Pariwisata

Mengenal Pekalongan, Kota Batik Dunia di Pesisir Utara Jawa

Kota Pekalongan, salah satu kota pesisir di pantai utara Provinsi Jawa Tengah, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perkembangan budaya, ekonomi, dan pemerintahannya. Asal-usul nama “Pekalongan” masih menjadi perdebatan. Salah satu teori menyebutkan nama ini berasal dari kata “Halong,” yang berarti “dapat banyak.” Sementara itu, dokumen tertua, “Gouvernements Besluit” Nomor 40 tahun 1931, menunjukkan penulisan “Pek-Alongan. […]

Oleh Achmad Aristyan

Mengenal Pekalongan, Kota Batik Dunia di Pesisir Utara Jawa
Museum Batik Pekalongan, Jawa Tengah. Wikimedia Commmons/Nararya Danuwijaya
Diterbitkan

Kota Pekalongan, salah satu kota pesisir di pantai utara Provinsi Jawa Tengah, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perkembangan budaya, ekonomi, dan pemerintahannya.

Asal-usul nama “Pekalongan” masih menjadi perdebatan. Salah satu teori menyebutkan nama ini berasal dari kata “Halong,” yang berarti “dapat banyak.” Sementara itu, dokumen tertua, “Gouvernements Besluit” Nomor 40 tahun 1931, menunjukkan penulisan “Pek-Alongan.

Kota ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Pekalongan di selatan dan barat, serta Kabupaten Batang di timur. 

Berada di lokasi strategis jalur pantai utara Jawa yang menghubungkan Jakarta, Semarang, dan Surabaya, Pekalongan telah menjadi pusat kegiatan ekonomi dan budaya sejak zaman dahulu.  

Kota Batik yang Mendunia  

Melansir dari pekalongankota.go.id, Pekalongan dikenal sebagai “Kota Batik,” julukan yang mencerminkan keterkaitan erat batik dengan kehidupan masyarakatnya. Sejak abad ke-19, batik telah menjadi mata pencaharian utama penduduk lokal. 

Diperkirakan, seni batik mulai berkembang di Pekalongan sekitar tahun 1800. Salah satu motif tertua, motif pohon kecil, tercatat berasal dari tahun 1802.  

Perang Diponegoro (1825–1830) menjadi titik penting perkembangan batik di Pekalongan. Perang ini mendorong migrasi besar-besaran keluarga kerajaan Mataram ke pesisir utara seperti Pekalongan. 

Para pendatang ini membawa tradisi membatik yang kemudian menyatu dengan gaya lokal. Perpaduan budaya dengan pengaruh Tionghoa, Belanda, Arab, Jepang, dan India menghasilkan motif khas seperti Jlamprang, Encim, Pagi-Sore, dan Hokokai.  

Salah satu landmark Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Foto: GoogleMaps/Ningsih N

Pemerintahan Kolonial dan Masa Kemerdekaan  

Pada masa VOC di abad ke-17, Pekalongan menjadi bagian dari sistem pemerintahan sentralistis dengan penguasa pribumi bergelar “regent” (bupati). Reformasi administratif abad ke-19 di bawah pemerintahan Hindia Belanda membagi Jawa menjadi beberapa “gewest” atau residensi.

Pekalongan termasuk bagian dari “Pekalongan Gewest” bersama Brebes, Tegal, Pemalang, dan Batang. Pekalongan memperoleh hak otonomi tahun 1906, berdasarkan “Staatsblad” Nomor 124. 

Namun, kekuasaan ini terhenti pada masa pendudukan Jepang (1942–1945). Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, rakyat Pekalongan aktif merebut markas tentara Jepang, hingga akhirnya kota ini berhasil dibebaskan pada 7 Oktober 1945.  

Secara resmi, Kota Pekalongan dibentuk pada 14 Agustus 1950 melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950. Seiring perkembangan waktu, wilayah Pekalongan diperluas berdasarkan PP Nomor 21 Tahun 1988, mencakup empat kecamatan: Pekalongan Utara, Barat, Selatan, dan Timur. 

Pusat Budaya

Selain batik, Kota Pekalongan juga memiliki pelabuhan perikanan terbesar di Pulau Jawa. Pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan hasil laut, seperti ikan asin, ikan asap, dan kerupuk ikan. 

Dari sisi budaya, Pekalongan dikenal dengan tradisi unik seperti Syawalan, perayaan tujuh hari setelah Idulfitri yang dimeriahkan dengan pemotongan lopis raksasa. 

Sebagai kota yang kaya akan sejarah, budaya, dan potensi ekonomi, Pekalongan terus berkembang menjadi salah satu pusat kebudayaan dan industri kreatif di Indonesia. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikPariwisata
Pariwisata12 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan