesia sebagai nama wilayah kepulauan, dan penduduknya menjadi orang-orang Indonesia.
Logan menyebutkan wilayah di Asia sebagai wilayah keseluruhan “wilayah Hindia” atau “the whole Indian Region”. Menurut Logan, wilayah bagian daratan ini dibagi dua oleh Teluk Benggala. Di bagian timur mendapat pengaruh dari India yang juga bagian dari keseluruhan wilayah ini.
Maka dari itu, Logan mengusulkan nama India, Ultraindia, atau Transindia dan Indonesia. Jika digambarkan pada saat ini wilayah India bisa diartikan wilayah antara Pakistan dan India Utara, kemudian India Selatan beserta kepulauan di sekitarnya, dan Asia Tenggara. (Anisa Kurniawati-Sumber: indonesia.go.id)