Budaya

Pakaian Adat Sangkurat Kebanggaan Suku Dayak Ngaju

Suku Dayak di Kalimantan dikenal memiliki budaya, seni dan tradisi yang beragam yang salah satunya tercermin dari pakaian adat Sangkurat. Pakaian tradisional ini menjadi ciri khas Suku Dayak Ngaju, penduduk asli Kalimantan Tengah. Pakaian adat adalah salah satu daya kreasi tinggi suku Dayak, selain rumah adat, aturan adat atau senjata tradisional. Keunikan Sangkurat Sangkurat berbentuk […]

Oleh Achmad Aristyan

Pakaian Adat Sangkurat Kebanggaan Suku Dayak Ngaju
Sangkurat sebagai pakaian adat khas Suku Dayak Ngaju. Foto: indonesiakaya.com
Diterbitkan

Suku Dayak  di Kalimantan dikenal memiliki budaya, seni dan tradisi yang beragam yang salah satunya tercermin dari pakaian adat Sangkurat. Pakaian tradisional ini menjadi ciri khas Suku Dayak Ngaju, penduduk asli Kalimantan Tengah. Pakaian adat adalah salah satu daya kreasi tinggi suku Dayak, selain rumah adat, aturan adat atau senjata tradisional.

Keunikan Sangkurat

Sangkurat berbentuk rompi dan dibuat dari bahan alami yang unik, yaitu kulit nyamu atau daun lemba. Lemba, yang juga dikenal sebagai pohon pinang puyuh, adalah tanaman berumpun yang tumbuh di area lembap dan teduh. 

Daunnya berbentuk bujur, berwarna hijau, serta memiliki tekstur keras dan kuat. Daun lemba yang dipilih sebagai bahan dasar Sangkurat umumnya memiliki panjang 50-60 cm dan lebar 15-17 cm. 

Daun ini tahan lama, sehingga rompi Sangkurat bisa bertahan puluhan tahun. Proses pembuatan Sangkurat melibatkan keterampilan tinggi dalam merajut daun lemba hingga berbentuk rompi. 

Setelah itu, rompi dihias dengan berbagai ornamen seperti kulit trenggiling, kancing, manik-manik, uang logam, dan bahkan benda-benda bertuah yang diyakini memiliki kekuatan magis.

Bagi masyarakat Dayak Ngaju, hiasan ini bukan sekadar estetika, tetapi juga memiliki fungsi simbolis untuk melindungi pemakainya dari pengaruh jahat dan bahaya.

Filosofi Sangkurat

Secara etimologi, nama Sangkurat berasal dari kata sangka yang berarti pembatas atau penyangga. Nama ini mencerminkan fungsi rompi sebagai pelindung, baik secara fisik maupun spiritual. 

Dalam sejarahnya, Sangkurat sering digunakan sebagai pakaian perang. Namun, pakaian ini juga memiliki peran penting dalam berbagai upacara adat, seperti pernikahan, di mana pemakainya merasa lebih gagah dan terlindungi dari marabahaya.

Suku Dayak Ngaju meyakini bahwa mengenakan Sangkurat memberikan kekuatan tambahan dan perlindungan dari bahaya yang mengancam. Dengan rompi ini, mereka merasa lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan, baik dalam peperangan maupun dalam ritual-ritual adat yang sakral.

Simbol Budaya

Pakaian Adat Sangkurat tidak hanya sekadar pakaian, tetapi juga simbol identitas budaya Suku Dayak Ngaju. Rompi ini mencerminkan keahlian, kreativitas, serta kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya14 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan