Sejarah Daerah

Wonosobo 1825, Lahir dari Gejolak Perang Diponegoro

Kisah Tumenggung Setjonegoro, perjuangan melawan Belanda, dan pemindahan pusat pemerintahan membentuk tanggal 24 Juli sebagai hari jadi Wonosobo.

Oleh Narendra

Wonosobo 1825, Lahir dari Gejolak Perang Diponegoro
Arsip alun-alun Wonosobo pada masa Hindia Belanda merekam wajah kota pada periode yang lebih kemudian daripada pembentukan kabupaten pada 1825.dok COLLECTIE TROPENMUSEUM Weg langs de aloon-aloon te Wonosobo op de achtergrond de Soos Midden-Java TMnr
Diterbitkan

Di dataran tinggi Jawa Tengah, Wonosobo tumbuh dari kawasan permukiman dan kekuasaan lokal yang jejak awalnya tersimpan dalam tradisi lisan. Nama daerah ini tidak lahir dari satu peristiwa sederhana, melainkan dari perjalanan panjang masyarakat, para pemimpin setempat, dan perubahan politik di Jawa. Dalam sejarah resmi kabupaten, satu tanggal kemudian dipilih sebagai penanda penting: 24 Juli 1825.

Tanggal tersebut berkaitan dengan masa Perang Diponegoro, ketika perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda meluas ke berbagai wilayah Jawa. Di kawasan Wonosobo, tokoh bernama Kyai Muhammad Ngarpah muncul dalam kisah perjuangan yang kemudian membawanya dikenal sebagai Tumenggung Setjonegoro. Namun, sejarah daerah ini jauh lebih tua daripada tanggal hari jadinya, dan keduanya perlu dibedakan agar asal-usul Wonosobo tidak berhenti pada satu peringatan administratif.

Jejak Permukiman dan Para Leluhur

Dalam tradisi sejarah yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Wonosobo, tiga tokoh disebut memiliki peran dalam pertumbuhan permukiman awal: Kyai Kolodete, Kyai Karim, dan Kyai Walik. Kisah setempat menempatkan Kolodete di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Karim di sekitar Kalibeber, dan Walik di wilayah yang kini menjadi Kota Wonosobo. Cerita ini menjadi bagian penting dari ingatan kolektif masyarakat, meskipun detail kehidupan mereka perlu dibaca sebagai tradisi lokal, bukan seluruhnya sebagai catatan sezaman.

Dari generasi berikutnya, muncul sejumlah tokoh yang dikaitkan dengan berkembangnya pusat-pusat kekuasaan lokal. Salah satunya ialah Ki Singowedono, yang dalam riwayat setempat disebut memperoleh wilayah di Selomerto dari Keraton Mataram dan kemudian bergelar Tumenggung Jogonegoro. Makam Jogonegoro di Desa Pakuncen menjadi salah satu penanda warisan sejarah yang masih diingat masyarakat.

Asal-usul nama Wonosobo juga mempunyai beberapa penjelasan yang diwariskan turun-temurun. Salah satu versi menghubungkannya dengan dusun Wanasaba di Desa Polobangan, Selomerto, yang dikaitkan dengan Kyai Wanasaba. Penjelasan semacam ini membantu menelusuri bagaimana masyarakat memahami nama dan asal daerahnya, tetapi asal kata dan hubungan antartokoh tetap perlu dikaji melalui sumber sejarah serta kajian bahasa.

Perang Diponegoro dan Setjonegoro

Perang Diponegoro pecah pada 1825 dan berlangsung hingga 1830, melibatkan jaringan pendukung Pangeran Diponegoro di berbagai wilayah Jawa. Wonosobo menjadi salah satu kawasan yang disebut dalam sejarah perjuangan di wilayah Kedu dan sekitarnya. Letak geografis, jalur perhubungan, dan keberadaan pemimpin lokal membuat daerah ini terhubung dengan dinamika perang yang lebih luas.

Dalam narasi resmi kabupaten, Kyai Muhammad Ngarpah berjuang bersama tokoh-tokoh seperti Imam Misbach, yang dikenal sebagai Tumenggung Kertosinuwun, Tumenggung Mangkunegaran, dan Gajah Permodo. Sebuah kemenangan dalam pertempuran melawan pasukan Belanda kemudian dikaitkan dengan pemberian gelar Tumenggung Setjonegoro kepada Muhammad Ngarpah. Rincian pertempuran dan urutan peristiwanya perlu terus dibandingkan dengan sumber sejarah lain agar cerita kepahlawanan tidak hanya bergantung pada satu versi.

Setjonegoro kemudian dikenal sebagai bupati pertama Wonosobo dalam kronologi pemerintahan daerah. Pada awal kekuasaannya, pusat pemerintahan disebut berada di Ledok, Selomerto. Sesudah itu, pusat pemerintahan dipindahkan ke kawasan yang kini menjadi Kota Wonosobo, sebuah perubahan yang menjadi dasar penting dalam penetapan hari jadi kabupaten.

Mengapa 24 Juli 1825?

Tanggal 24 Juli 1825 bukan sekadar tanggal yang terus diwariskan tanpa penelitian. Pemerintah Kabupaten Wonosobo menjelaskan bahwa penetapan hari jadi dilakukan setelah kajian sejarah oleh tim dari Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, dengan melibatkan unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta para sesepuh. Hasil penelitian dan pembahasan tersebut kemudian menjadi dasar untuk menetapkan tanggal 24 Juli 1825 sebagai Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.

Tanggal itu dikaitkan dengan momentum perpindahan pusat pemerintahan pada masa Tumenggung Setjonegoro. Karena itu, hari jadi Wonosobo lebih tepat dipahami sebagai penanda terbentuknya pusat pemerintahan yang dipilih berdasarkan kajian sejarah, bukan klaim bahwa seluruh kehidupan masyarakat di wilayah itu baru dimulai pada 1825. Permukiman, tradisi, dan kepemimpinan lokal telah tumbuh sebelum momentum tersebut.

Penetapan itu kemudian dituangkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 10 Tahun 1994. Dengan dasar tersebut, 24 Juli diperingati setiap tahun sebagai Hari Jadi Kabupaten Wonosobo. Keputusan ini menunjukkan bagaimana penelitian sejarah dapat menjadi landasan bagi sebuah daerah untuk menentukan tanggal resmi yang mewakili perjalanan politik dan administratifnya.

Warisan Sejarah yang Terus Hidup

Kisah berdirinya Wonosobo mempertemukan dua lapisan sejarah. Lapisan pertama adalah ingatan lokal tentang para leluhur, pembukaan permukiman, dan tumbuhnya pusat-pusat kekuasaan di sekitar Dieng, Kalibeber, serta Selomerto. Lapisan kedua adalah perubahan politik pada masa Perang Diponegoro, ketika Setjonegoro tampil dalam narasi daerah dan pusat pemerintahan kemudian berpindah ke wilayah kota sekarang.

Kedua lapisan itu tidak perlu dipertentangkan. Tradisi lisan memberi petunjuk tentang cara masyarakat mengingat masa lalu, sedangkan dokumen administratif dan kajian sejarah membantu menentukan peristiwa yang dijadikan tonggak resmi. Ketika keduanya dibaca dengan cermat, sejarah Wonosobo tampak sebagai proses panjang yang tidak dapat diringkas hanya menjadi satu tanggal atau satu tokoh.

Hari Jadi Kabupaten Wonosobo setiap 24 Juli pada akhirnya menjadi pengingat bahwa daerah dibentuk oleh perjuangan, kepemimpinan, dan pengalaman masyarakat yang berlapis. Tumenggung Setjonegoro menempati tempat penting dalam kisah pembentukan pusat pemerintahan, sementara Kyai Kolodete, Kyai Karim, Kyai Walik, dan tokoh lain hidup dalam tradisi asal-usul setempat. Merawat sejarah Wonosobo berarti menjaga keduanya tetap terbaca, dengan membedakan tradisi yang diwariskan dan peristiwa yang dapat ditelusuri melalui sumber.

CATATAN REDAKSI 

Artikel ini menelusuri sejarah pembentukan Kabupaten Wonosobo dengan fokus pada penetapan hari jadi 24 Juli 1825, peran Tumenggung Setjonegoro, dan tradisi lokal mengenai tokoh-tokoh awal masyarakat Wonosobo.

Sumber resmi Pemerintah Kabupaten Wonosobo menyebut Kyai Kolodete, Kyai Karim, dan Kyai Walik sebagai tokoh dalam tradisi asal-usul permukiman. Kisah tersebut diperlakukan sebagai tradisi sejarah lokal, bukan seluruhnya sebagai fakta yang telah dibuktikan oleh dokumen sezaman.

Untuk penetapan hari jadi, artikel merujuk pada keterangan pemerintah daerah dan dokumen yang menyebut penelitian tim Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada pada 1994. Tanggal 24 Juli 1825 kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Wonosobo melalui Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 1994. Tanggal ini dikaitkan dengan pemindahan pusat pemerintahan oleh Tumenggung Setjonegoro, bukan dengan awal seluruh permukiman di wilayah Wonosobo.

Narasi mengenai perjuangan Kyai Muhammad Ngarpah dalam Perang Diponegoro perlu terus dibandingkan dengan sumber sejarah lain, terutama untuk menguji detail pertempuran, urutan peristiwa, dan hubungan antartokoh. Artikel tidak menambahkan dialog, adegan, atau kutipan yang tidak didukung sumber.

Sebelum publikasi, redaksi disarankan memeriksa laporan penelitian hari jadi yang dipimpin Dr. Djoko Suryo serta naskah Perda Nomor 10 Tahun 1994 secara lengkap. Pembedaan antara tradisi lisan, kronologi pemerintahan, dan dasar hukum penetapan hari jadi perlu dipert ahankan.

Sumber referensi

1. Pemerintah Kabupaten Wonosobo.

   “Sejarah Singkat Kabupaten Wonosobo.”

   Sumber utama untuk tradisi tiga tokoh awal, Tumenggung Setjonegoro, perpindahan pusat pemerintahan, dan tanggal hari jadi.

   https://website.wonosobokab.go.id/page/sejarah-singkat-kabupaten-wonosobo

2. Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

   “Latar Belakang Budaya Wonosobo.”

   Referensi konteks sejarah, kebudayaan, dan wilayah administratif.

   https://disparbud.wonosobokab.go.id/latar-belakang-budaya-wonosobo

3. Peraturan Bupati Wonosobo Nomor 13 Tahun 2012.

   “Pedoman Prosesi Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.”

   Dokumen regulasi yang merujuk Perda Nomor 10 Tahun 1994 dan pedoman peringatan hari jadi.

   https://peraturan.bpk.go.id/Details/206483/perbup-kab-wonosobo-no-13-tahun-2012

4. Puspasari Setyaningrum. (2023).

   “Sejarah Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang Diperingati Setiap 24 Juli.”

   Kompas.com, 20 Juli 2023.

   https://regional.kompas.com/read/2023/07/20/215053478/sejarah-hari-jadi-kabupaten-wonosobo-yang-diperingati-setiap-24-juli?page=all

5. Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Wonosobo. (2022).

   “Puncak Acara Hari Jadi ke-197 Wonosobo Berlangsung Meriah.”

   Memuat ringkasan sejarah yang disampaikan dalam peringatan resmi pemerintah daerah.

   https://diskominfo.wonosobokab.go.id/detail/puncak-acara-hari-jadi-ke-197-wonosobo-berlangsung-meriah

6. Universitas Negeri Yogyakarta.

   Skripsi tentang Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.

   Membahas dasar penetapan tanggal 24 Juli 1825 dan ketentuan Perda Nomor 10 Tahun 1994.

   https://eprints.uny.ac.id/22972/1/SKRIPSI.pdf

7. Wikimedia Commons.

   “COLLECTIE TROPENMUSEUM Weg langs de aloon-aloon te Wonosobo op de achtergrond de Soos Midden-Java TMnr 10007821.jpg.”

   Arsip foto historis dan informasi lisensi.

   https://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Weg_langs_de_aloon-aloon_te_Wonosobo_op_de_achtergrond_de_Soos_Midden-Java_TMnr_10007821.jpg

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →