Selain dikenal dengan keindahan Gunung Lanang, Desa Mergolangu yang terletak di Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Wonosobo juga dikenal sebagai desa produsen gula aren.
Adalah Siti Nurhayati, salah satu warga setempat yang menggantungkan hidupnya sebagai pembuat gula aren. Meski penghasilan yang diperoleh tidak seberapa, namun tetap ia tekuni.
Dalam sehari, Siti Nurhayati mengaku bisa memproduksi sekitar 8-10 buah gula aren. “Sehari bisa 8-10 buah. Setelah selesai dijual ke warung, satu cetakan itu beratnya sekitar setengah kilo harganya Rp 10.000 ribu. Sehari habisnya bisa 4-5.” Kata Siti.
Gula aren sendiri merupakan pemanis alami yang terbuat dari air nira pohon aren. Sebagai pemanis alami, gula aren memiliki banyak khasiat yang bagus untuk kesehatan tubuh. Proses pembuatan gula aren dimulai dari penyadapan pohon aren terlebih dahulu. Penyadapan biasanya dilakukan dua kali dalam sehari, pagi dan sore hari.
“Sekitar jam 6 pagi itukan simbah bawa pulang air nira, saya sudah siapkan tungku yang apinya sudah nyala. Nanti air niranya disaring terlebih dahulu pakai kalo. Kemudian dimasak kurang lebih selama 4-5 jam tergantung jumlah air niranya” kata Siti Nurhayati ketika ditanya mengenai proses pembuatan gula aren. Dia kemudian melanjutkan.
“Nanti kalau sudah matang lalu dicetak pakai cetakan lingkaran dari bambu. Kemudian dibiarkan sampai dingin, biasanya membutuhkan waktu 1 jam” jelas Siti.
Keahlian dalam membuat gula aren diperoleh Siti Nurhayati dari neneknya. “Dulu belajar dari nenek. Kalau bikin gula aren itu begini…begini. Jadi saya niruin, lama-lama bisa sendiri.”
Proses pembuatan gula aren kadang tidak bisa dilakukan setiap hari. Hal ini dikarenakan tidak setiap hari pohon aren mengeluarkan air nira. Jika sudah begitu, Siti Nurhayati yang sehari-hari membuat gula aren, akhirnya mencari rumput untuk pakan ternak.
“Bikin gula aren kadang nggak bisa setiap hari, karena pohon arennya nggak keluar air terus. Pernah sampai 5 bulan pohon arennya nggak keluar air nira. Akhirnya karena nggak ada yang mau dibuat gula aren saya cari rumput buat pakan ternak, sama cari kayu. Hasilnya kalau dibanding cari rumput, lebih banyak bikin gula aren” Jelas Siti Nurhayati.
Kesulitan lainnya yang dialami seorang pembuat gula aren yaitu ketika musim hujan. “Kesulitannya kalau musim hujan. Mungkin karena kayunya basah jadi air nira yang keluar tidak bisa banyak.” pungkas Siti Nurhayati.
Gula aren hasil dari produksinya sendiri dipasarkan ke warung-warung sekitar Desa Mergolangu. Meski hasilnya tidak pasti, Siti Nurhayati tetap menekuni pekerjaan ini.