Salah satu rumah tradisional di Indonesia yang sangat populer dan memiliki keunikan tersendiri yakni Honai, rumah adat suku Dani yang bermukim di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua.
Keberadaan rumah Honai dapat ditemukan di berbagai lembah dan pegunungan di tengah Pulau Papua. Khususnya pada ketinggian 1.600–1.700 meter di atas permukaan laut. Wilayah ii dihuni suku Dani, suku Yali dan suku Lani.
Asal Mula Rumah Honai
Honai merupakan hasil kreativitas suku Dani yang sebelumnya hidup di bawah pohon-pohon besar. Namun, kondisi alam yang tidak menentu mendorong mereka untuk membangun tempat tinggal yang lebih kokoh dan nyaman.
Inspirasi bentuk rumah Honai berasal dari cara burung membuat sarang untuk melindungi telurnya.
Suku Dani mengamati bagaimana burung mengumpulkan ranting dan rumput kering, lalu membentuknya menjadi sarang berbentuk bulat sebagai perlindungan.
Ciri Khas dan Struktur Rumah Honai
Dilansir dari Indonesia.go.id, rumah Honai memiliki bentuk unik menyerupai jamur dengan struktur dasar berbentuk lingkaran. Jika dilihat dari udara, Honai tampak seperti jajaran jamur berwarna cokelat kehitaman menghiasi lembah.
Dindingnya terbuat dari anyaman kayu, sementara atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami dan lantainya dari tanah. Tinggi rumah ini hanya sekitar 2,5 meter. Materialnya sepenuhnya berasal dari alam dan dapat diperbarui.
Desain rumah ini juga sangat fungsional. Atapnya menutup hingga ke bawah untuk melindungi dinding dari hujan serta menjaga suhu dalam rumah tetap hangat. Tidak adanya jendela juga merupakan strategi untuk menahan udara dingin.
Rumah ini hanya memiliki satu pintu sebagai akses keluar-masuk. Ventilasinya kecil, sehingga tetap aman dari gangguan binatang liar. Meskipun terlihat mungil dari luar, bagian dalam Honai memiliki dua lantai dengan fungsi yang berbeda.
Lantai pertama digunakan sebagai tempat tidur, sementara lantai kedua berfungsi sebagai ruang bersantai, makan, dan melakukan aktivitas keluarga lainnya.
Di tengah rumah terdapat lubang tanah yang berfungsi sebagai tungku untuk memasak serta menghangatkan ruangan.
Filosofi Honai
Dalam tradisi suku Dani, rumah Honai hanya dihuni kaum laki-laki. Sementara rumah bagi perempuan disebut rumah Ebei, dan kandang ternak dinamakan Wamai. Ketiga jenis rumah ini bentuknya serupa.
Namun ukuran Honai yang diperuntukkan bagi laki-laki dibuat lebih tinggi. Selain sebagai tempat tinggal, Honai digunakan menjadi tempat penyimpanan peralatan perang dan berburu.
Selain itu sebagai pusat pelatihan bagi anak laki-laki hingga menjadi lokasi penyusunan strategi perang. Di dalamnya juga disimpan berbagai simbol dan peralatan warisan leluhur yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi.
Honai juga digunakan untuk menyimpan hasil panen umbi-umbian dan pengasapan mumi. Salah satu tempat yang terkenal dengan fungsi ini adalah Kampung Desa Kerulu dan Desa Aikima. Tempat itu terdapat dua mumi paling terkenal di Lembah Baliem.