Budaya

Menggali Kekayaan Seni Gorontalo Melalui Alat Musik Polopalo

Alat musik tradisional khas Gorontalo yakni Polopalo ternyata memiliki sejarah yang panjang. Polopalo terbuat dari bambu yang dibentuk menyerupai garputala. Dinamakan polopalo karena berasal dari kata polo-polopalo yang artinya bergetar nyaring. Cara memainkannya dengan dipukul-pukulkan pada bagian lutut atau tubuh pemainnya. Alat musik ini terbuat dari bambu khusus yakni bambu talilo huidu. Jenis bambu ini memiliki kadar air […]

Oleh Anisa Kurniawati

Menggali Kekayaan Seni Gorontalo Melalui Alat Musik Polopalo
Dua orang sedang memainkan alat musik polopalo. Foto: wikimedia commons/ Marwan Mohamad
Diterbitkan

Alat musik tradisional khas Gorontalo yakni Polopalo ternyata memiliki sejarah yang panjang. Polopalo terbuat dari bambu yang dibentuk menyerupai garputala.

Dinamakan polopalo karena berasal dari kata polo-polopalo yang artinya bergetar nyaring. Cara memainkannya dengan dipukul-pukulkan pada bagian lutut atau tubuh pemainnya. 

Alat musik ini terbuat dari bambu khusus yakni bambu talilo huidu. Jenis bambu ini memiliki kadar air rendah sehingga kualitas bunyi yang dihasilkan baik. 

Polopalo memiliki panjang sekitar 31 cm dengan diameter lingkaran bambu sekitar 9 cm–17 cm. Ukurannya ada yang besar, sedang, dan kecil. Semakin kecil ukuran polopalo, maka nada yang dihasilkan juga semakin tinggi.

Sejarah Polopalo

Dahulu, alat musik polopalo bernama tonggobi dan digunakan sebagai alat komunikasi. Para petani juga memakai alat musik ini sebagai pengusir burung atau hewan buas perusak tanaman.

Hal ini karena polopalo mampu menghasilkan suara dengan jangkauan frekuensi yang jauh. Bunyi alat musik ini juga sebagai penanda waktu berbuka puasa dan sahur di bulan Ramadhan. 

Menurut budayawan Gorontalo Mohamad Ichsan, Polopalo merupakan representasi perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Hal ini dapat dilihat dari bentuk ujungnya yang runcing.

Tahun 1980-an, seniman Rusdin Palada berinisiatif menjadikan polopalo sebagai alat musik. Dia memodifikasi bentuk moncong lebih tipis atau memperbesar lubang dan gagangnya.

Pada tahun 2004, bersama dengan Rivai Humonggio, Rusdin Palada memainkan alat musik ini pertama kalinya di TVRI. Bahkan menampilkan alat musik ini di negara Austria tahun 2007.

Alat Musik Polopalo

Alat musik polopalo dimainkan dengan memukul-mukulkannya pada lutut atau bagian tubuh lain para pemainnya. Hal itu akan membuat alat musik ini bergetar dan menghasilkan bunyi. Biasanya alat musik ini digunakan sebagai pengiring. 

Selain itu, polopalo juga dilengkapi dengan pemukul kayu yang dilapisi karet. Tujuannya menggantikan fungsi tubuh, agar mudah dimainkan dan menghasilkan suara yang semakin nyaring. Misalkan pengiring alat musik seperti suling, string bass, rebana/gendang dan maracas. 

Alat musik Polopalo. Foto: rri.co.id

Instrumen ini juga sering dimainkan di pentas tari tradisional Gorontalo  yaitu Tidi Lo Polopalo.

Polopalo bukan sekadar alat musik biasa, tetapi juga memuat nilai-nilai yang mendalam dalam relasi sosial masyarakat. Akademisi Sastra dan Budaya, Rahmawati, menyebut alat musik ini merupakan simbol kehidupan masyarakat Gorontalo.

Alat musik ini menyimbolkan masyarakat Gorontalo yang semangat bekerja keras, gotong royong, dan saling menghargai satu sama lain. Kini Polopalo telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan budaya masyarakat Gorontalo. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya21 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati