Cerita Rakyat

Perjalanan Mundinglaya Dikusumah Menuju Kedamaian Pajajaran

Mundinglaya Dikusumah adalah cerita rakyat terkenal dari masyarakat Sunda. Kisah ini menceritakan perjalanan seorang pangeran yang menjadi raja pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi di Kerajaan Sunda atau Pajajaran. Pajajaran, nama yang sering digunakan untuk menyebut kerajaan ini, tetap dikenang meskipun wilayahnya mengalami perubahan setelah Cirebon dan Banten memisahkan diri. Asal Usul Cerita Melansir dari repositori.kemendikbud.go.id, […]

Oleh Achmad Aristyan

Perjalanan Mundinglaya Dikusumah Menuju Kedamaian Pajajaran
Ilustrasi Mundinglaya Dikusumah. Tangkapan layar: repositori.kemendikbud.go.id/Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta.
Diterbitkan

Mundinglaya Dikusumah adalah cerita rakyat terkenal dari masyarakat Sunda. Kisah ini menceritakan perjalanan seorang pangeran yang menjadi raja pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi di Kerajaan Sunda atau Pajajaran. 

Pajajaran, nama yang sering digunakan untuk menyebut kerajaan ini, tetap dikenang meskipun wilayahnya mengalami perubahan setelah Cirebon dan Banten memisahkan diri.

Asal Usul Cerita

Melansir dari repositori.kemendikbud.go.id, kisah Mundinglaya Dikusumah awalnya berkembang dari tradisi lisan masyarakat Sunda atau pantun. Cerita ini lalu ditulis para penulis dalam Bahasa Sunda dan Indonesia dalam buku.

Beberapa karya roman yang mengadaptasi cerita ini adalah Pasini Jangji di Muaraberes karya Rohmat Tasdik Al-Garuti, yang diterbitkan dalam tiga bahasa: Sunda, Indonesia, dan Inggris.

Kisah Keluarga Kerajaan Pajajaran

Prabu Siliwangi memiliki dua istri, Nyimas Tejamantri dan Nyimas Padmawati. Dari Nyimas Tejamantri lahirlah Pangeran Guru Gantangan, sementara dari Nyimas Padmawati lahir Pangeran Mundinglaya. 

Perbedaan usia yang signifikan antara kedua pangeran ini membuat Mundinglaya dibesarkan Guru Gantangan, yang sangat menyayanginya.

Namun, perhatian berlebih dari keluarga Guru Gantangan terhadap Mundinglaya menimbulkan kecemburuan, terutama dari anak angkatnya, Sunten Jaya. Konflik keluarga ini menjadi awal dari perpecahan di dalam kerajaan.

Mimpi Permaisuri dan Misi Mundinglaya

Ketika konflik memuncak, Nyimas Padmawati bermimpi tentang tujuh guriang yang tinggal di puncak gunung. Mereka menyebutkan bahwa hanya Layang Salaka Domas, jimat sakral, yang dapat membawa perdamaian bagi Pajajaran. 

Prabu Siliwangi segera mengadakan pertemuan besar, memanggil semua pangeran dan bangsawan untuk menentukan siapa yang berani mengambil jimat itu dari Jabaning Langit.

Namun, hanya Mundinglaya yang akhirnya bersedia menjalankan misi ini, meskipun harus menghadapi banyak rintangan. Keberangkatannya tidak hanya menjadi tugas negara, tetapi juga kesempatan membuktikan kebenarannya.

Perjalanan dan Pertempuran  

Dalam perjalanan menuju Jabaning Langit, Mundinglaya menghadapi banyak cobaan, termasuk pertempuran dengan raksasa bernama Jonggrang Kalapitung. Namun, Mundinglaya berhasil mengalahkan raksasa dan melanjutkan perjalanan.

Di akhir perjalanannya, ia bertemu dengan tujuh guriang penjaga Layang Salaka Domas. Meski awalnya ditolak, kejujuran dan ketulusan Mundinglaya membuat para guriang luluh, sehingga jimat itu akhirnya diserahkan kepadanya.

Kepulangan dan Keadilan  

Ketika Mundinglaya kembali ke Pajajaran, ia difitnah Sunten Jaya. Namun, kebenaran akhirnya terungkap, dan Mundinglaya tidak hanya membawa perdamaian ke kerajaan, tetapi juga mengembalikan keharmonisan kerajaan.  

Cerita ini berakhir dengan pelajaran moral tentang betapa pentingnya memiliki keberanian, kejujuran, dan pengorbanan demi kebaikan bersama.

Pelestarian Budaya Sunda  

Kisah Mundinglaya Dikusumah adalah warisan budaya Sunda yang kaya akan nilai-nilai kehidupan. Hingga kini, cerita ini masih dihidupkan melalui seni pertunjukan, sastra, dan tradisi lisan masyarakat. 

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat16 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan