Tradisi

Tradisi Tiba Pinah Lestarikan Laut Masyarakat Suku Bajo

Keunikan budaya masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, tidak hanya terlihat dari cara hidup mereka yang dekat dengan laut. Tetapi juga dalam ritual mereka, yaitu tradisi Tiba Anca. Tradisi ini dilakukan bertujuan untuk pengobatan, pencarian orang hilang, dan kemudahan rezeki. Bagi suku Bajo, laut merupakan sumber kehidupan. Mereka mempercayai bahwa ada […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tradisi Tiba Pinah Lestarikan Laut Masyarakat Suku Bajo
Ilustrasi. Suku Bajo yang sedang berlayar. Foto: mongabay.co.id
Diterbitkan

Keunikan budaya masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, tidak hanya terlihat dari cara hidup mereka yang dekat dengan laut. Tetapi juga dalam ritual mereka, yaitu tradisi Tiba Anca.

Tradisi ini dilakukan bertujuan untuk pengobatan, pencarian orang hilang, dan kemudahan rezeki.

Bagi suku Bajo, laut merupakan sumber kehidupan. Mereka mempercayai bahwa ada penguasa laut yang mengatur kehidupan mereka. Bagi mereka laut adalah sumber makanan, transportasi, pengobatan, tempat tinggal, hingga sumber kebaikan dan keburukan. 

Rangkaian Prosesi Tiba Pinah

Prosesi ini merupakan bagian dari rangkaian acara tradisi Tiba Pinah yang membutuhkan berbagai bahan seperti pinang, telur, sirih, gambir, nasi, dan rokok.

Tradisi ini tidak hanya dilaksanakan di laut, tetapi juga di daratan. Menurut kepercayaan warga setempat, Tradisi ini dilaksanakan karena manusia telah membuat makhluk halus resah.

Manusia telah seenaknya di laut dan manusia juga sudah banyak mendapatkan hasil laut, maka harus ada timbal balik kepada penjaga laut. Jika ritual ini tidak dilakukan konon, warga akan sakit-sakitan, pendapatan menurun, hingga berakibat kematian.  

Selama ritual, ada pantang yang harus ditaati. Misalkan tidak turun melaut selama tiga malam. Alasannya karena dikhawatirkan mengganggu penjaga laut ketika menikmati sesajen. 

Ritual dimulai dengan menata bahan-bahan di atas piring. Kemudian dupa dibakar di arang yang ada dalam wadah tanah liat. Pemimpin ritual kemudian mengambil air dan meletakkannya di atas arang mengenai asap.

Sambil membacakan mantra-mantra, air itu diputar mengelilingi asap sebanyak empat kali melawan arah jarum jam. Proses selanjutnya yaitu bahan-bahan tadi dibawa ke perahu untuk nantinya dibuang di tempat yang sudah diarahkan.

Selama di perjalanan, terdapat pantangan yang harus dihindari yakni dilarang berisik dan berkata kotor. Biasanya dilakukan di laut yang tenang di gugusan karang.

Suku Bajo mempercayai bahwa di gugusan karang merupakan tempat bersemayam arwah para leluhur. Sambil mengucapkan mantra, sesajian di tumpahkan ke permukaan laut secara perlahan, mengakhiri ritual. 

Baca juga: Tradisi Pengusir Pageblug Melalui Kesenian Dongkrek Madiun

Peran Ritual dalam Pelestarian Lingkungan

Tradisi Tiba Pinah juga dipercaya menjaga keseimbangan alam dan berkontribusi pada kelestarian lingkungan. Hutan mangrove di sekitar Torosiaje menjadi salah satu lokasi utama pelaksanaan ritual, di mana beberapa titik dikeramatkan dan dijadikan hutan larangan.

Masyarakat dilarang menebang pohon mangrove di area itu, yang membantu menjaga ekosistem hutan mangrove. Ritual ini bukan sekadar upaya penyembuhan, tetapi juga menjadi sarana perlindungan bagi hutan mangrove. 

Kearifan lokal seperti yang dimiliki Suku Bajo membuktikan bahwa budaya dan tradisi dapat menjadi bagian dari strategi pelestarian lingkungan.

Selain menjaga ritual-ritual yang telah diwariskan turun-temurun, masyarakat juga ikut menjaga keseimbangan ekosistem yang menjadi sumber kehidupan mereka. (Dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi05 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati