Prasasti dan Manuskrip

Prasasti Yupa, Jejak Tertulis Awal Sejarah Nusantara

Tujuh prasasti batu dari Muara Kaman merekam silsilah penguasa, bahasa Sanskerta, dan ritual keagamaan yang membuka jendela sejarah awal Nusantara.

Oleh Narendra

Prasasti Yupa, Jejak Tertulis Awal Sejarah Nusantara
Prasasti Yupa dari Muara Kaman menjadi salah satu sumber tertulis penting untuk menelusuri sejarah awal Nusantara.dok wikipedia commnon
Diterbitkan

Di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tujuh tugu batu menyimpan catatan tentang kehidupan penguasa pada masa awal sejarah tertulis Nusantara. Tulisan yang terpahat di permukaannya menyebut garis keturunan raja, pujian terhadap penguasa, serta pemberian dalam upacara keagamaan. Benda-benda itu dikenal sebagai Prasasti Yupa.

Yupa menjadi sumber penting untuk menelusuri kehidupan politik dan kebudayaan di kawasan hulu Sungai Mahakam sekitar abad keempat hingga kelima Masehi. Bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa yang digunakan pada prasasti memperlihatkan hubungan masyarakat penguasa setempat dengan tradisi tulis yang berkembang lebih luas di Asia.

Namun, Yupa bukan catatan lengkap tentang sebuah kerajaan. Isi prasasti berpusat pada silsilah, ritual, dan kemurahan hati penguasa. Untuk memahami peninggalan ini, bentuk batu, bahasa, tulisan, isi, serta keterbatasan keterangannya perlu dibaca sebagai satu kesatuan.

Tujuh Tugu Batu dari Muara Kaman

Yupa ditemukan di kawasan Muara Kaman, wilayah yang sekarang termasuk Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Empat prasasti dilaporkan ditemukan pada 1879, sedangkan tiga lainnya ditemukan pada 1940. Ketujuhnya dikenal melalui koleksi prasasti Muara Kaman dan disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Bentuk Yupa berupa tugu batu dengan tulisan yang dipahat pada permukaannya. Benda dan teksnya tidak dapat dipisahkan: batu menjadi media yang mempertahankan tulisan, sementara bentuk tugu memberi petunjuk mengenai fungsi yang berkaitan dengan ritual. Dalam tradisi India kuno, istilah yupa berhubungan dengan tiang yang digunakan dalam upacara kurban.

Keterangan tersebut membantu menjelaskan konteks peninggalan Muara Kaman, tetapi tidak berarti semua rincian ritual pada masa itu dapat direkonstruksi hanya dari bentuk batunya. Penafsiran tetap harus bertumpu pada isi tulisan dan bukti lain yang dapat dibandingkan.

Sebagai prasasti, Yupa berbeda dari kisah yang disusun berabad-abad kemudian. Teksnya merupakan bukti tertulis yang berasal dari lingkungan penguasa pada masa yang dibahas. Karena itu, prasasti ini memiliki kedudukan penting dalam penelitian sejarah awal Kalimantan, meskipun tidak menyediakan gambaran menyeluruh tentang kehidupan penduduknya.

Bahasa Sanskerta dan Aksara Pallawa

Tulisan pada Yupa menggunakan bahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa awal. Sanskerta memiliki kedudukan penting dalam tradisi keagamaan dan sastra Asia Selatan, sementara aksara Pallawa berkembang dari tradisi penulisan di India Selatan dan digunakan dalam sejumlah prasasti di Asia Tenggara.

Penggunaan keduanya menunjukkan bahwa lingkungan penguasa di Muara Kaman mengenal tradisi tulis yang terhubung dengan jaringan kebudayaan lebih luas. Namun, bukti ini tidak cukup untuk memastikan bagaimana pengetahuan tersebut sampai ke kawasan Mahakam, siapa yang mengajarkannya, atau seberapa luas kemampuan baca-tulis digunakan oleh masyarakat setempat.

Bahasa yang dipilih juga berkaitan dengan cara pesan disampaikan. Dalam Yupa, silsilah dan pemberian raja disajikan melalui ungkapan yang sesuai dengan tradisi pujian serta ritual keagamaan. Prasasti dengan demikian bukan hanya tempat menyimpan informasi, melainkan juga sarana untuk mengabadikan gambaran tertentu mengenai penguasa.

Penanggalan Yupa umumnya ditempatkan sekitar abad keempat hingga kelima Masehi berdasarkan kajian bentuk aksara dan perbandingan epigrafis. Rentang ini merupakan perkiraan ilmiah, bukan tanggal pasti yang dicantumkan secara langsung dalam teks. Ketepatan penanggalan perlu dipahami sesuai metode dan bukti yang digunakan para peneliti.

Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman

Salah satu bagian penting Yupa adalah silsilah yang menghubungkan Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman. Kudungga disebut sebagai leluhur dalam garis keturunan tersebut, Aswawarman sebagai putranya, dan Mulawarman sebagai keturunan yang mendapat perhatian utama dalam pujian prasasti.

Nama-nama itu memperlihatkan bagaimana hubungan keluarga penguasa dicatat dan digunakan untuk menempatkan seorang raja dalam garis keturunan. Perbedaan bentuk nama juga sering dibahas dalam penelitian mengenai perubahan kebudayaan. Meski demikian, nama semata tidak cukup untuk menyimpulkan seluruh identitas, asal-usul, atau perjalanan keagamaan setiap tokoh.

Mulawarman digambarkan sebagai penguasa yang memberikan persembahan kepada kaum Brahmana. Sejumlah prasasti menyebut pemberian sapi, sementara salah satu teks memuat istilah bahusuwarnnakam yang berkaitan dengan emas dalam jumlah besar. Para Brahmana juga disebut dalam hubungan dengan pendirian tugu sebagai penanda upacara.

Keterangan tersebut memberi gambaran tentang hubungan antara penguasa, ritual, dan kelompok keagamaan. Pemberian bukan hanya informasi mengenai harta yang diserahkan, tetapi juga bagian dari cara prasasti menampilkan kemurahan hati serta kewibawaan raja.

Nama Kutai yang digunakan dalam penulisan sejarah modern perlu dibedakan dari informasi yang benar-benar tertulis pada Yupa. Ketujuh prasasti tersebut tidak menyebut nama kerajaan secara langsung. Sebutan Kerajaan Kutai menjadi istilah yang lazim digunakan untuk merujuk pada lingkungan kekuasaan yang dikaitkan dengan temuan di Muara Kaman.

Nilai dan Batas Keterangan Prasasti

Yupa memberikan bukti penting mengenai tradisi tulis, bahasa Sanskerta, aksara Pallawa, silsilah penguasa, serta praktik ritual di Muara Kaman. Informasi tersebut membantu sejarawan memahami bagaimana kekuasaan ditampilkan dan diabadikan melalui prasasti pada masa awal sejarah tertulis Nusantara.

Namun, isi prasasti tidak dapat dianggap sebagai laporan netral mengenai seluruh kehidupan masyarakat. Teksnya menonjolkan penguasa, keturunan, dan pemberian keagamaan, bukan kehidupan sehari-hari penduduk. Yupa tidak menjelaskan secara lengkap kegiatan pertanian, perdagangan, struktur pemerintahan, atau pengalaman kelompok masyarakat di luar lingkungan yang disebutkan dalam tulisan.

Pembedaan antara isi teks dan penafsiran juga penting. Nama tokoh dan pemberian yang tertulis merupakan informasi dari prasasti, sedangkan penjelasan tentang perkembangan politik, hubungan kebudayaan, dan bentuk masyarakat merupakan hasil interpretasi yang perlu didukung perbandingan sumber.

Keterbatasan itu tidak mengurangi nilai Yupa. Sebaliknya, keterbatasan tersebut menunjukkan mengapa prasasti perlu diteliti secara hati-hati, dengan memperhatikan kondisi benda, keterbacaan tulisan, bahasa, dan konteks penemuannya.

Pelestarian Yupa mencakup perawatan fisik, dokumentasi, penelitian epigrafi, serta penyediaan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Dari tujuh tugu batu di Muara Kaman, sejarah memperoleh bukti tertulis yang sangat berharga. Batu-batu itu tidak menceritakan semuanya, tetapi membantu menjelaskan bagian penting dari masa lalu yang tanpa bukti tertulis akan jauh lebih sulit ditelusuri.

Tentang Penulis

Narendra

Narendra

Pendiri EMMANUS, platform media dan pengetahuan yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan sejarah serta kebudayaan Nusantara. Berkomitmen menghadirkan informasi, cerita, dan pengetahuan yang bermakna melalui jurnalisme, teknologi digital, dan literasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Prasasti dan Manuskrip

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →