Belajar sains tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Di Kota Batu, Jawa Timur, sebuah ruang edukasi baru mencoba mempertemukan eksperimen ilmu pengetahuan dengan sejarah, seni, dan budaya Indonesia.
Mega Science Center dan Budaya di kawasan Jatim Park 1 resmi memasuki tahap trial opening pada Rabu, 16 September 2026. Pembukaan tersebut diresmikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan berlangsung bertepatan dengan perayaan 25 tahun perjalanan Jatim Park.
Dikembangkan oleh Jatim Park Group, destinasi ini dirancang sebagai ruang pembelajaran berbasis pengalaman. Pengunjung tidak hanya melihat koleksi atau membaca keterangan, tetapi diajak mencoba, berinteraksi, dan mengalami langsung berbagai konsep sains, teknologi, sejarah, serta budaya.
Secara keseluruhan, Mega Science Center dan Budaya menghadirkan 617 alat peraga sains dan 1.023 artefak budaya dalam berbagai zona tematik.
Bukan Sekadar Tempat Melihat Koleksi
Konsep utama Mega Science Center dan Budaya terletak pada pengalaman langsung.
Pengunjung dapat berpindah dari satu tema ke tema lain, mulai dari fisika, antariksa, kebencanaan, robotik dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), hingga sejarah dan budaya Indonesia.
Pendekatan semacam ini menempatkan pengunjung sebagai bagian dari proses pembelajaran. Fenomena yang biasanya dipelajari melalui buku atau penjelasan guru diterjemahkan menjadi instalasi dan simulasi yang dapat dicoba secara langsung.
Konsep tersebut sejalan dengan gagasan learning by doing yang disoroti Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ketika membuka ujicoba pembukaan fasilitas atau trial opening. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyebut fasilitas ini sebagai salah satu ruang yang dapat mendukung pengenalan pembelajaran STEM secara lebih menyenangkan dan interaktif.
Dalam konteks pendidikan, pendekatan tersebut juga membuka kemungkinan bagi sekolah untuk menjadikan kunjungan bukan sekadar kegiatan rekreasi, melainkan bagian dari pengalaman belajar di luar kelas.
Dari Fisika hingga Antariksa
Pengalaman pengunjung dimulai dari area luar melalui Gravity Coaster sebagai salah satu daya tarik pembuka. Setelah itu, eksplorasi berlanjut ke berbagai zona pembelajaran.
Zona Fisika menghadirkan sejumlah instalasi yang memperkenalkan konsep-konsep fisika melalui pengalaman langsung. Beberapa fasilitas yang disiapkan antara lain koneksi tulang, listrik dan magnet, transmisi suara melalui serat optik, serta gyroscope.
Alih-alih sekadar menyampaikan definisi, instalasi tersebut memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat bagaimana sebuah prinsip bekerja. Konsep fisika yang kerap terasa abstrak di dalam buku dapat dipahami melalui aktivitas yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Dari fisika, perjalanan berlanjut ke Zona Antariksa. Zona ini menghadirkan roket, Lunar Walk, videotron planet, Tesla Coil, serta space suits atau pakaian astronot.
Salah satu fasilitas yang menarik perhatian adalah Lunar Walk. Instalasi tersebut memberikan pengalaman kepada pengunjung untuk merasakan sensasi berjalan seperti di permukaan Bulan.
Sementara itu, keberadaan roket, visual planet, Tesla Coil, dan pakaian astronot membawa pengalaman eksplorasi ke tema yang lebih luas: bagaimana manusia memahami dan menjelajahi ruang angkasa.
Mengenal Bencana Melalui Simulasi
Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai potensi bencana alam. Karena itu, pengenalan mengenai kebencanaan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga kesiapsiagaan.
Mega Science Center dan Budaya memasukkan tema tersebut melalui Zona Bencana Alam.
Di dalamnya terdapat sejumlah pengalaman simulasi, antara lain gempa, hurricane, Hormuz Storm Cinema, dan First Twister untuk mengenalkan fenomena tornado.
Model pembelajaran melalui simulasi memberi dimensi berbeda dibandingkan sekadar membaca informasi tentang bencana. Pengunjung dapat memperoleh gambaran mengenai fenomena alam dalam lingkungan yang dirancang untuk pembelajaran.
Bagi pelajar, pendekatan ini dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan lebih jauh mengenai ilmu kebumian, cuaca ekstrem, mitigasi, hingga pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Robotik dan AI: Mengenalkan Teknologi Masa Depan
Perjalanan kemudian bergerak menuju perkembangan teknologi melalui Zona Robotik dan Artificial Intelligence. Beberapa instalasi yang diperkenalkan antara lain Brain Race Car, Jumping Grid, robot anjing GO2, Robot Dance, hingga robot humanoid G1.
Kehadiran teknologi tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran di Mega Science Center tidak berhenti pada ilmu pengetahuan dasar. Pengunjung juga diperkenalkan dengan perkembangan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan modern.
Khofifah menilai integrasi teknologi digital dan AI perlu berjalan berdampingan dengan penguatan budaya. Dalam pandangan yang disampaikannya saat pembukaan, teknologi menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran, sementara budaya tetap memiliki peran dalam pembentukan karakter dan identitas.
Di titik inilah konsep Mega Science Center dan Budaya menjadi lebih luas daripada sekadar pusat peraga teknologi.
Ketika Sains Bertemu Artefak Budaya Nusantara
Di antara berbagai teknologi modern tersebut terdapat ruang untuk melihat kembali perjalanan budaya Indonesia.
Mega Science Center dan Budaya menghadirkan 1.023 artefak budaya yang menjadi bagian penting dari keseluruhan pengalaman. Pengunjung dapat menelusuri sejumlah area yang membawa tema sejarah dan budaya Indonesia, termasuk Majapahit, Candi Wilwatikta, dan Wayang Potehi.
Zona Islam juga menjadi bagian dari perjalanan tersebut dengan menghadirkan informasi mengenai perkembangan Islam dalam sejarah dan kebudayaan Indonesia.Kehadiran artefak budaya dalam ruang yang sama dengan teknologi robotik, AI, dan sains menghadirkan sebuah narasi yang menarik: kemajuan tidak harus berarti meninggalkan masa lalu.
Justru, pengetahuan mengenai sejarah dan kebudayaan dapat menjadi konteks untuk memahami bagaimana masyarakat Indonesia membentuk identitasnya dari masa ke masa.
Wayang, Terakota, dan Seni Pertunjukan
Pengalaman budaya di Mega Science Center dan Budaya tidak berhenti pada artefak.
Pengelola juga menyiapkan aktivitas seni dan kreativitas seperti Workshop Wayang Suket, Workshop Wayang Kardus, Show Potehi, Workshop Terakota, Show Srimulat, serta Keris Dance.
Rangkaian pertunjukan tersebut dijadwalkan pada pukul 11.00 dan 15.00 berdasarkan informasi pengelola saat trial opening
Pilihan program tersebut memperlihatkan bahwa budaya diposisikan sebagai sesuatu yang dapat dialami, bukan semata-mata dipajang.
Wayang, misalnya, dapat dikenalkan melalui proses membuat dan memainkan bentuk sederhananya. Pertunjukan Potehi membawa tradisi teater boneka ke ruang publik. Sementara terakota menghubungkan pengunjung dengan aktivitas seni berbasis material tanah liat.
Pendekatan partisipatif semacam ini membuat pembelajaran budaya memiliki dimensi praktik.
STEM dan Karakter Berjalan Bersama
Bagi Khofifah, keberadaan Mega Science Center dan Budaya memiliki hubungan dengan kebutuhan membangun ekosistem pembelajaran STEM di Jawa Timur.
Dalam keterangannya, ia menyebut ruang seperti ini dapat menjadi referensi bagi pembelajaran sains yang menyenangkan, bahkan sejak usia dini. Ia juga menekankan bahwa penguatan teknologi perlu berjalan bersama dengan nilai budaya dan karakter.
Gagasan tersebut memperluas makna wisata edukasi.
Anak tidak hanya diajak mengetahui bagaimana listrik bekerja, bagaimana tornado terbentuk, atau bagaimana robot bergerak. Pada saat yang sama, mereka dapat berhadapan dengan artefak, sejarah, kesenian, dan berbagai bentuk ekspresi budaya Indonesia.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berbicara tentang apa yang ditemukan manusia, tetapi juga siapa kita sebagai masyarakat dan bangsa.
Menjadi Laboratorium Besar bagi Pelajar
Wali Kota Batu Nurochman melihat Mega Science Center dan Budaya sebagai semacam big laboratory bagi pelajar.
Gagasan tersebut berangkat dari fungsi destinasi sebagai ruang yang memungkinkan siswa mempraktikkan berbagai pengetahuan yang diperoleh di sekolah. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menempatkan fasilitas ini sebagai salah satu ruang pembelajaran yang dapat mendukung pengenalan STEM secara interaktif.
Posisi Kota Batu sebagai kota wisata membuat konsep tersebut memiliki konteks yang menarik. Wisata tidak hanya dipahami sebagai aktivitas perjalanan dan hiburan, tetapi dapat menjadi medium untuk mempertemukan masyarakat dengan pengetahuan.
Dalam kerangka tersebut, kunjungan sekolah dapat dirancang bukan sekadar untuk melihat wahana, tetapi untuk menghubungkan pengalaman di lokasi dengan materi pelajaran.
Misalnya, simulasi kebencanaan dapat menjadi pengantar pembahasan mitigasi. Zona fisika dapat dikaitkan dengan eksperimen sederhana. Zona antariksa dapat menjadi pintu masuk pembelajaran astronomi. Sementara zona budaya dapat digunakan untuk membuka diskusi mengenai sejarah, seni, dan identitas Indonesia.
Mempertemukan Masa Depan dan Masa Lalu
Direktur Jatim Park Group Rio Imam Sendjojo menjelaskan bahwa Mega Science Center dan Budaya dikembangkan sebagai bagian dari pendekatan wisata edukasi berbasis pengalaman.
Menurutnya, perpaduan sains, teknologi, sejarah, dan budaya dimaksudkan agar pengunjung tidak hanya membawa pulang kesan wisata, tetapi juga pengetahuan dari pengalaman yang mereka jalani. Di sinilah makna simbolis destinasi ini menjadi cukup kuat.
Teknologi seperti AI, robot humanoid, dan simulasi digital merepresentasikan dunia yang terus bergerak ke depan. Di sisi lain, artefak Majapahit, Wayang Potehi, terakota, dan seni pertunjukan menghubungkan pengunjung dengan lapisan sejarah yang telah membentuk kebudayaan Indonesia.
Keduanya ditempatkan dalam satu ruang.
Pesannya bukan bahwa masa lalu harus dipertentangkan dengan teknologi, melainkan bahwa inovasi dapat berkembang tanpa kehilangan konteks budaya.
Langkah Awal Sebuah Ruang Belajar Baru
Trial opening pada 16 September 2026 menjadi tahap awal pengenalan Mega Science Center dan Budaya kepada masyarakat. Jatim Park Group menyebut fase ini juga menjadi bagian dari proses pengembangan sebelum destinasi beroperasi secara penuh.
Dengan 617 alat peraga sains dan 1.023 artefak budaya, ruang tersebut menawarkan cakupan yang cukup luas: dari prinsip fisika dan eksplorasi antariksa hingga simulasi bencana, robotik, AI, sejarah, seni, dan budaya Nusantara.
Namun, nilai terpentingnya tidak semata-mata terletak pada jumlah koleksi. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh elemen tersebut digunakan untuk membangun rasa ingin tahu.
Sains mengajarkan cara memahami dunia. Teknologi menunjukkan bagaimana manusia mengubah pengetahuan menjadi alat. Sejarah membantu membaca perjalanan sebuah masyarakat. Sementara budaya memberi konteks mengenai nilai, identitas, dan cara manusia memaknai kehidupan.
Ketika semuanya dipertemukan dalam satu ruang pembelajaran, wisata dapat bergerak melampaui fungsi rekreasi.
Mega Science Center dan Budaya di Kota Batu pada akhirnya menawarkan sebuah gagasan sederhana: masa depan dapat dipelajari melalui teknologi, tetapi masa depan juga perlu memahami dari mana sebuah bangsa berasal.






