Budaya

Tari Bondan Gambaran Kehidupan Seorang Ibu

Tari Bondan adalah tarian tradisional dari daerah Surakarta yang menggambarkan suatu kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Salah satu ciri khasnya yaitu dari properti yang menggunakan payung kertas, kendil, dan boneka bayi yang digendong menggunakan kain. Kesenian tari tradisional di setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing, termasuk di Jawa Tengah. Setiap tarian tidak hanya menggambarkan […]

Oleh Ridwan

Tari Bondan Gambaran Kehidupan Seorang Ibu
Foto: pinterest/RomaDecade
Diterbitkan

Tari Bondan adalah tarian tradisional dari daerah Surakarta yang menggambarkan suatu kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Salah satu ciri khasnya yaitu dari properti yang menggunakan payung kertas, kendil, dan boneka bayi yang digendong menggunakan kain. 

Kesenian tari tradisional di setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing, termasuk di Jawa Tengah. Setiap tarian tidak hanya menggambarkan keindahannya saja, namun juga mengandung pesan, nilai kehidupan, dan juga sebagai hiburan. 

Asal-Usul Tari Bondan

Tari Bondan diciptakan oleh Supadi Ngaliman Condropangrawit, atau disingkat S. Ngaliman. Saat menciptakan tarian ini, dia mengamati keadaan sosial yang terjadi pada masyarakat sekitar. Ragam tarian ini sendiri ada tiga macam. 

Pertama, tarian Bondan Cindogo yang ditampilkan dengan suasana yang sedih. Hal ini karena menceritakan kasih sayang ibu kepada anaknya yang kemudian meninggal dunia. Kedua, tarian Bondan Mardisiwi yang menggambarkan kebahagiaan seorang ibu saat pertama kali dianugerahkan seorang anak. 

Terakhir, tarian Bondan Pegunungan atau Tani menjelaskan kehidupan seorang ibu yang tidak hanya mengurus anak, tapi juga membantu suaminya bekerja di sawah.

Kisah Dibalik Tarian Bondan

Tari Bondan melambangkan kasih sayang ibu terhadap anaknya. Gerakan tarian ini mempresentasikan keseharian seorang ibu, seperti gerakan menyuapi, membelai sang anak, menidurkan anak, menggendong, dan lainnya.

Properti yang digunakan dalam kesenian ini berupa payung, boneka, dan kendi. Setiap properti tersebut memiliki makna tersendiri. Payung kertas sebagai perlindungan. Boneka melambangkan kasih sayang kepada anak-anak dan sesama. Sedangkan kendi mempresentasikan air suci untuk memberikan kesegaran jasmani dan rohani.

Menurut beberapa sumber, tarian ini diperankan oleh para kembang desa untuk mengetahui jati dirinya sendiri. Sehingga sebagai wanita, mereka tidak hanya berparas cantik tapi juga harus memberikan kasih sayang dan melindungi anaknya

Secara keseluruhan, kesenian ini bertujuan untuk melatih kesabaran dalam menghadapi segala bentuk kehidupan. Pada akhir pertunjukan, properti kendi akan dipecah. Gerakan ini melambangkan bahwa semua masalah yang dialami dapat diselesaikan.

Dulunya, kebanyakan tari berfungsi untuk upacara adat, merayakan hari penting dan juga sebagai hiburan. Tari Bondan sendiri sudah jarang dipertunjukkan, namun masih bisa dilihat saat ada pagelaran budaya atau perayaan-perayaan besar tertentu. (Anisa Kurniawati-berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya09 OKT 2024

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →