Budaya

Rumah Adat Honai Papua yang Terinspirasi Sarang Burung

Salah satu rumah tradisional di Indonesia yang sangat populer dan memiliki keunikan tersendiri yakni Honai, rumah adat suku Dani yang bermukim di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Keberadaan rumah Honai dapat ditemukan di berbagai lembah dan pegunungan di tengah Pulau Papua. Khususnya pada ketinggian 1.600–1.700 meter di atas permukaan laut. Wilayah ii dihuni suku Dani, suku […]

Oleh Anisa Kurniawati

Rumah Adat Honai Papua yang Terinspirasi Sarang Burung
Inspirasi bentuk rumah Honai berasal dari cara burung membuat sarang untuk melindungi telur-telurnya. Foto: Wikimedia Commons/Irfantraveller
Diterbitkan

Salah satu rumah tradisional di Indonesia yang sangat populer dan memiliki keunikan tersendiri yakni Honai, rumah adat suku Dani yang bermukim di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Keberadaan rumah Honai dapat ditemukan di berbagai lembah dan pegunungan di tengah Pulau Papua. Khususnya pada ketinggian 1.600–1.700 meter di atas permukaan laut. Wilayah ii dihuni suku Dani, suku Yali dan suku Lani.

Asal Mula Rumah Honai

Honai merupakan hasil kreativitas suku Dani yang sebelumnya hidup di bawah pohon-pohon besar. Namun, kondisi alam yang tidak menentu mendorong mereka untuk membangun tempat tinggal yang lebih kokoh dan nyaman. 

Inspirasi bentuk rumah Honai berasal dari cara burung membuat sarang untuk melindungi telurnya.

Suku Dani mengamati bagaimana burung mengumpulkan ranting dan rumput kering, lalu membentuknya menjadi sarang berbentuk bulat sebagai perlindungan. 

Ciri Khas dan Struktur Rumah Honai

Dilansir dari Indonesia.go.id, rumah Honai memiliki bentuk unik menyerupai jamur dengan struktur dasar berbentuk lingkaran. Jika dilihat dari udara, Honai tampak seperti jajaran jamur berwarna cokelat kehitaman menghiasi lembah. 

Dindingnya terbuat dari anyaman kayu, sementara atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami dan lantainya dari tanah. Tinggi rumah ini hanya sekitar 2,5 meter. Materialnya sepenuhnya berasal dari alam dan dapat diperbarui. 

Desain rumah ini juga sangat fungsional. Atapnya menutup hingga ke bawah untuk melindungi dinding dari hujan serta menjaga suhu dalam rumah tetap hangat. Tidak adanya jendela juga merupakan strategi untuk menahan udara dingin.

Rumah ini hanya memiliki satu pintu sebagai akses keluar-masuk. Ventilasinya kecil, sehingga tetap aman dari gangguan binatang liar. Meskipun terlihat mungil dari luar, bagian dalam Honai memiliki dua lantai dengan fungsi yang berbeda. 

Lantai pertama digunakan sebagai tempat tidur, sementara lantai kedua berfungsi sebagai ruang bersantai, makan, dan melakukan aktivitas keluarga lainnya.

Di tengah rumah terdapat lubang tanah yang berfungsi sebagai tungku untuk memasak serta menghangatkan ruangan. 

Filosofi Honai

Dalam tradisi suku Dani, rumah Honai hanya dihuni kaum laki-laki. Sementara rumah bagi perempuan disebut rumah Ebei, dan kandang ternak dinamakan Wamai. Ketiga jenis rumah ini bentuknya serupa.

Namun ukuran Honai yang diperuntukkan bagi laki-laki dibuat lebih tinggi. Selain sebagai tempat tinggal, Honai digunakan menjadi tempat penyimpanan peralatan perang dan berburu. 

Selain itu sebagai pusat pelatihan bagi anak laki-laki hingga menjadi lokasi penyusunan strategi perang. Di dalamnya juga disimpan berbagai simbol dan peralatan warisan leluhur yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi.

Honai juga digunakan untuk menyimpan hasil panen umbi-umbian dan pengasapan mumi. Salah satu tempat yang terkenal dengan fungsi ini adalah Kampung Desa Kerulu dan Desa Aikima. Tempat itu terdapat dua mumi paling terkenal di Lembah Baliem.

TopikBudaya
Budaya18 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati