Setiap bulan Rajab/Rejeb seperti pada tahun 2024 ini, masyarakat Dusun Cepit, Desa Pagergunung, menggelar tradisi tahunan yang dikenal sebagai Nyadran Rejeban Plabengan. Acara ini berlangsung di pemakaman yang terletak di lereng Gunung Sumbing, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah.
Tradisi ini telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh warga Dusun Cepit dan hampir setiap tahun bertepatan dengan prosesi pemotongan rambut gimbal, yang biasa disebut Cukur Gombak. Acara ini tidak hanya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga untuk menjaga kelestarian budaya Jawa agar tidak tergerus oleh kemajuan zaman.
Rejeban Plabengan pada tahun ini telah dilaksanakan pada hari Jumat dalam rentang tanggal 10 hingga 15 kalender Jawa sebagai persiapan menyambut bulan Ramadan bagi umat Muslim.
“Rejeban mengandung filosofi gotong royong yang mengajak seluruh warga Desa Pagergunung untuk hidup rukun dan saling membantu antar tetangga,” ungkap Waluyo, seorang tokoh masyarakat setempat.
Waluyo menambahkan bahwa rangkaian acara tersebut mencakup nyekar, yaitu mengirimkan doa untuk para leluhur yang telah mendahului, yang turut berkontribusi pada pembentukan Desa Pagergunung, serta untuk keluarga yang telah tiada. Ada juga kegiatan jamasan, yaitu memandikan kuda lumping dengan air dari mata air di dekat Punden Plabengan.
Tidak hanya warga Desa Pagergunung, Nyadran Rejeban Plabengan juga menarik perhatian dari luar daerah, termasuk warga dari kecamatan dan kabupaten lain, bahkan turis asal Jerman turut serta meramaikan acara dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Daya tarik tradisi ini sangat besar di Kabupaten Temanggung, terlihat dari banyaknya wartawan dan fotografer yang datang untuk mendokumentasikan keseluruhan prosesi demi diliput di media masing-masing.
Seluruh rangkaian acara ini disusun dan dilaksanakan oleh perangkat desa dengan dana yang dikumpulkan dari masyarakat. (Achmad Aristyan – Sumber: mediacenter.temanggungkab.go.id)