Salah satu warisan budaya masyarakat Melayu Pontianak yang masih lestari hingga kini adalah Kain tenun corak insang. Ciri khasnya terletak pada motifnya yang menggambarkan kehidupan nelayan Melayu Pontianak.
Penggunaan kain tenun ini tidak hanya dalam berbagai acara adat, namun juga kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dikenakan orang tua, tetapi juga anak-anak dan remaja.
Sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi, kain tenun corak insang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung sejarah dan filosofi yang mendalam.
Sejarah Tenun Corak Insang
Tenun corak insang telah dikenal sejak masa Kesultanan Kadriah, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Syarif Abdurrahman Al Qadrie tahun 1771. Awalnya, kain ini hanya digunakan kaum bangsawan di Istana Kadriah.
Tujuannya sebagai identitas status sosial dalam masyarakat maupun dalam pertemuan antar kerajaan. Kain tenun corak insang mulai dikenal luas pada tahun 1930-an.
Kain ini juga berfungsi sebagai cinderamata yang diberikan kepada raja pada hari keputraan, serta sebagai bagian dari hantaran dalam upacara pernikahan.
Salah satu momen penting dalam sejarah kain ini adalah saat Sultan Sy Muhammad Al Qadrie (Sultan ke-VI). Saat itu dia membawa serta kain tenun corak insang dalam lawatannya ke Belanda.
Istrinya, Syarifah Maryam Assegaf, mengenakan kain tersebut dalam acara kerajaan yang dihadiri raja-raja dari Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Pada tahun 1942, kain ini kembali diperkenalkan Sultan Sy Muhammad Al Qadrie.
Dia melakukan perjalanan ke Kwitang, Batavia, dalam rangka Salat Idul Adha. Seiring waktu, kain corak insang yang awalnya hanya digunakan keluarga kesultanan dan bangsawan, kini telah merambah ke masyarakat luas.
Melalui jalur perdagangan dan hubungan antar daerah, kain ini semakin dikenal dan menjadi bagian dari identitas budaya Melayu Pontianak. Kain ini juga menjadi semakin dikenal dan digunakan masyarakat luas.
Keunikan dan Perbedaan dengan Tenun Lainnya
Kain tenun corak insang memiliki keunikan dibanding kain tenun Melayu lainnya, seperti tenun Cual dari Sambas. Perbedaannya, pada motif khas insang ikan yang menjadi ciri utama kain ini.
Selain itu, kain corak insang umumnya tidak menggunakan benang emas. Beberapa motif yang berkembang dan dikenal luas meliputi corak insang berantai, insang bertangkup, insang delima, insang awan, dan insang berombak.
Motif-motif ini menjadi ekspresi seni masyarakat Pontianak yang menggambarkan kehidupan mereka sebagai nelayan di sepanjang Sungai Kapuas. Motif insang ikan yang diadopsi dalam kain ini melambangkan alat kehidupan (bernafas).
Dahulu, kain corak insang dibuat menggunakan bahan alami yang diperoleh dari tumbuhan.
Pewarnaannya pun menggunakan bahan-bahan alami. Namun, dalam perkembangannya, mulai digantikan pewarna sintetis yang lebih praktis dan tahan lama.
Meski begitu, kain tenun corak insang, tetap menjadi warisan budaya yang membanggakan bagi masyarakat Melayu Pontianak. (Dari berbagai sumber)