Saat berlibur ke kawasan Gunung Bromo di Jawa Timur, ada banyak hal menarik yang bisa dinikmati. Salah satu atraksi wisata tahunan yang menarik disaksikan adalah Eksotika Bromo, yang telah digelar 27-28 Juli 2024 di Lautan Pasir Bromo. Sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2024, festival budaya ini menyuguhkan pengalaman spiritual yang menggabungkan tradisi dengan keindahan alam yang memukau.
Selain lanskap alam yang luar biasa, Gunung Bromo juga menyimpan cerita legenda yang masih hidup di tengah masyarakat hingga kini. Salah satu tradisi yang terus dilestarikan adalah upacara adat Yadnya Kasada, yang dilakukan oleh Suku Tengger, penduduk asli Bromo.
Sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat yang mengadakan upacara Yadnya Kasada, area wisata Gunung Bromo dan sekitarnya ditutup untuk umum selama empat hari. Jadi, apa sebenarnya upacara Yadnya Kasada ini?
Yadnya Kasada merupakan upacara persembahan yang dilakukan dengan cara melempar sesaji ke kawah gunung. Ritual ini adalah bentuk penghormatan, rasa syukur, dan pengabdian kepada Sang Hyang Widhi serta leluhur. Upacara ini digelar setiap tanggal 15 bulan Kasada dalam kalender tradisional Hindu Tengger.
Ritual Yadnya Kasada bukan sekadar permohonan untuk mendapat berkah, tetapi juga untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari malapetaka. Yang menarik, upacara ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun internasional berkat unsur “storynomics tourism” yang menyelimutinya. Sejarah serta makna mendalam di balik ritual tersebut menjadikan upacara ini semakin memikat.
Menurut legenda, upacara Yadnya Kasada dilakukan sebagai penghormatan kepada Kusuma, anak bungsu dari pasangan Jaka Seger dan Roro Anteng, seorang putri dari Raja Majapahit.
Dikisahkan, Roro Anteng dan Jaka Seger melakukan pertapaan di Gunung Bromo untuk meminta keturunan kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Mereka berjanji akan mengorbankan anaknya kepada kawah Gunung Bromo jika permohonan mereka dikabulkan.
Setelah dikaruniai 25 anak, mereka melupakan janji tersebut, yang membuat Sang Dewa murka. Akhirnya, pasangan tersebut memberi tahu anak-anak mereka tentang janji yang telah dibuat. Kusuma, sebagai anak bungsu, dengan rela mengorbankan dirinya agar keluarganya dan orang-orang lainnya dapat hidup dengan damai.
Sebelum mengorbankan dirinya, Kusuma meminta agar persembahan terus diberikan kepada Kawah Gunung Bromo setiap tanggal 15 bulan Kasada. Sejak itu, Suku Tengger secara rutin melempar sesaji ke kawah sebagai wujud penghormatan, sekaligus permohonan berkah, keselamatan, dan perlindungan.
Selain Yadnya Kasada, kawasan Gunung Bromo juga menyimpan legenda lain yang tidak kalah menarik, yaitu asal-usul Gunung Batok, sebuah gunung nonaktif yang berada di samping Gunung Bromo.
Menurut cerita rakyat, Gunung Batok muncul dari kisah cinta antara Joko Seger, seorang pria dengan kekuatan luar biasa, dan Rara Anteng, perempuan yang lahir tanpa tangisan. Sejak kecil, mereka telah saling mengenal dan akhirnya jatuh cinta.
Namun, kecantikan Rara Anteng menyebabkan banyak konflik, karena ia sering menolak lamaran para pangeran dan bangsawan. Hingga suatu hari, seorang bajak laut datang dan meminangnya. Untuk menghindari pernikahan, Rara Anteng memberi syarat agar bajak laut tersebut membuat lautan pasir di sekitar Gunung Bromo sebelum ayam berkokok.
Ketika pekerjaan hampir selesai, Rara Anteng dan teman-temannya menumbuk padi sehingga ayam jantan berkokok lebih awal. Karena gagal, bajak laut tersebut marah dan melemparkan batok kelapa yang digunakannya untuk mengeruk pasir. Batok tersebut kemudian menjelma menjadi Gunung Batok.
Setelah peristiwa tersebut, Rara Anteng dan Joko Seger menikah dan mendirikan desa yang diberi nama “Tengger,” diambil dari gabungan nama mereka, Anteng dan Seger. (Achmad Aristyan – Sumber: kemenparekraf.go.id)