Tradisi

Tradisi Berbalas Pantun Batombe, Warisan Budaya Minangkabau

Salah satu kesenian tradisi yang masih populer di kalangan masyarakat Minangkabau yakni Batombe. Kesenian ini berupa seni berbalas pantun diiringi alat musik rabab. Isi pantunnya menggambarkan perasaan dan cerita kehidupan. Kata “batombe” berasal dari kata “ba” (awalan) dan “tombe” (pantun). Kesenian ini berasal dari Nagari Abai, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Tombe memiliki tiga makna: […]

Oleh Achmad Aristyan

Tradisi Berbalas Pantun Batombe, Warisan Budaya Minangkabau
Pelaksanaan tradisi Batombe Foto: blogkulo.com via 1001indonesia.net
Diterbitkan

Salah satu kesenian tradisi yang masih populer di kalangan masyarakat Minangkabau yakni Batombe. Kesenian ini berupa seni berbalas pantun diiringi alat musik rabab. Isi pantunnya menggambarkan perasaan dan cerita kehidupan.   

Kata “batombe” berasal dari kata “ba” (awalan) dan “tombe” (pantun). Kesenian ini berasal dari Nagari Abai, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Tombe memiliki tiga makna: tiang atau tegak, musyawarah atau mufakat, dan bersatu. 

Sejarah Batombe

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, tidak diketahui pasti batombe mulai eksis. Konon, tradisi ini muncul saat gotong royong membangun rumah gadang atau masjid. Suatu ketika, terdapat kayu besar yang tidak bisa dipindahkan. 

Para perempuan yang bertugas menyiapkan bekal, kemudian berpantun untuk menyemangati pria yang bekerja. Secara ajaib kayu itu akhirnya bisa dipindahkan. Sejak saat itu, berbalas pantun menjadi tradisi dalam berbagai kegiatan.

Batombe sering diadakan dalam acara perhelatan yang diorganisasi pemilik acara, atau sipangkalan. Sipangkalan bertanggung jawab atas persiapan acara, termasuk tempat, undangan, dan peralatan. 

Kesenian ini biasanya tidak menggunakan teks pantun, melainkan mengalir secara spontan, dengan iringan musik monoton. Pendendang bisa siapa saja yang memiliki banyak pantun, tanpa batasan usia atau pendidikan khusus.

Pentas Tradisi Batombe

Kesenian dinggap simbol kebersamaan dan gotong royong dalam masyarakat Minang. Batombe dimainkan dua pria dan wanita, atau berkelompok. Para pemainnya disebut pendendang, dengan pendendang utama berperan sebagai pengiring. 

Iringan batombe menggunakan rabab. Para pemain batombe mengenakan pakaian khusus, baju guntiang cino dan celana galembong tapak itiak. Warnanya beragam, ada merah, hijau, dan hitam. 

Pakaian dilengkapi ikat kepala kuning keemasan, dan kain yang diikatkan di pinggang (sisampiang). Pada leher dan lengan baju terdapat hiasan sulaman benang emas (benang makao).

Pantun dalam batombe biasanya memuat cerita kehidupan sehari-hari. Isinya menggambarkan perasaan dan cerita kehidupan seperti cinta, kesedihan, semangat, dan lainnya, penuh dengan kata kiasan dan ungkapan hati.

Isi Pantun Mengikuti Zaman

Kini, batombe telah berkembang dalam berbagai acara seperti pernikahan, pembangunan rumah, dan penyambutan tamu. Ada pula modifikasi dalam aksesori dan musik pengiring sesuai dengan perkembangan zaman dan selera masyarakat.

Selain itu isi pantun juga lebih beragam. Tujuannya untuk memperluas fungsi hiburan dari seni berbalas pantun ini. Sehingga dapat lebih masuk ke selera masyarakat agar tradisi berbalas pantun ini tetap lestari.

TopikTradisi
Tradisi18 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan