Cerita Rakyat

Sejarah Kabupaten Situbondo dan Legenda Pangeran Aryo

Konon, nama Kabupaten Situbondo di Jawa Timur berasal dari legenda Pangeran Situbondo atau Pangeran Aryo Gajah Situbondo. Menurut cerita rakyat, Pangeran Situbondo tidak pernah menampakkan diri setelah mengalami kekalahan dalam pertarungan melawan Joko Jumput. Dilansir dari laman situbondokab.go.id, keberadaan Pangeran Situbondo hanya diketahui lewat penemuan sebuah ‘odheng’ (ikat kepala) di wilayah Kelurahan Patokan yang kini […]

Oleh Achmad Aristyan

Sejarah Kabupaten Situbondo dan Legenda Pangeran Aryo
Alun-alun Situbondo. Foto: Instagram/@idrischang_faith
Diterbitkan

Konon, nama Kabupaten Situbondo di Jawa Timur berasal dari legenda Pangeran Situbondo atau Pangeran Aryo Gajah Situbondo. Menurut cerita rakyat, Pangeran Situbondo tidak pernah menampakkan diri setelah mengalami kekalahan dalam pertarungan melawan Joko Jumput. 

Dilansir dari laman situbondokab.go.id, keberadaan Pangeran Situbondo hanya diketahui lewat penemuan sebuah ‘odheng’ (ikat kepala) di wilayah Kelurahan Patokan yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Situbondo.  Nama Situbondo sendiri dipercaya berasal dari kata “SITI” yang berarti tanah, dan “BONDO” yang berarti ikat, yang menggambarkan tradisi orang-orang pendatang yang diikat untuk menetap.

Legenda Pangeran Situbondo

Pangeran Situbondo berasal dari Madura dan pernah melamar Putri Adipati Suroboyo. Namun, lamaran itu ditolak dengan syarat untuk membabat hutan di sebelah Timur Surabaya, sebuah permintaan yang ternyata hanya alasan untuk mengulur waktu. 

Adipati Suroboyo kemudian merencanakan untuk menyingkirkan Pangeran Situbondo dengan bantuan keponakannya, Joko Taruno, yang menantang Pangeran Situbondo dalam sebuah pertarungan. Namun Joko Taruno kalah, ia pun mengadakan sayembara bagi siapa saja yang bisa mengalahkan Pangeran Situbondo. 

Joko Jumput, putra Mbok Rondo Prabankenco, akhirnya berhasil mengalahkan Pangeran Situbondo. Sang Pangeran pun terjatuh jauh hingga ke daerah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Situbondo, tempat ditemukan ‘odheng’ miliknya.

Joko Taruno yang kembali ke Surabaya  mengaku ke Adipati Suroboyo telah mengalahkan Pangeran Situbondo. Namun Adipati Suroboyo tidak begitu saja mempercayainya, maka untuk membuktikannya disuruhlah Joko Taruno dan Joko Jumput bertarung untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang sesungguhnya. Akhirnya pada saat pertarungan terjadi Joko Taruno tertimpa kutukan menjadi patung “Joko Dolog” akibat kebohongannya.

Sejarah Kota Situbondo

Sejarah Kabupaten Situbondo berawal dari Karesidenan Besuki yang pertama kali dikuasai Belanda pada abad ke-18. Pada masa itu, pemerintahan Belanda di Pulau Jawa diteruskan Raden Noto Kusumo, yang menjadi residen pertama Karesidenan Besuki pada tahun 1820. 

Selama masa pemerintahannya, sejumlah proyek besar seperti pembangunan pabrik gula di Situbondo dan pembukaan pelabuhan di daerah ini turut mendukung perkembangan wilayah. Pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke Situbondo setelah perkembangan wilayah ini lebih pesat dibandingkan daerah lain di Karesidenan Besuki.

Perubahan Nama Kabupaten 

Pada awalnya, Kabupaten Situbondo dikenal sebagai Kabupaten Panarukan, dengan ibu kota berada di Situbondo. Nama Panarukan sendiri terkenal karena terletak di sepanjang jalan yang dibangun Gubernur Jendral Daendels pada awal abad ke-19, yang dikenal sebagai “Jalan Anyer – Panarukan”. 

Pada masa pemerintahan Bupati Achmad Tahir, pada tahun 1972, nama Kabupaten Panarukan berubah menjadi Kabupaten Situbondo berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 28/1972. Pemindahan dan perubahan nama ini mempertegas identitas Kabupaten Situbondo yang terus berkembang hingga sekarang.

Perlu diketahui, Kediaman Bupati Situbondo pada masa lalu belumlah berada di lingkungan Pendopo Kabupaten namun masih menempati rumah pribadinya. Baru pada masa Pemerintahan Bupati Raden Aryo Poestoko Pranowo (± th 1900 – 1924), Pendopo Kabupaten dieorbaiki sekaligus membangun Kediaman Bupati dan Paviliun Ajudan Bupati hingga sekarang ini. Pada masa Pemerintahan Bupati Drs. H. Moh. Diaman, Pemerintah Kabupaten Situbondo memperbaiki kembali Pendopo Kabupaten (± th 2002). (Diolah dari berbagai sumber)

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat22 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan