Pariwisata

Sejarah yang Tertanam di Glodok

Di balik kesibukan Pecinan Jakarta, Glodok menyimpan jejak saluran air kuno dan kehidupan perdagangan yang merekam perjalanan panjang Batavia hingga Jakarta masa kini.

Oleh Ridwan

Sejarah yang Tertanam di Glodok
Gerbang Pecinan Glodok menandai kawasan bersejarah Jakarta yang hingga kini hidup dengan aktivitas perdagangan dan budaya. Foto: Andri Wijayanto/Pexels.
Diterbitkan

Siapa sangka, di antara pertokoan, lalu lintas yang padat, dan kesibukan orang berbelanja di Glodok, Jakarta Barat, tersimpan jejak teknologi yang pernah menopang kehidupan Batavia lebih dari dua abad silam?

Glodok dikenal sebagai kawasan perdagangan dan kuliner yang lekat dengan sejarah Pecinan Jakarta. Namun, kawasan ini juga menyimpan cerita lain. Di bawah Jalan Pintu Besar Selatan, pembangunan transportasi modern pernah menyingkap struktur saluran air kuno yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air di Batavia pada abad ke-18.

Temuan itu mengajak kita memandang Glodok dengan cara berbeda. Kawasan ini bukan hanya tempat berburu kuliner atau berbelanja, melainkan juga ruang yang menyimpan lapisan sejarah perkembangan Jakarta.

Menelusuri Jejak Air dari Zaman Batavia

Dari kawasan Kota Tua Jakarta, Glodok berjarak sekitar satu kilometer ke arah selatan. Keduanya merupakan bagian dari lanskap sejarah yang berkaitan dengan perkembangan Batavia, kota yang didirikan VOC pada 1619 di kawasan bekas pelabuhan Jayakarta.

Batavia kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan VOC di Asia. Kanal, benteng, pelabuhan, dan jaringan infrastruktur menjadi bagian penting dari kehidupan kota. Namun, kemajuan tersebut tidak lepas dari persoalan lingkungan.

Batavia berdiri di dataran rendah berawa dengan iklim tropis yang lembap. Kanal mengalami pendangkalan dan pencemaran, sementara kondisi air tanah tidak selalu memungkinkan penduduk memperoleh air bersih yang layak dikonsumsi. Persoalan sanitasi pun menjadi tantangan bagi kehidupan perkotaan.

Salah satu upaya yang dikembangkan pemerintah kolonial adalah sistem distribusi air yang dikenal sebagai waterleiding, istilah Belanda untuk jaringan atau saluran air. Perencanaannya telah dimulai pada abad ke-18 untuk mengalirkan air dari sumbernya menuju tempat penampungan dan sejumlah lokasi penting di kota.

Pada 2021, pembangunan infrastruktur Mass Rapid Transit (MRT) di Jalan Pintu Besar Selatan mengungkap struktur saluran air kuno di kawasan Glodok. Ekskavasi lanjutan pada Maret 2022 membuka bagian struktur yang memberikan gambaran lebih jelas mengenai teknologi pengelolaan air pada masa Batavia.

Balai Kota Batavia sekitar 1770–1772 dengan air mancur yang menjadi sumber air bagi warga. Air diangkut menggunakan wadah yang dipikul, menggambarkan kehidupan sehari-hari di Batavia pada abad ke-18. Foto: Wikimedia Commons.

Arkeolog menemukan bak penampungan berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 140 × 100 sentimeter dan kedalaman sekitar satu meter. Bagian dasarnya menggunakan terakota, sedangkan jaringan salurannya tersusun dari pipa-pipa terakota yang dilindungi lapisan bata.

Fondasinya diperkuat dengan cerucuk kayu, tanah padat, dan susunan bata untuk menjaga kestabilan struktur di atas tanah yang lunak dan jenuh air. Konstruksi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan jaringan air memperhitungkan kebutuhan distribusi sekaligus kondisi lingkungan tempatnya berdiri.

Bayangkan, ketika kawasan di sekitarnya kini disibukkan kendaraan dan aktivitas perdagangan, struktur itu pernah menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan dasar penduduk Batavia. Sejarah kota ternyata tidak hanya tersimpan dalam bangunan tua, museum, atau arsip. Sebagiannya berada di bawah jalan yang setiap hari dilewati orang.

Glodok Hari Ini dan Kenangan Masa Keemasannya

Glodok juga menyimpan memori tentang perubahan wajah perdagangan Jakarta. Bagi mereka yang mengenalnya sejak era 1990-an, kawasan ini lekat dengan kesibukan mencari komputer, barang elektronik, kaset pita, VCD, dan CD. Toko-toko menjadi tujuan orang yang ingin membeli perangkat elektronik, berburu koleksi musik, atau mencari film dalam format fisik.

Perubahan teknologi dan pola belanja kemudian menggeser cara orang bertransaksi. Namun, Glodok tetap memiliki daya tarik melalui pertokoan, kuliner, dan kehidupan masyarakat yang membuat kawasan ini terus bergerak.

Pengunjung bisa memulai perjalanan dari Petak Sembilan untuk merasakan suasana perdagangan di Pecinan. Dari sana, perjalanan dapat dilanjutkan untuk menikmati kuliner di Gang Gloria atau mengenali warisan budaya di Vihara Dharma Bhakti. Glodok Plaza juga dapat menjadi persinggahan untuk melihat sisi perdagangan modern kawasan ini.

Setiap tempat menghadirkan pengalaman berbeda. Petak Sembilan memperlihatkan denyut kehidupan pasar, Gang Gloria menawarkan pengalaman kuliner, sementara vihara menghadirkan sisi sejarah dan kehidupan spiritual masyarakat. Bersama-sama, tempat-tempat tersebut menunjukkan bahwa Glodok bukan kawasan yang berhenti pada satu periode sejarah.

Suasana pengunjung menikmati kuliner di Glodok, Jakarta Barat. Kawasan bersejarah ini tetap hidup melalui tradisi kuliner yang mempertemukan pengaruh Tionghoa dan cita rasa lokal. Foto: Ist

Perjalanan menuju Glodok dapat menggunakan transportasi umum, termasuk Transjakarta, dengan menyesuaikan rute dan titik keberangkatan. Kawasan ini juga dapat dimasukkan ke dalam perjalanan wisata yang dimulai dari Kota Tua Jakarta. Sebelum berangkat, periksa informasi rute terbaru dan pastikan lokasi yang ingin dikunjungi terbuka untuk umum.

Temuan waterleiding menambah sudut pandang lain dalam perjalanan tersebut. Struktur yang ditemukan melalui ekskavasi itu tidak serta-merta berarti pengunjung dapat melihatnya secara langsung. Informasi mengenai lokasi penyimpanan dan akses kunjungan perlu dipastikan terlebih dahulu.

Meski demikian, kisah saluran air kuno itu tetap memperkaya pengalaman menjelajahi Glodok. Di tengah pertokoan dan kehidupan kawasan yang terus berubah, jejak tersebut mengingatkan bahwa Jakarta hari ini tumbuh di atas sejarah panjang yang tidak seluruhnya terlihat di permukaan.

Mengunjungi Glodok bukan hanya soal menikmati kuliner atau mengingat pusat perdagangan yang pernah berjaya. Perjalanan ini juga memberi kesempatan untuk memahami bagaimana sebuah kawasan menghadapi perubahan zaman, sementara sebagian masa lalunya tetap tertanam di bawah jalan yang kita lewati.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait