Cerita Rakyat

Sre Saring dan Kisah Anaka yang Ditelan Tempayan Ajaib

Papua memiliki banyak sekali cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun. Salah satunya adalah cerita rakyat Sre Saring. Cerita ini mengisahkan tentang anak yang ditelan tempayan ajaib. Dirangkum dari 10 Cerita Rakyat Papua Terpilih, dan diceritakan kembali oleh Minarsih. Dikisahkan pada zaman dahulu, di Kampung Maribu, Distrik Sentani Barat, terdapat dusun bernama Tarmang. Di sana, […]

Oleh Anisa Kurniawati

Sre Saring dan Kisah Anaka yang Ditelan Tempayan Ajaib
Ilustrasi tempayan, cerita rakyat Papua, Sre Saring. Foto: Pixabay
Diterbitkan

Papua memiliki banyak sekali cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun. Salah satunya adalah cerita rakyat Sre Saring. Cerita ini mengisahkan tentang anak yang ditelan tempayan ajaib. 

Dirangkum dari 10 Cerita Rakyat Papua Terpilih, dan diceritakan kembali oleh Minarsih. Dikisahkan pada zaman dahulu, di Kampung Maribu, Distrik Sentani Barat, terdapat dusun bernama Tarmang. 

Di sana, beberapa keluarga dari suku Samtai, Utbete, dan Yansema atau Nya Banu hidup berdampingan dengan damai. Mereka menjalani kehidupan bercocok tanam dan meramu sagu. 

Akibat Makan Pisang di Tempayan

Suatu pagi yang cerah, penduduk kampung bersiap untuk memulai aktivitas harian mereka. Salah satu keluarga dari suku Samtai pergi berkebun ke tempat yang cukup jauh. Mereka memiliki seorang anak laki-laki bernama Saring.

Dia dikenal seorang yang tampan, pemberani, dan menggemaskan. Sebelum berangkat, ibu Saring berpesan kepada neneknya, makanan telah disiapkan jika cucunya lapar sepulang bermain.

Setelah kedua orang tuanya pergi, Saring meminta izin kepada sang nenek untuk bermain bersama teman-temannya. Setelah puas bermain, ia merasa lapar dan segera pulang untuk menikmati makanan yang telah disiapkan. 

Kemudian dia beristirahat di bawah pohon, namun muncul keinginan memakan pisang matang.

Ia masuk ke dalam rumah dan mulai mencari pisang tersebut. Setelah mencari di berbagai sudut dapur, ia teringat tempat neneknya biasa menyimpan pisang mentah, di dalam tempayan besar. 

Dengan penuh harap, Saring mendekati salah satu tempayan yang paling besar dan bermotif indah.

Ketika membuka penutupnya, ia sangat gembira karena menemukan pisang matang yang diinginkannya. Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk masuk ke dalam tempayan agar bisa menikmati pisang tersebut secara diam-diam.

Terjebak dalam Tempayan Ajaib

Namun, seiring beberapa waktu, Saring merasa ada sesuatu yang aneh di dalam tempayan. Panik dan ketakutan melanda dirinya, ia berteriak meminta pertolongan. Neneknya yang sedang beristirahat terkejut dan segera mencari sumber suara. 

Ia pun menyadari bahwa cucunya berada di dalam tempayan besar. Namun, hal yang mengerikan terjadi, tempayan itu mulai bergerak sendiri dan semakin menyempit hingga akhirnya menutup rapat. Saring terjebak di dalamnya.

Dengan perasaan putus asa, sang nenek meniup kulit biya untuk memanggil orang tua Saring serta para warga. Kedua orang tuanya yang sedang berkebun tiba-tiba merasakan kegelisahan yang tak biasa. Mereka pun bergegas pulang. 

Sesampainya di rumah, mereka melihat bahwa tempayan telah menelan putra mereka. Warga yang datang membawa berbagai alat seperti kapak batu, parang, dan kayu untuk menghancurkan tempayan itu, namun semua usaha sia-sia. 

Bahkan, saat dibakar, tempayan tetap utuh. Benda misterius itu terus bergerak hingga mencapai tepian Sungai Tarmang dan akhirnya menceburkan diri ke dalam air.

Dalam tidurnya, ibu Saring bermimpi bertemu putranya. 

Dalam mimpi itu, Saring berkata, “Jangan cari aku lagi. Aku telah berubah menjadi seekor ular, kedua tanganku hilang, dan kakiku kini menjadi ekor. Sebutlah aku Sre Saring, penjaga tempat ini.”

Sejak kejadian itu, masyarakat percaya bahwa jika di Sungai Tarmang ditemukan darah atau benda merah terapung, maka akan terjadi musibah bagi suku Nya Banu.

Legenda ini terus hidup dalam ingatan masyarakat sebagai pengingat akan peristiwa tragis yang menimpa Saring.

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat04 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati