Budaya

Serabi Solo, Penganan Warisan Kerajaan Mataram

Serabi Solo, kuliner yang terbuat dari bahan tepung beras, pandan, vanilla, gula, santan kelapa, dan garam. Biasanya dimasak menggunakan wajan kecil terbuat dari tanah liat dan dipanggang di atas arang. Camilan manis ini sangat populer dan banyak digemari oleh wisatawan. Pada umumnya, setiap daerah memiliki kekhasannya sendiri. Terdapat serabi kering ada juga serabi basah dengan […]

Oleh Anisa Kurniawati

Serabi Solo, Penganan Warisan Kerajaan Mataram
Foto: Wikimedia Commons/ Hersy Ardianty
Diterbitkan

Serabi Solo, kuliner yang terbuat dari bahan tepung beras, pandan, vanilla, gula, santan kelapa, dan garam. Biasanya dimasak menggunakan wajan kecil terbuat dari tanah liat dan dipanggang di atas arang. Camilan manis ini sangat populer dan banyak digemari oleh wisatawan. 

Pada umumnya, setiap daerah memiliki kekhasannya sendiri. Terdapat serabi kering ada juga serabi basah dengan memakai kuah. Seiring dengan perkembangan zaman, ada pula yang menambahkan topping dengan beragam rasa dan aroma.

Di Kota Solo sendiri, tak lengkap rasanya jika tidak mencoba serabi Notosuman atau orang menyebutnya sebagai serabi solo. Nama Notosuman sendiri diambil dari nama Jalan Notosuman yang sekarang menjadi Jalan Mohammad Yamin.

Serabi solo memiliki tekstur kenyal namun lembut, berbentuk bulat seperti piring kecil dengan sedikit kerak pada bagian pinggirnya, rasanya legit, gurih, dan manis. Camilan ini dibuat dari tepung beras yang dicampur dengan santan kepala, garam dan gula. Kemudian dihidangkan tanpa kuah manis. 

Dikenal sejak Kerajaan Mataram

Serabi sendiri diperkirakan sudah dikenal sejak Kerajaan Mataram. Camilan ini beberapa kali disebut dalam Serat Centhini, yang ditulis para pujangga keraton Surakarta selama 1814-1823 atas perintah Pakubuwana V. 

Dalam tembang (pupuh) ke-157 bait 18 (1), diceritakan bahwa serabi merupakan salah satu jenis jajanan yang disajikan di halaman rumah pada saat pertunjukan wayang kulit di malam hari. Hal serupa juga disebutkan dalam pupuh 157:7-8 (2). 

Pada perkembangannya, serabi mendapat pengaruh dari budaya kuliner India dan Belanda. Jajanan ini merupakan modifikasi dari kue Apem yang kemudian menjadi serabi karena menggunakan santan lebih banyak sehingga menjadi lembut. 

Serabi Notosuman

Di Kota Solo sendiri, identik dengan serabi Notosuman. Jajanan ini juga bermula dari  kue apem pula yang kali pertama digeluti Hoo Gek Hok dan Tan Giok Lan. Pada 1923 dan membuka gerai di Jalan Veteran, pindah di Jalan Yos Sudarso, dan kemudian menetap di Jalan Mohammad Yamin, Solo.

Menjadi serabi dikarenakan ada pelanggan yang minta dibuatkan apem berbentuk pipih yang kemudian dikenal sebagai serabi. Seiring waktu berlalu, jajanan ini menjadi lebih diminati dibandingkan dengan kue apem. Salah satu ciri khasnya adalah mereka menumbuk sendiri beras yang menjadi bahan bakunya. 

Dengan bahan-bahan berkualitas terbaik, tanpa bahan pengawet, hingga kini, serabi notosuman tetap mempertahankan kualitas rasanya. Karena tanpa pengawet, maka serabi ini hanya dapat bertahan satu hari saja. 

Usaha keluarga ini kemudian diwariskan turun-temurun. Kini, bisnis serabi notosuman diteruskan kakak-beradik Handayani dan Lidia yang masing-masing mendirikan outlet sendiri. Kedua outlet itu memiliki perbedaan dalam memasak. Outlet milik Handayani memakai tutup wajan dari tanah liat, sementara di outlet milik Lidia memilih memakai tutup dari alumunium. 

Untuk tetap menjaga identitas dan karakter yang sudah dirintis Hoo Gek Hok dan Tan Giok Lan, serabi notosuman tetap konsisten membuat dan menjual kue serabi dalam dua rasa: serabi polos dan serabi bertabur coklat. (Anisa Kurniawati- Sumber: indonesiakaya.com)

TopikBudaya
Budaya26 OKT 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati