Budaya

Nasi Boranan Warisan Budaya Kuliner Daerah Lamongan

Nasi Boranan adalah salah satu kuliner tradisional yang paling ikonik dari Lamongan, Jawa Timur. Nama “nasi boranan” berasal dari istilah “boran”, yaitu tempat khusus yang digunakan untuk menyimpan nasi. Hidangan ini memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi penyajian maupun cita rasanya yang khas dan kaya akan bumbu tradisional. Nasi Boranan disajikan dengan cara unik, menggunakan […]

Oleh Achmad Aristyan

Nasi Boranan Warisan Budaya Kuliner Daerah Lamongan
Nasi Boranan menjadi salah satu kuliner tradisional yang berasal dari Kota Lamongan. Foto: jdih.lamongankab.go.id
Diterbitkan

Nasi Boranan adalah salah satu kuliner tradisional yang paling ikonik dari Lamongan, Jawa Timur. Nama “nasi boranan” berasal dari istilah “boran”, yaitu tempat khusus yang digunakan untuk menyimpan nasi. 

Hidangan ini memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi penyajian maupun cita rasanya yang khas dan kaya akan bumbu tradisional. Nasi Boranan disajikan dengan cara unik, menggunakan wadah yang dilapisi daun pisang, memberikan aroma alami dan cita rasa khas pada nasi. 

Gurih dan Renyah

Hidangan ini biasanya disertai berbagai jenis “urap” atau “krawu” yang dibuat dari campuran sayuran seperti daun pepaya, kacang panjang, dan taoge. Urap ini dicampur dengan kelapa parut berbumbu, menciptakan perpaduan rasa gurih dan sedikit pedas yang menggugah selera.

Selain itu, Nasi Boranan juga dilengkapi dengan “rempeyek” (keripik renyah yang terbuat dari adonan tepung dan kacang) dan “empuk”. “Empuk” merupakan camilan gurih yang terbuat dari campuran tepung beras, gaplek (singkong kering), dan tepung terigu yang dibentuk bulatan kecil dan digoreng hingga renyah. Campuran ini memberikan tekstur renyah dan rasa gurih yang memperkaya hidangan.

Baca juga: Rakyat Ki Bayapati dan Pantangan Makan Lele di Lamongan

Bumbu Tradisiponal

Salah satu daya tarik utama dari Nasi Boranan adalah pilihan lauk pauknya yang beragam. Penikmat Nasi Boranan dapat memilih dari berbagai macam lauk seperti tahu dan tempe goreng yang lezat, ikan bandeng yang gurih, udang, telur dadar, hingga ayam goreng yang dibumbui secara khas. 

Pilihan lauk yang beraneka ragam ini membuat hidangan semakin nikmat dan ideal untuk berbagai selera. Yang membuat Nasi Boran istimewa bukan hanya komponen-komponennya, tetapi juga kombinasi rasanya. 

Rasa gurih dari “empuk” dan “rempeyek”, segarnya “urap”, serta kelezatan lauk pauknya berpadu sempurna dengan nasi hangat yang disajikan. Cita rasa unik dari bumbu tradisional dan aroma daun pisang yang membungkus hidangan menjadikan sajian nasi ini terasa semakin nikmat.

Tari Boran

Nasi Boranan bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya Lamongan. Di berbagai sudut kota, penjual nasi dengan wadah khas ini mudah dijumpai, membawa serta tradisi kuliner yang diwariskan turun-temurun. Dari budaya kuliner ini pun telah lahir Tari Boran yang menggambarkan perjuangan para penjual nasi Boran  untuk mengais rezeki.

Baca juga: Filosofi Di Balik Kesenian Tari Boran Khas Lamongan

Bagi masyarakat setempat, makanan khas ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang kebanggaan terhadap warisan kuliner mereka. Mencicipi Nasi Boranan berarti merasakan sejarah dan budaya Lamongan dalam setiap suapannya.

Hingga kini, hidangan ini tetap menjadi favorit di berbagai kalangan dan menjadi simbol kelezatan kuliner lokal yang patut dilestarikan. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya05 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan