Kolonialisme dan Pergerakan

Persaingan Spanyol dan Portugis di Kawasan Rempah Maluku

Perebutan cengkih membawa dua kerajaan Iberia ke Maluku, tempat persaingan global bertemu dengan kepentingan politik Ternate dan Tidore.

Oleh Narendra

Persaingan Spanyol dan Portugis di Kawasan Rempah Maluku
Ilustrasi rekonstruksi persaingan Portugis dan Spanyol di Maluku pada abad ke-16, ketika perdagangan cengkih berkaitan dengan perebutan pengaruh politik.
Diterbitkan

Pada awal abad ke-16, Kepulauan Maluku menjadi tujuan penting pelayaran bangsa Eropa. Cengkih yang tumbuh di kawasan ini memiliki nilai tinggi dalam perdagangan internasional, sementara jarak yang jauh dan jalur distribusinya membuat rempah-rempah tersebut menjadi komoditas yang menguntungkan.

Portugis dan Spanyol berusaha menjangkau sumber rempah secara langsung. Persaingan mereka bukan hanya soal siapa yang dapat membeli cengkih, melainkan juga siapa yang berhak menguasai jalur pelayaran, membangun pangkalan, dan menjalin hubungan dengan penguasa setempat.

Dua Jalur Menuju Kepulauan Rempah

Portugis lebih dahulu membangun jaringan pelayaran ke Asia melalui Samudra Hindia. Setelah menaklukkan Malaka pada 1511, mereka memiliki pangkalan strategis untuk melanjutkan pelayaran ke wilayah penghasil rempah. Ekspedisi Portugis mencapai Maluku pada 1512, membuka hubungan langsung dengan kerajaan-kerajaan penghasil cengkih.

Spanyol menempuh jalur berbeda. Ekspedisi yang berangkat di bawah pimpinan Ferdinand Magellan pada 1519 melintasi Samudra Atlantik, mengitari Amerika Selatan, lalu menyeberangi Pasifik. Setelah Magellan tewas di Filipina pada 1521, pelayaran dilanjutkan oleh anggota ekspedisi yang tersisa di bawah kepemimpinan Juan Sebastián Elcano. Salah satu kapal yang berhasil kembali ke Spanyol, Victoria, menyelesaikan pelayaran keliling dunia pada 1522.

Ekspedisi tersebut menunjukkan bahwa perjalanan dari arah barat menuju Asia memungkinkan dilakukan, meski memerlukan waktu panjang dan menghadapi risiko besar. Pada 1521, rombongan Spanyol mencapai kawasan Maluku dan menjalin hubungan dengan Tidore. Kehadiran mereka membuat persaingan dengan Portugis semakin dekat dengan pusat produksi cengkih.

Kedua kerajaan membawa klaim yang berakar pada pembagian wilayah pelayaran yang telah mereka sepakati di Eropa. Namun, garis pembagian itu sulit diterapkan secara pasti di sisi lain dunia, terutama karena penentuan garis bujur pada masa tersebut masih menghadapi keterbatasan teknis.

Ternate, Tidore, dan Kepentingan Lokal

Persaingan Portugis dan Spanyol tidak berlangsung di ruang kosong. Maluku telah memiliki struktur politik, hubungan dagang, dan persaingan antarkerajaan sebelum kedatangan armada Eropa. Ternate dan Tidore merupakan dua kekuatan penting yang berusaha mempertahankan pengaruhnya di kawasan penghasil cengkih.

Sultan Ternate menjalin hubungan dengan Portugis, sementara penguasa Tidore menerima kehadiran Spanyol. Hubungan ini tidak cukup dijelaskan sebagai pilihan sederhana antara pihak asing yang satu dan lainnya. Aliansi dapat menjadi cara untuk memperoleh dukungan militer, memperkuat kedudukan terhadap pesaing lokal, atau memperluas pengaruh atas wilayah dan jaringan perdagangan di sekitarnya.

Kajian sejarah mengenai diplomasi awal modern menunjukkan bahwa penguasa Ternate dan Tidore memiliki perhitungan politik sendiri. Kedatangan Portugis dan Spanyol kemudian menyatukan persaingan lokal dengan pertarungan dua monarki Eropa yang memiliki kepentingan lintas samudra.

Hubungan tersebut juga tidak selalu stabil. Kerja sama perdagangan dapat berjalan berdampingan dengan ketegangan, sementara dukungan militer dari pihak Eropa membawa konsekuensi terhadap keseimbangan kekuasaan setempat. Karena itu, sejarah Maluku pada masa ini perlu ditulis dengan memperhatikan keputusan para penguasa lokal, bukan hanya pergerakan kapal asing.

Tordesillas dan Persoalan Kepemilikan Maluku

Pada 1494, Portugal dan kerajaan yang diperintah oleh monarki Katolik Spanyol menyepakati Perjanjian Tordesillas. Perjanjian itu menetapkan garis demarkasi di Samudra Atlantik untuk membagi klaim atas wilayah penjelajahan yang menjadi sengketa. Ketika pelayaran mencapai Asia dari arah berbeda, persoalan muncul: di sisi mana Kepulauan Maluku seharusnya ditempatkan?

Kesulitan menentukan garis bujur membuat klaim kedua pihak sulit diselesaikan hanya melalui peta. Portugal menganggap Maluku berada dalam wilayah pengaruhnya berdasarkan pembagian tersebut, sedangkan Spanyol memiliki dasar klaim yang berbeda setelah ekspedisi Magellan mencapai kepulauan itu melalui Pasifik.

Perselisihan kemudian dibahas melalui Perjanjian Zaragoza pada 1529. Dalam kesepakatan itu, Charles V dari Spanyol melepaskan klaim atas Maluku kepada Portugal dengan imbalan 350.000 dukat emas. Dokumen yang tersimpan dalam arsip Spanyol menunjukkan bahwa perjanjian tersebut secara khusus mengatur hak dan kepemilikan atas wilayah Maluku.

Perjanjian Zaragoza mengurangi pertentangan langsung antara kedua monarki mengenai kepemilikan kawasan rempah. Namun, kesepakatan kerajaan Eropa itu tidak berarti bahwa seluruh kegiatan perdagangan di Maluku otomatis berada di bawah kendali efektif Portugis. Hubungan dengan penguasa lokal, persaingan dagang, dan kemampuan mempertahankan pangkalan tetap menentukan sejauh mana klaim tersebut dapat dijalankan.

Rempah, Kekuasaan, dan Warisan Persaingan

Persaingan Portugis dan Spanyol memperlihatkan bahwa perdagangan rempah pada abad ke-16 berkaitan erat dengan ekspansi militer dan diplomasi. Cengkih bukan hanya barang dagangan bernilai tinggi, melainkan juga alasan bagi kerajaan-kerajaan Eropa untuk mengirim armada melintasi samudra dan membangun jaringan kekuasaan jauh dari tanah asalnya.

Meski demikian, hasil persaingan itu tidak dapat dipahami hanya sebagai kemenangan satu pihak atas pihak lain. Ternate dan Tidore tetap menjadi aktor penting yang bernegosiasi, membangun aliansi, dan menghadapi perubahan keseimbangan kekuatan. Pengaruh Portugis pun tidak sama dengan kendali mutlak atas seluruh perdagangan rempah di Asia.

Perjanjian Zaragoza pada 1529 menjadi titik penting dalam penyelesaian klaim Spanyol dan Portugis, tetapi tidak mengakhiri seluruh dinamika politik Maluku. Sejarah kawasan ini dibentuk oleh pertemuan kepentingan global dan keputusan lokal—sebuah proses yang jauh lebih kompleks daripada sekadar perebutan pulau penghasil rempah.

CATATAN REDAKSI 

Persaingan Portugis dan Spanyol di Maluku perlu dibaca sebagai pertemuan antara ekspansi dua monarki Eropa dan dinamika politik kerajaan-kerajaan setempat. Ternate dan Tidore bukan sekadar pendukung pasif; hubungan mereka dengan bangsa Eropa berkaitan dengan kepentingan perdagangan, keamanan, dan persaingan regional.

Perjanjian Tordesillas (1494) dan Zaragoza (1529) memiliki konteks berbeda. Tordesillas mengatur pembagian klaim pelayaran di Samudra Atlantik, sedangkan Zaragoza secara khusus menyelesaikan sengketa kedua kerajaan mengenai Maluku. Naskah ini belum melalui pemeriksaan arsip internal EMMANUS dan masih memerlukan verifikasi akhir terhadap sumber primer, 

Tentang Penulis

Narendra

Narendra

Pendiri EMMANUS, platform media dan pengetahuan yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan sejarah serta kebudayaan Nusantara. Berkomitmen menghadirkan informasi, cerita, dan pengetahuan yang bermakna melalui jurnalisme, teknologi digital, dan literasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Kolonialisme dan Pergerakan

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →