Masyarakat Jawa mengenal berbagai tradisi atau ritual yang dilakukan orang tua untuk sang buah hati agar diberi keselamatan, kesehatan dan kesuksesan, salah satunya tradisi Tedhak Siten. Tradisi ini dilakukan dalam rangka memperingati bayi yang telah berusia delapan bulan.
Hingga kini tradisi dari para leluhur ini masih menjadi tradisi yang dilestarikan masyarakat di Jawa Tengah, khususnya masyarakat Kabupaten Temanggung. Di daerah ini, Tedhak Sinten biasa disebut juga dengan istilah “Dun-Dunan”.
Dilansir dari Infopublik.id, terdapat beberapa fase atau tahapan dalam ritual ini:
Tahap pertama, anak akan dituntun untuk berjalan di atas tujuh jadah dengan tujuh warna, yakni coklat, merah, kuning, hijau, ungu, biru, dan putih.
Tahap kedua, anak dibimbing menaiki tangga yang dibuat dari tebu sebagai simbol dari jenjang kehidupan, tebu yang kependekan dari antebing kalbu bermakna keteguhan hati.
Tahap ketiga, anak akan dibiarkan mencakar-cakar tanah dengan kedua kakinya sebagai harapan agar kelak saat dewasa si anak mampu untuk mengais rezeki.
Tahap keempat, anak dimasukkan dalam kurungan ayam yang telah diberi beraneka benda, seperti uang, mainan, alat musik, buku, atau makanan. Benda yang nantinya dipilih sang anak menggambarkan potensi anak.
Tahap kelima, anak akan diberi uang logam dengan berbagai macam bunga dan beras kuning oleh sang ayah dan kakek sebagai lambang dan harapan supaya anak diberkahi rezeki yang melimpah, tetapi tetap memiliki sifat dermawan.
Tahap keenam, anak dimandikan dengan air yang telah dicampur kembang setaman. Langkah ini sebagai harapan agar si anak mampu membawa nama baik bagi keluarganya.
Tahap terakhir adalah proses pemakaian baju yang bagus dan bersih supaya anak bisa menjalani kehidupan dengan baik.
Salah seorang pemangku tradisi asal Desa Tanjungsari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung, Zaidah (58), mengungkapkan, Tedhak Siten sendiri secara harfiah merupakan sebuah prosesi menginjakkan kaki ke tanah untuk pertama kalinya pada bayi dengan harapan agar mereka tidak kaget, jika kelak sudah mampu berjalan sendiri. “Masyarakat Jawa kan memiliki sejarah tradisi yang kuat. Mereka menggunakan simbol-simbol sebagai perlambang akan sebuah harapan tertentu,”